Tuesday, December 10, 2019
Home > Editorial > Mendadak Gila

Mendadak Gila

SIAPA saja anggota legislatif yang lolos ke Senayan (DPR-RI), dan siapa pula yang berhak duduk di DPRD provinsi, kota/daerah? Pengumuman tentang itu  baru akan dilakukan pekan pertama bulan Mei 2014 mendatang. Namun berdasar hitungan sendiri para calong anggota legislatif, atau mengacu pada hitungan cepat, sejumlah caleg sudah tahu “nasib” mereka.

Ada yang  sudah sumringah, tetapi tidak sedikit yang mendadak salah tingkah sampai lupa ingatan alias mendadak gila. Ada yang meminta kembali uang yang pernah diberikan. Ada pula yang meminta agar kompor gas pemberiannya dibalikkan lagi. Bahkan ada yang berani meminta kembali sumbangan yang pernah diberikan untuk pembangunan masjid. Kegagalan meraih kursi, sebagai wakil rakyat, telah membuat sebagian caleg stress.

Harapan banyak calon anggota legislatif (caleg) berubah menjadi bencana. Ini bukti bahwa sejumlah caleg  hanya siap menang, tetapi tidak siap kalah. Rumah sakit jiwa kedatangan tambahan pasien korban politik, bahkan para tengga yang sempat berbunga-bunga karena mendapat hadiah, jadi repot diminta mengembalikan apa yang pernah diterima.

Sebagai contoh apa  terjadi di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Karena merasa tidak lolos sebagai anggota DPRD, Andi Farida Soewandi, caleg Demokrat di Kota Parepare itu meminta kembali  puluhan warga di Kelurahan Batang Rappe, Kecamatan Bacukiki, mengembalikan kompor gas yang pernah dibagikannya.

Sementara di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar,  panitia renovasi Masjid Al Aqsha, kebingungan menghadapi sejumlah caleg gagal yang minta kembali uang sumbangan yang pernah mereka berikan. Ada pula caleg yang nekad melarikan kotak suara, seperti terjadi di TPS 2 Dusun  Cokocek, Bierem, Tambelangan, Jawa Timur, karena merasa tidak mendapat suara.

Apa yang terjadi merupakan kegagalan perekrutan. Partai politik (parpol) peserta pemilu gagal merekrut caleg, dan caleg sendiri tidak siap menghadapi segala kemungkinan. Yang dibayangkan dan yang terbayang hanya kemenangan, duduk sebagai wakil rakyat dengan pakaian necis, berdasi dan berjas, serta berbagai fasilitas mulai dari gaji hingga mobil.

Angan-angan akan posisi dan bergelimang uang membuat para caleg tidak sungkan-sungkan keluar uang dan barang, memberi hadiah kepada para pemilih, meski harus berutang. Hasilnya, begitu sadar gagal mengapai angan-angan, para caleg yang sudah gelap mata  kehilangan keseimbangan, stress, dan membuat tingkah macam-macam.

Para korban pemilu diperkirakan akan terus bertambah hingga penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) benar-benar berakhir. Parpol asal para caleg stress, bahkan gila, akibat gagal meraih target, harusnya tidak lepas tangan. Selamatkan mereka, selamatkan kader-kader yang telah berjuang demi dirinya dan partai.

Jangan biarkan korban ambisi dalam berpolitik terus berjatuhan. Ke depan kita berharap persaingan dalam politik, baik pemilu legislatif dan nantinya pemilihan presiden (Pilpres), 9 Juli 2014, tidak berdampak negatif bagi siapa pun. Mudah-mudahan semua siap kalah dan siap menang, dan caleg yang telanjur stress tidak dibiarkan kehilangan masa depan. Selamatkan mereka, karena mereka punya tanggung jawab dalam keluarga, atas anak dan istri/suami, dan lainnya.***

Email: kumpulankawanlama@yahoo.com

Catatan: Tilikan atau opini ini disadur dari berbagai sumber.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru