Wednesday, July 17, 2019
Home > Berita > Menghadapi  China,  Australia tarik ulur   Oleh Nuim Khaiyath

Menghadapi  China,  Australia tarik ulur   Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Hubungan Australia dan China dibicarakan. (bluesonedaily.com)

MIMBAR-RAKYAT.com (Melbourne) – Tanggal 3 Juni 2019, tiga kapal perang China berlabuh di pangkalan angkatan laut Australia di Sydney.

Banyak segi menarik dari kedatangan ketiga kapal perang China itu:

Pertama, pemerintah negara bagian New South Wales – Sydney adalah ibukotanya – ternyata sama sekali tidak tahu menahu dengan kedatangan kapal-kapal angkatan laut China tersebut.

Kedua, itu terjadi hanya sehari menjelang ulang tahun ke-30 peristiwa berdarah Tian An Men di Beijing tahun 1989.

Namun Perdana Menteri Australia Scott Morrison yang baru sekitar dua minggu terpilih dalam pemilu 18 Mei 2019,  dan ketika itu berada di Kepulauan Solomon di kawasan Lautan Teduh (Samudera Pasifik), secara santai menyebut itu adalah “kunjungan balasan.”

Cuma ada saja yang usil dan bertanya, sekiranya Perdana Menteri, sebagai kepala pemerintahan federal / nasional, memang mengetahui tentang kunjungan tersebut kenapa Menteri Besar Negara Bagian New South Wales, yang wilayahnya dimasuki kepal-kapal Angkatan Laut China itu sama sekali tidak nyana adanya “tamu” asing itu?

Menurut Perdana Menteri Morrison, kapal-kapal perang tersebut baru selesai melakukan operasi kontra perdagangani narkoba di Timur Tengah, namun tidak langsung mengungkapkan bahwa sebelum berlayar masuk ke Sydney,  satuan tugas angkatan laut China itu telah melakukan latihan penembakan dengan peluru tajam di barat Australia, tepatnya di Samduera Hindia Selatan.

Mungkin kurang kerjaan dan usil, sejumlah cendikiawan yang punya minat khusus terhadap sejarah mengingatkan kembali bahwa seratus sebelas tahun silam, 16 kapal perang Amerika yang tergabung dalam apa yang waktu itu dikenal sebagai Armada Putih Raya (Amerika Serikat), melayari laut yang sama seperti yang ditempuh kapal-kapal angkatan laut China awal Juni lalu itu.  Bedanya, armada dari Amerika tersebut disambut gegap gempita oleh sekitar  500-ribu penduduk Sydney.

Juga diingatkan bahwa 70 tahun sebelum armada Amerika itu melakukan pelayaran keliling dunia (jelas untuk unjuk gigi kekuatan laut Amerika kepada umat manusia) sejarawan Prancis Alexis de Tocqueville mengemukakan observasi bahwa Amerika dan Rusia niscaya “akan mengatur nasib dari separuh bumi manusia ini.”

Karenanya tidak mengherankan kalau ada yang bertanya-tanya apakah kunjungan kapal-kapal perang China itu punya arti yang mirip dengan pelayaran keliling dunia armada Amerika itu?

Setelah empat  hari, satuan tugas angkatan laut China itu tarik jangkar dan “cao” (bahasa Hokien yang berarti pergi / hambus) kembali ke pangkalannya di China.

Kabarnya banyak pemilik toko di sekitar pangkalan angkatan laut Australia itu yang senyum manis karena para awak kapal-kapal China tersebut memanfaatkan kesempatan untuk membeli cindera mata guna dibawa pulang ke China.

Patut diketahui bahwa China adalah lawan dagang terbesar Australia selama ini.

Pengaruh China di Australia?

Hiruk pikuk mengenai kunjungan kapal-kapal angkatan laut China ke Sydney itu ternyata membasahkan kembali ingatan seorang anggota Dewan Kotapraja Melbourne, ibukota Negara Bagian Victoria, Australia.

Jackie Watts mengaku menyesal karena tidak jadi mengusulkan mosi kepada rekan-rekan sejawatnya agar ulang tahun ke-30 Peristiwa Tian An Men (tanggal 4 Juni) diperingati di Melbourne.

Kata Jackie Watts, ia yakin sejawat-sejawatnya mendapat “tekanan politik” dari Konsulat China di Melbourne, hingga mereka benar-benar cemas. Karenanya dia membatalkan maksudnya itu

Berbagai laporan yang beredar di Australia menyebutkan bahwa China melarang pembahasan mengenai Peristiwa Tian An Men yang diduga menelan korban jiwa ribuan mahasiswa.

Namun Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne menegaskan “Australia bahu membahu dengan  masyarakat mancanegara” dalam mengakui pernah terjadinya malapetaka 4 Juni 1989 yang menelan begitu banyak korban jiwa secara tragis.

Bulan April lalu Koran Melbourne The Age melaporkan bahwa pemerintah China “membully” satu kotapraja di Sydney agar melarang sebuah perusahaan media milik Australia karena diduga tidak patuh pada garis haluan Partai Komunis China.

Pejabat-pejabat Konsulat China di Sydney  tahun lalu menyampaikan kepada Kotapraja Georges River di Sydney Selatan jika mereka tidak membatalkan kesepakatan untuk mensponsor organisasi media bahasa China terbitan Australia – Vision China – maka alamat hubungan antara Negara Bagian New South Wales dan Beijing akan terciderai.

Ada macam-macam peristiwa lainnya yang mencerminkan “ampuhnya” pengaruh China di Australia.

Namun, di sisi lain, Australia tegas menolak keikutsertaan Huawei  dalam proyek G5-nya.

Huawei adalah raksasa telekomunikasi  China yang didirikan tahun 1987 dan berkedudukan di Shenzhen.  Ada kecurigaan di sementara kalangan, termasuk di Australia, bahwa Huawei, kalau pun secara resmi bukan  merupakan perpanjangan lengan Partai Komunis China namun masih punya tali-temali dengan Badan Intelijen Negara China. Huawei membantah tudingan atau anggapan ini.

Menurut Huawei, perusahaan tersebut beroperasi di 170 negara; memiliki 180,000 karyawan dan melayani lebih dari sepertiga penduduk dunia.

Huewei membangun jaringan telekomunikasi, memproduksi hp dan memasok pelayanan awan dan lain-lain.

Dalam triwulan kedua tahun ini Huawei mengungguli Apple dalam pengiriman hp. Sekitar 50-juta hp telah dikirimkan ke berbagai penjuru dunia.

Sikap Australia itu, yang mirip dengan tindakan Amerika, diacungi jempol oleh sejumlah politisi di Inggeris yang ingin agar pemerintah kerajaan Britania Raya itu meniru sikap Australia.

Invasi Senyap

Menjelang akhir tahun lalu, Profesor Clive Hamilton dari Universitas Charles Sturt  (di Australia) diberitahu pada saat-saat terakhir oleh penerbitnya Allen & Unwin, bahwa mereka tidak akan jadi menerbitkan buku garapannya berjudul  “Silent Invasion” (Invasi Senyap), meski kontrak sudah dijalin.

Menurut cendikiawan terkemuka di Australia itu, berdasarkan nasihat hukum yang diterima menyebutkan pemerintah China boleh jadi akan menggugat ke pengadilan penerbit Allen & Unwin atas tuduhan mencemarkan nama baik China.  Pihak penerbit ternyata cuak.

Buku tersebut merupakan kupasan komprehensif mengenai cara-cara pemerintah China menggunakan pengaruhnya di Australia – bukan sekadar di bidang media dan politik, melainkan juga di berbagai bidang lainnya.

Apa yang mendorong Prof.  Hamilton untuk meneliti dan kemudian menulis buku yang menggeramkan China itu?

Menurut Profesor John Fitzgerald, penulis buku berjudul “Big White Lie: Chinese Australians in White Australia”, suatu pemandangan yang sempat terpantau oleh Prof. Hamilton mendorongnya untuk melakukan riset mengenai “pengaruh” China di dan terhadap Australia.

“Tahun 2008,” katanya, “Clive Hamilton sedang berada di Gedung Parlemen di  ibukota Canberra, ketika obor Olimpiade (Beijing) diarak melalui berbagai kota di Australia (sebelum akhirnya tiba di Beijing dan digunakan untuk menyulut Obor Olimpiade 2008).

Prof. Hamilton sangat bingung dan gempar menyaksikan sekelompok kecil pengunjuk-rasa pro Tibet (yang dikuasai China) dilabrak begitu saja oleh para pelajar / mahasiswa China yang berang dengan protes tersebut.

Timbul pertanyaan di benak Prof.  Hamilton, dari mana gerangan para pelajar / mahasiswa tersebut datang?  Kenapa mereka begitu agresif?  Dan ada hak apa mereka memberangus kebebasan demokratik pihak lain untuk melancarkan protes?  Ternyata pihak berwenang tidak melakukan suatu apa pun terhadap kejadian tersebut, dan apa yang telah disaksikan Prof. Hamilton ternyata membekas dan melekat di benaknya.

Kemudian dalam tahun 2016, masih menurut Prof. Fitzgerald,  ada yang mengungkapkan bahwa pengusaha-pengusaha kaya China yang punya sangkutaut dengan Partai Komunis China, telah menjadi donor / penyumbang terbesar (keuangan)  kepada kedua partai politik terbesar di Australia (Partai Liberal dan Partai Buruh).

Prof. Hamilton menyadari bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang berkembang di Australia, dan ia memutuskan untuk menyelidiki  pengaruh pemerintah China di Australia.  Apa yang ditemukannya sangat menggemparkan.  Dari mulai bidang politik sampai ke bidang budaya, dari real estate (property) sampai ke pertanian / peternakan, dari perguruan tinggi sampai ke serikat buruh, dan bahkan di sekolah-sekolah dasar di Australia ini,  Prof. Hamilton menemukan bukti-bukti meyakinkan adanya penyusupan Partai Komunis China terhadap Australia.

Operasi penyuntikan  pengaruh yang canggih menjadikan kaum elit Australia sebagai sasaran dan kelompok-kelompok tertentu dari kalangan masyarakat diaspora China-Australia telah digalang / mobilisasi untuk membuka jalur ke para politisi, membatasi kebebasan akademik, mengintimidasi mereka yang kritis, mengumpulkan informasi demi kepentingan badan-badan intelijen China, dan protes di jalanan menentang kebijakan pemerintah Australia  (yang dianggap merugikan kepentingan China).

Bukanlah sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan kalau dikatakan Partai Komunis China dan demokrasi  Australia bergerak dari arah berlawanan namun berada dalam koridor yang sama  (hingga tubrukan bisa terjadi).  Partai Komunis China bertekad harus menang, sementara Australia pura-pura tidak melihat kenyataan atau kemungkinan ini.

Begitulah, buku Prof.  Hamilton,  masih menurut Prof.  Fitzgerald,  adalah sebuah hasil penelitian seksama yang mendalam, dan dilengkapi dengan argumentasi yang kuat, hingga menjadi suatu tela’ah yang mencemaskan tentang ancaman kian meningkat terhadap kebebasan demokratik di Australia  yang selama ini dianggap aman-aman saja oleh berbagai pihak di benua ini.

Memang, begitu diakui oleh Prof.  Fitzgerald, China merupakan faktor penting bagi kemakmuran Australia,  namun dalam bukunya “Silent Invasion”  Prof. Hamilton bertanya:  berapa harga kedaulatan Australia sebagai sebuah bangsa?

Prof.  Fitzgerald menganjurkan agar siapa saja yang benar-benar ingin memahami bagaimana China menarik negara-negara lain ke dalam lingkungan pengaruhnya, wajib membaca buku  Silent Invasion.

Ini, katanya lagi, adalah buku penting demi masa depan Australia.  Cobalah mengurai tali temali jaringan pengaruh China di Australia,  niscaya akan terburai semua jaringan global operasi pengaruh China .  Begitu disampaikan Prof. Fitzgerald.

Ketergantungan Australia Pada China

Tidak bisa dipungkiri bahwa “demi kemakmurannya” maka Australia memang sangat bergantung pada China.

Statistik-statistik akan menunjukkan sejelas-jelasnya bagaimana China merupakan lawan dagang terbesar Australia.

Bahan ekspor utama Australia ke China adalah biji besi dan batu bara senilai lebih dari $120 miliar (dolar Australia) setahun – sebanding 30% dari semua ekspor Australia ke luar negeri  (Badan Siaran Australia – ABC).

Bukan itu saja, melainkan juga Australia memasok “jasa-jasa pendidikan” senilai $32,4 miliar, sama seperti  8% dari seluruh ekspor negara ini (pemasukan ini bersumber dari para mahasiswa China yang menuntut ilmu di Australia).

Itulah bahan-bahan baku dan jasa-jasa pelayanan yang dipetik China dari Australia.

Dalam kurun waktu 2017-18, China merupakan lawan dagang terbesar Australia yang menyumbangkan $194, 6 miliar dolar dalam impor-ekspor.  Jumlah ini lebih besar dari gabungan nilai perdagangan Australia  di satu pihak, dengan  Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai “hanya”  $147,8 miliar (ABC).

Namun tidak semua kalangan elit menaruh syak-wasangka terhadap China.

Di antaranya mantan Perdana Menteri Australia Paul Keating yang belum lama berselang, dengan tegas, keras (dan bahkan kasar) menertawakan mereka yang dianggapnya menghembus-hembuskan “bahaya” dari pengaruh China terhadap Australia.

Ejekan Paul Keating ini besar kemungkinan ada sangkut pautnya antara lain dengan peringatan yang pernah dikeluarkan  Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Australia (Australia Inteligence and Security Organisation – ASIO) Duncan Lewis yang mengaku cemas terhadap pengaruh yang bersumber dari sumbangan-sumbangan dari China kepada partai-partai pemerintah dan partai oposisi Australia.

Namun Duta Besar China untuk Australia, menanggapi kecemasan itu, mengatakan bahwa itu adalah upaya untuk mengobarkan kepanikan terhadap China.

Ia mengatakan sama sekali tidak berdasar segala daya upaya untuk “menghangatkan kembali sinyaliran basi”. “Sama,” katanya,”seperti memanaskan nasi dingin.”

Sementara mantan Perdana Menteri Paul Keating menegaskan, apa pun pandangan orang tentang China, nyatanya China adalah sebuah negara besar.

China selamanya memang sebuah negara besar dan kini ekonominya adalah yang kedua terbesar di dunia, dan dalam waktu dekat akan menjadi ekonomi yang terbesar di dunia.  Kalau politik luar negeri Australia tidak mempertimbangkan kenyataan ini, maka niscaya kita memang pandir, kata Paul Keating.

Sebuah kasus menarik di Selandia Baru

Negara yang suka dicemooh karena jumlah dombanya lebih banyak ketimbang manusianya ini, ternyata ibarat “kecil-kecil cabai rawit.”

Bukan saja Selandia Baru kini dinobatkan sebagai “negara yang sistem pemerintahannya paling Islami” di dunia namun Selandia Baru juga sempat membuat banyak orang tersentak.

Pasalnya adalah kasus seorang penduduk negara itu asal Korea, Kyung Yup Kim.

Seorang mantan Menteri Kehakiman Selandia Baru pernah dua kali mengamarkan agar Kyung diekstradisi ke China, namun kuasa hukum Kyung memohon kepada pengadilan agar meninjau kembali keputusan sang menteri karena alasan “khawatir Kyung tidak bakalan mendapat perlakuan adil di pengadilan China.”

Hakim Pengadilan Banding Selandia Baru, Helen Winkleman mengatakan, sistem hukum pidana di China beda dari di Selandia Baru, dan di China, katanya mengutip laporan-laporan yang menurutnya dapat dipercaya,  seseorang seperti  Kyung dapat dihadapkan pada perlakuan yang buruk.

Sementara Selandia Baru terikat oleh kewajiban internasional agar jangan mengembalikan seseorang ke yurisdiksi  (seperti di China) di mana ia dapat mengalami risiko disiksa,  atau di mana orang tersebut tidak akan menjalani pengadilan secara wajar.

Jelas saja kalau ucapan seperti ini memancing keberangan di Beijing.

Jurubicara Kementerian Luar negeri China Geng Shuang mengatakan kasus ini sudah berlarut selama 10 tahun.

“Demi menegakkan keadilan dan memberi keadilan kepada para korban (Kyung dituduh melakukan pembunuhan), kami berharap pihak Selandia Baru dapat menangani kasus ini secara adil dan mengekstradisi Kyung ke China sesegera mungkin.

“China sangat menjunjung dan memajukan hak asasi manusia.  Tata peradilan China menjamin secara gigih hak-hak para tersangka,” kata Geng.

Awalnya Selandia Baru setuju untuk mengekstradisi Kyung ke Shanghai, pasca ditemukannya mayat seorang perempuan berusia 20 tahun (yang tewas karena ter/atau dicekik)  di sebuah ladang. Namun Kyung membantah segala tuduhan telah melakukan pembunuhan.

Kuasa hukum Kyung mengaku gembira dengan putusan Pengadilan Banding Selandia Baru itu.

“Putusan itu punya arti penting sangat dalam yang niscaya akan menggema ke seluruh peradilan di dunia,” katanya.

Permohonan ekstradisi yang pertama diajukan China kepada Selandia Baru dilandasi keinginan China untuk memperoleh dukungan internasional agar para tersangka korupsi yang telah melarikan diri ke luar negeri dikembalikan ke China, dan di tengah unjukrasa gegap gempita di Hong Kong menentang RUU yang dimaksud untuk mengamandemen undang-undang yang akan memungkinkan para tersangka diekstradisi ke China Daratan.

Kata sementara pengamat di Selandia Baru, banyak negara Barat yang enggan menandatangani perjanjian ekstradisi dengan China karena alasan rekam jejak China yang kurang bagus di bidang hak asasi manusia dan proses pengadilan pidananya yang kurang transparan.

Agar diketahui,  selama ini ratusan ribu Muslim (Uyghur) berada dalam apa yang oleh China disebut sebagai “Kamp Penataran Ulang”.  Berbagai laporan menyebut bahwa juga ikut dikurung adalah Muslim-Muslim lain dari misalnya Kazakhstan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan reaksi, namun China tetap bersikukuh.

Wallahu a’lam.  (Nuim Khaiyath / menulis untuk Mimbar Rakyat.com dari Melbourne)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru