Sunday, May 31, 2020
Home > Cerita > MENGAPA KITA PERLU POSITIF?

MENGAPA KITA PERLU POSITIF?

POSITIF itu bukan tidak mau membaca fakta dan data. Positif itu bukan mengaburkan rasa sakit atau mengabaikan rasa takut. Positif itu adalah melihat segala sesuatu apa adanya, menerima kejadian tanpa syarat dan mengambil pelajaran atas kejadian demi kejadian.

Dalam kondisi wabah corona ini dunia diguncang oleh rasa tidak berdaya yang dalam. China adalah negara adidaya baru. Pertumbuhan ekonomi moncer dan kehidupan sosial bergerak solid lepas dari sistem komunis yang mereka anut. Mereka mengambil yang terbaik dari sistem ekonomi kapital dengan pemerintahan absolut terkontrol.
Rakyatnya diperbolehkan mengakumulasi kekayaan tanpa batas, tapi tata negara kehidupan dan rakyat adalah domain pemerintah. China berhasil membangun jati diri dan mekanisme pertahanan yang solid dengan memblok semua akses sosial media dan sistem yang berpeluang menyusupi ketata pikiran sosial masyarakatnya.

Percaya diri yang membumbung tinggi mengenai keadidayaannya,kontan runtuh ketika Virus Covid-19 mengoyak kehidupan mereka. China dan Hongkong adalah dua negara yang tunggang langgang menghadapi virus ini diawal tahun 2020.

Sementara negara lain, termasuk Indonesia melihat tragedi itu sebagai penonton yang seolah-olah imun terhadap serangan virus tersebut. Trump sempat mengatakan bahwa itu virus China.

Memberi kesan bahwa virus itu nggak akan laku ditempat lain. Indonesia bangga sekali karena belum ditemukan kasus Virus dan rakyatpun sangat kegeeran berkata Virus C19 takut sama Orang Indonesia. Seolah-olah Indonesia kebal bencana. Karena saat itu orang-orang sedang sibuk ngosek rumah yang kebanjiran air hitam dan itu meberikan rasa imun terhadap penderitaan bernama virus C 19.

Amerika saat ini sedang masuk pada perdebatan panjang antara Trump dan para kepala negara bagian.

Amerika yang awalnya alergi betul dengan C 19, sekarang sedang bergulat akrab skin to skin dengan sang Virus. Beberapa kota sudah menjadi zona merah, dan TV dipenuhi kisah tragedi keluarga yang tiba-tiba kehilangan anggota keluarga begitu saja. Mirip mimpi di siang bolong.

Tragedi kemanusiaan terbesar setelah perang dunia ke dua adalah wabah C 19 ini. Manusia tiba-tiba seperti diingatkan bahwa mereka adalah spesies yang sama; human being. Karena tiba-tiba saja ribuan orang mati begitu saja tanpa bisa dielakan. 37 ribu orang mati sementara 700 ribu orang sudah terpapar virus yang belum ada obatnya ini.

Drama terbesar sekarang mengambil panggung di Italia dan Spanyol. Dua negara Eropa ini tersaruk-saruk membendung serangan virus. Tapi kematian 800 orang sehari jelas melumpuhkan mental siapapun yang harus mengurus keadaan ini. Manusia dibawa jauh menekuk ego dan bertanya, Tuhan kami salah apa.

Menteri menangis, menteri bunuh diri.

Rakyat di Indonesia punya ketakutan lebih komplek. Entah alasan geososial politik apa, disini orang lebih takut lapar dari pada virus. Ajakan mengisolasi diri dianggap seperti ajakan bunuh diri. Para penggoreng politik tahu sekali psikologis ini.

Begitu permintaan lockdown dikumandangkan, para badut politik mulai memborbadir berita dengan romantisme penderitaan lain. Lapar. Tapi memang Indonesia adalah negara dengan rakyat yang kelaparan. Masif. Lapar pangan, lapar kebahagiaan. Sekarang dengan virus C 19 ini, rasa takut atas kelaparan dan penderitaan merambah bukan hanya pada mereka yang sudah terbiasa lapar. Bahkan mereka yang duduk disosial atas tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan, sumur uang mereka sumbat.

Tak ada lagi aliran. Semua ketakutan. Bukan takut Virus, tapi takut kehidupan nyaman yang selama ini seperti sebuah hak, tiba-tiba terampas.

Status-status yang membangun ketakutan selalu memiliki pemirsanya. Karena itu memanjakan otak yang tidak mau melihat keadaan dengan apa adanya.

Lebih baik jangan mati lapar, soal Virus itu urusan Tuhan karena kita beriman, begitu kira-kira suara yang mengiang dikepala. Social distancing adalah hak istimewa para menengah atas, karena kaum bawah tak punya pilihan, Mati karena lapar atau mati karena virus.

Mati karena lapar itu kemungkinan 100%, sedang mati karena virus hanua kemungkinan 2%, begitu kira-kira jargon yang dihembuskan oleh badut-badut politik.

Kemudian pilihannya apa untuk negara-negara yang rakyat laparnya lebih banyak, haruskan kita menyelamatkan perut atau kita memang harus menghadapi virus dan membayar harganya?. Disinilah kecerdasan dalam mengolah pikiran dan menghadapi dilema kehidupan diuji. Hanya orang-orang yang dipilih oleh Tuhan yang mampu mencerna dan bersikap berani mengelola dilema C 19 vs Lapar.

Disinilah firman Tuhan berperan untuk memberi sedikit pencerahan,

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah/2: 155)

Menjadi positif adalah meyakini bahwa ketakutan ini adalah kenyataan yang ada dan memang

Allah inginkan kita rasakan. Tidak perlu lari dari ketakutan. Karena baik si Kaya maupun miskin saat ini akan merasakan apa yang harus mereka rasakan atas nama takdir Tuhan.

Lantas apa pilihan kita? Pertama sesuai ayat diatas: SABAR. Apa itu sabar?

Sabar adalah usaha untuk terus bersikap positif.

Cara bersikap Positif?
Pertama terima saja bahwa saat ini kita memang diberi kesulitan bernama virus C 19. Efek domino virus C 19 adalah lapar dan bangkrut.

Kedua, lihat permasalah apa adanya.

Ketiga, pelajari cara mengatasi kesulitan. Baik kesulitan karena serangan virus atau kesulitan tidak bisa makan.

Keempat, lakukan upaya apapun sebagai ikhtiar

Kelima, berserah pada semua kehendak Allah dengan penuh rasa tawakal bahwa setiap kesulitan ada kemudahan.

Keenam, memang kejadian ditakdirkan UNTUK kita. Jadi ambil semua tanggung jawab untuk menerima dan syukuri apa yang ada. Nafas, keluarga, tubuh, pikiran, dsb. Semua ini adalah nikmat besar bagi yang memahami.

Wallahualam.

(Penulis: Vibrayani Arkhama Bihara/istiqom/ds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru