Tuesday, October 22, 2019
Home > Berita > Menkominfo sambut baik terbitnya buku Jagat Digital karya Agus Sudibyo

Menkominfo sambut baik terbitnya buku Jagat Digital karya Agus Sudibyo

Suasana peluncuran buku Jagat Digital di Wisma Antara Jakarta, Selasa.

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Agus Sudibyo meluncurkan buku Jagat Digital – Pembebasan dan Penguasaan di Jakarta, Selasa, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyambut baik terbitnya buku itu.

“Selama ini kita masih mengalami kekurangan pegangan akademis ketika harus berhubungan dengan derasnya terjangan digitalisasi.  Pegangan akademis bisa memberikan perspektif lebih luas, sehingga dapat bertindak dengan dasar yang tidak parsial,” kata Rudiantara dalam sambutannya pada acara peluncuran buku itu di Wisma Antara, yang juga dihadiri Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh dan Ketua Umum PWI Atal S Depari.

“Akhirnya kita mempunyai buku yang ditulis oleh orang Indonesia dan berbahasa Indonesia yang berkaitan dengan digital secara ilmiah. Buku ini memang bukan satu-satunya, tapi salah satunya yang memiliki kadar ilmiah yang tinggi,” tambah Rudiantara.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers (2019-2022) yang baru meraih gelar Doktor Desember 2018,  meluncurkan buku buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu, merupakan buku berbahasa Indonesia pertama yang menelaah secara kritis dimensi ekonomi politik digitalisasi.

Agus mencoba melakukan ‘demitologi’ atas kalim yang selama ini begitu lekat dengan media sosial (Medsos), mesin pencari atau situs eCommerce, bahwa medsos bukan semata-mata sarana interaksi sosial, melainkan juga sarana modifikasi, komersialisasi, bahkan sarana surveillance.

“Bahwa tidak ada yang benar-benar gratis dari semua layanan digital yang selama ini dinikmati pengguna internet, medsos, percakapan sosial, surat elektronik, mesin pencari, dan lain-lain,” katanya.

Ia menambahkan, platform mesin pencari atau media sosial bukan hanya telah memberikan cara baru yang lebih efektif dalam kerja jurnalistik dan pendistribusian berita, melainkan juga menghadapkan para pengelola media jurnalistik pada iklim persaingan usaha media yang sangat timpang dan tidak sehat.

Tapi, kata Agus,  lulusan S-1 di UGM dan S2 serta S3 di STF Driyarkara, menegaskan kalau buku ini tidak dimaksudkan menawarkan sikap antipati terhadap fenomena digitalisasi, tetapi lebih ditujukan untuk menstimulus sikap kritis terhadap digitalisasi.

“Buku ini tidak bermaksud untuk bersikap antipati terhadap digitalisasi, tetapi lebih sebagai ajakan untuk bersikap kritis. Sikap ini penting agar kita sebagai bangsa dan masyarakat tidak larut dalam arus digitalisasi yang besar sekali, tetapi harus mampu menangkap, memetakan persoalan, dilema, kontradiski dan paradoks yang mengikuti arur digitalisasi ini,” kata Agus.

Agus menyajikan tulisannya dalam 13 bab. Sesuai dengan bidang yang digelutinya, Agus juga menulis dua bab tentang nasib media massa di era disrupsi digital.

Dengan bertolak pada apa yang terjadi di Inggris dewasa ini, Agus berkesimpulan bahwa masa depan media massa jurnalistik selain tergantung pada kemampuan pengelolanya dalam beradaptasi dengan perubahan, juga sangat tergantung pada kemauan negara untuk membuat regulasi yang menopang daya hidup media massa jurnalistik.

Menurutnya, negara harus hadir menciptakan persaingan usaha yang sehat antara media massa jurnalistik dan media baru seperti media sosial dan mesin-pencari atau agregator konten.

Misalnya jika media massa harus bertanggungjawab atas konten jurnalistik yang mereka sebarkan, media sosial semestinya juga bertanggungjawab atas konten yang mereka sebarkan.  “Jika perusahaan media massa harus membayar berbagai pajak, perusahaan platform media sosial dan mesin pencari semestinya juga membayar pajak,” urainya seperti dilansir berita satu.

Agus Sudibyo adalah peneliti media dan komunikasi, Head of  New Media Research Center Akademi Televisi Indonesia  (ATVI).

Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Fisipol UGM tahun 1998, dan S-2 di Magister Filsafat STF Driyarkara Jakarta pada 2011 dengan tesis tentang Pemikiran Politik Hannah Arendt.

Ia lulus pendidikan S-3 di Program Doktor STF Driyarkara Jakarta Desember 2018 dengan predikat cumlaude, disertasi tentang keadaan darurat (state of exception) dalam negara demokrasi seperti didedahkan pemikir Italia, Giorgio Agamben.

Agus Sudibyo merupakan anggota Dewan Pers Periode 2019-2022 yang terpilih mewakili unsur tokoh masyarakat. Saat ini Agus Sudibyo menjabat sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga & Luar Negeri.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru