Tuesday, October 23, 2018
Home > Berita > “Menjual” Mandra di “Si Doel The Movie”

“Menjual” Mandra di “Si Doel The Movie”

Para pemerah Si Doel The Movie. (tribun)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Ketika banyak anggota masyarakat “meningkat” tensi emosinya di tahun politik ini,  muncul air sejuk yang menyiram rasa rindu ketika bertemu dengan Si Doel DKK di Amsterdam.

Rasa rindu orang banyak muncul karena ingin mengetahui kisah si Doel dan keluarganya dalam filem yang kondang di mancanegara itu.

Akan berakhir seperti apa cerita cinta Doel dan Sarah? Apa yang terjadi pada Zaenab setelah bercerai dari suaminya?  Lalu, apa kabar Maknyak, Atun dan Mandra?

Sutradara Rano Karno amat faham dengan efek kuriositi tentang what next” yang menjadi alur cerita.  Ia pun masih tetap menyimpan rasa penasaran di benak masyarakat karena ia hanya membawa dua jawaban untuk dua rasa penasaran para penonton si Doel.

Menyaksikan film ” Si Doel The Movie”,  yang sedang beredar di bioskop nasional,  penonton akan digiring pada kisah Doel (Rano Karno) setelah ditinggal Sarah (Cornelia Agatha) ke Belanda selama 15 tahun.

Kisah berawal dari Hans (Adam Jagwani) yang selama belasan tahun menghilang tiba-tiba menghubungi Doel (Rano Karno) dan memintanya datang ke Belanda sembari membawa barang-barang khas Betawi.

Saat itu, Doel sudah menikah dengan Zaenab (Maudy Koesnaedi) dan tinggal di rumah Maknyak (Aminah Cendrakasih), bersama Mandra, Atun (Suti Karno) dan putranya–hasil pernikahannya dengan Mas Karyo (mendiang Basuki).

Si Doel setuju dengan permintaan Hans itu dan mengajak pamannya, Mandra, ke Belanda selama seminggu. Ada rasa curiga di benak Doel pada Hans, apa alasan sebenarnya Hans memintanya datang, ada hubunganya dengan Sarah?

Tanpa penjelasan panjang lebar, Hans akhirnya membawa Doel pada pujaan hatinya itu. Sang pujaan yang ternyata sudah membesarkan putranya selama 14 tahun terakhir, Abdullah atau Doel (M. Fahreyza Anugrah).

Saat itulah, Sarah membeberkan alasan kepergiannya sekaligus sebuah keputusan penting pada Doel.

Selama sekitar 1,5 jam, penonton seakan terbawa pada nostalgia serial Si Doel,   terutama di era 90-an, karena para aktor dan peran yang mereka mainkan sama seperti sebelumnya. Kisah yang hadir pun merupakan kelanjutan dari sinetron di masa lalu.

Ada kerinduan pada tokoh yang sudah tak lagi hadir di sana, seperti mendiang Benyamin Sueb, Pak Tile, Pak Bendot dan Basuki.

Rano mengaku tak akan pernah mengganti tokoh-tokoh yang sudah ada. Saat aktor pemeran tokoh itu tiada lagi di dunia, karakter yang mereka mainkan juga akan dibuat berkisah serupa.

Kendati raga mereka tak ada lagi, suara mereka masih bisa penonton dengar sesaat dalam film ini.

Memang, rasa haus pada kisah Doel sepertinya tak akan terpenuhi melalui film ini, karena Rano hanya memusatkan cerita pada kelanjutan kisah Sarah dan Doel serta Zaenab.

“Menjual” Mandra

Namun setidaknya, masyarakat yang merindukan banyolan khas Mandra, sikap kaku Doel, ceplas-ceplos seorang Maknyak dan sosok kalem Zaenab bisa sedikit tersenyum.

Ketika menonton Si Doel, terlihat permainan Mandra yang wajahnya mulai menua itu, memiliki karakter amat kuat.

Efek dramatis yang diperankan Si Doel, Sarah dan Zaenab, selalu menukik ke permasalahan keluarga yang menyentuh aorta kejiwaan dan Mandra hadir memecah kebekuan dengan banyolannya lewat gerak dan dialog.

Ia tampil sebagai penghibur, ia peretas kekakuan pertemuan dua manusia dengan latar belakang kejiwaan yang berbeda, yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Ia mengikis suasana filem yang cenderung menjadi bersifat melodrama.

Mandra  tampil untuk tidak membuat Si Doel The Movie menjadi filem beralur sentimental dan melankolis.

Ia datang untuk memupus dramatisir kesedihan dan emosi penonton dipilah untuk tidak memihak pada tokoh protagonist, yang entah siapa memiliki sifat itu dalam filem itu.

Sutradara Si Doel membuat konflik tetap runtun dan padat dan hingga akhir cerita kesan dalam sanubari penonton adalah: what next.

Ini merupakan kekuatan Si Doel dan penonton pasti penasaran untuk menonton terus lanjutan filem layar lebar ini.  Terlebih setelah Sarah mengatakan, “Saya minta diceraikan.”

Dan satu yang pasti, filem ini akan lain “rasanya”  bila Mandra tidak hadir di situ. Nah untuk filem pertama layar lebarnya Si Doel ini, terkasan bahwa yang pertama diinginkan sang sutradara adalah “menjual” Mandra.  Sebelum “menjual” para peran lainnya.   (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru