Sunday, November 17, 2019
Home > Cerita > Mencintai itu Menyebalkan Cerpen Andi Dasmawati

Mencintai itu Menyebalkan Cerpen Andi Dasmawati

Ilustrasi - Cinta itu Menyebalkan. (sekarapriliamaharani)

Mencintai itu menyebalkan! Kau akan sibuk mengingat-ingat semua kebersamaan setelah dia tak lagi di hadapanmu. Kemudian kau akan merindukannya, meneleponnya, seolah hal terbaik di muka bumi pada hari itu adalah bepergian dengannya.

Aku terduduk di sofa, memandang tanpa semangat pada novel berwarna tosca nan tebal. Belum selesai terbaca. Bukan kebiasaanku sebenarnya, meletakkan bacaan tak kelar.

Cangkir merah berisi teh hangat yang biasanya menggoda malah berbalik membosankan.  Pagi belum lama menjelang dan kawasan tempat tinggalku sunyi senyap. Sesekali ada kendaraan melintas pelan tapi tak cukup riuh untuk menjauhkan dia dari ingatanku. Mungkin sejak lahir dia memang dekat dengan kata rindu hingga memiliki sinergi kuat untuk selalu lekat.

“Mengapa kau tidak tinggal saja dengannya? Biar kau tak sibuk kangen melulu,” Kad menertawakanku di perpustakaan kemarin siang.

“Apa kata ibuku kalau aku bergelimang dosa siang malam bersamanya?” aku kaget atas saran sahabat karibku yang cukup menjengkelkan ini.

“Lha, siapa yang menyuruhmu tinggal bersama?” Kad malah menatapku bingung.

Benar-benar aneh. Aku ingin sekali mengetuk kepalanya dengan benda apa saja di hadapanku. Tapi itu tak kulakukan. Mungkin aku akan menyikut rusuknya sekeras kemampuanku.

“Kau baru saja ngomong begitu dan menyangkalnya. Heran deh.” Aku berbalik menatapnya penuh kemenangan. “Meski nilai akademikmu bagus, aku kini meragukan IQ-mu.”

“Maksudku, menikah saja dengan Rio-mu itu.” Ia menggelengkan kepala seolah menegaskan aku memiliki IQ sama payahnya dengan penilaianku padanya!

Tinggal bersama dengan Rio? Kadang terpikir juga olehku. Apa kami siap? Persahabatan kami lekat, rekat, dan sangat rapat. Bahkan saat-saat romantis kami kadang porak poranda digantikan oleh gelak tawa. Seperti bukan sepasang kekasih. Aku sering meledeknya dengan gadis-gadisnya sebelum aku, dan ia akan menahan senyum.

“Kamu itu lucu, Sarah. Banyak sekali hal menyenangkan bersamamu,” ia akan mengusap wajahku yang masih tertawa-tawa.

Kau tahu kafe The Level di seberang pantai? Minumannya dikemas begitu menggiurkan. Aku menyukai sofa  beledu berwarna merah di ujung sebelah kanan pintu masuk. Ketika datang untuk ke sekian kalinya, semua perabotnya telah berganti. Di sana, dia menyematkan cincin emas berwarna kuning di jariku. Aku sebenarnya menyukai warna putih tapi saat itu kami tak punya banyak waktu untuk memilih.

Sejak itu, aku tak pernah menanggalkan cincin pemberiannya. Namanya  cukup panjang terukir manis di bagian dalamnya. Dari artikel yang kubaca entah di mana, hal terbaik memiliki kekasih adalah kau dapat berkirim kabar sesering kau mau lewat telepon. Bukan lagi bercakap sepanjang Sungai Nil dengan teman-teman membahas sepatu bersol setinggi penggaris, atau jaket modis yang dapat melindungi dada dari kerlingan lelaki di sepanjang koridor perpustakaan kampus.

“Untuk apa pakai jaket terus?” Rani tidak menyukai tampilanku dengan jaket.

“Aku tidak suka mata cowok di kampus. Mata genit!”

“Harusnya kamu bangga diperhatikan. Aura perempuanmu keluar.”

“Busettt! Aku memusuhi banyak cowok karenanya,” aku tergelak tanpa sedikitpun perasaan senang. Aku memang tak ramah untuk hal satu ini. Aku membenci Max yang menerobos pintu kaca di ruangan khusus baca milik kampus tanpa rasa malu.

“Sarah, sebelum kuliah kita kelar, aku ingin ke Thailand, Filipina dan Indonesia. Aku sudah memohon berkali-kali dan tidak ingin dengar penolakanmu lagi,” tangannya yang besar bergerak ke mana-mana seolah ia seorang dosen menerangkan di depan kelas.

Kau terlalu percaya diri, Mate. Aku tak akan membuang waktu duduk ketakutan berjam-jam dalam pesawat bersamamu. Aku membatin kesal. Lihat dirimu, betapa besar dan penuh percaya diri, aku menyambungnya. Cuaca super dingin dalam kamar kaca itu mulai meruapkan bau tak segar. Aku bersikap terlalu sopan dan tetap tersenyum. Rasa mual di perutku terasa bergolak.

Max memusuhiku setelahnya. Apa peduliku?

***

Kopi kental dan amat pahit sangat tidak bersahabat dengan kepalaku. Setiap kali belajar meminumnya, aku harus menimpalinya bergelas-gelas air putih. Mer paling hebat membelokkan mobilnya ke Starbucks, seolah-olah itu jalan satu-satunya kembali ke kampus.

Perempuan modis dan berkulit putih, sahabatku itu, akan berdiri di kaunter, memesan kopi kental sambil menyebut namaku. Jadilah pesanan kopi itu tiba dengan label Sarah yang malang. Tepat di meja depanku, ada Ron, cowok beraksen aneh dan memiliki reputasi hebat di kampus sebagai playboy papan catur.

“Hai,  kamu pasti teman Kad. Aku main bulutangkis semalam di kawasan City Square bareng dia,” ia telah berdiri menjulang tigapuluh centimeter dariku.

“Oh ya. Dia masih di fakultas,” jawabku pendek.

Aku tidak respek dengannya. Pertama kali rasa sebalku hadir ketika aku dan Michael berbicang di teras fakutas dan Ron menyapa sambil menjatuhkan pulpennya tepat menimpa ujung kakiku. Sikapnya jelas terbaca. Ia menebar pesona di mana saja, dengan siapa saja. Ia juga berbicara dengan Rika.

“Dari ratusan mahasiswa Indonesia, cuma Sarah yang tidak ramah.” Aku bertemu dengan Ron lagi di tempat foto copy. Ia tersenyum dan aku berpura-pura tidak melihatnya. Apa pula urusanku hingga harus membalas senyumnya?

Sekali waktu, Adam menjejeri langkahku saat menuju kantin. Kampus seluas satu kecamatan di negeriku selalu meletihkan meski cuma sekadar makan siang.

“Kau dekat sekali dengan Kad. Dia pacarmu.” Adam bukan bertanya. Nadanya menuduhku.

“Dia sahabatku. Aku ke sini bukan untuk memacari orang,” jawabku tersenyum.

“Orang bilang kau pacaran! Kadang aku berkaca. Apa yang salah hingga kau tidak mau denganku?”

“Kad sahabatku. Dia bukan tipeku!” Kampus yang berbukit-bukit membuat napasku hampir putus.

“Semua orang bukan tipemu! Aku penasaran mau kenal pacarmu yang orang Jakarta itu!” Adam geram.

Nasi briyani di restoran Arab tak jauh dari fakultasku pasti nikmat saat-saat lapar. Musiknya juga berbau padang pasir. Tak heran pada jam makan siang, selalu dipenuhi puluhan mahasiswa. Pemiliknya orang Singapura dan beristri dua. Hebatnya, kedua istrinya akur satu sama lain dan bekerja di tempat yang sama.

“Pacarmu pasti bangga padamu. Kau cantik.” Adam berkata hampir putus asa. Parahnya, satu sisi pun dalam hatiku tak terbersit rasa kasihan.

“Tidak juga. Ia bahkan tak pernah bilang apa-apa,” aku tertawa sembari meneguk sirup dingin tak bernama. Warnanya merah dan aku memang tak pernah mengetahui terbuat dari bahan apa. Bisa jadi, aku terlalu praktis menjadi orang hingga hal-hal kecil seolah tak pernah penting untuk dicermati. Kecuali mungkin bila cairan itu tercampur radioaktif kiriman dari Chernobyl atau kopi Vietnam mengandung sianida seperti minuman bermasalah di berita-berita online.

“Sampaikan salamku untuk kekasihmu, Sarah. Dia laki-laki paling beruntung,” Adam tersenyum arif.

“Pasti kusampaikan. Dia baik pada semua teman-temanku, Adam.”

Aku memang menceritakan segalanya pada kekasihku. Baru kemarin, ketika mengantarnya ke bandara aku memberitahu bahwa ia bukan hanya kekasih. Ia seorang sahabat, abang lelaki, dan teman berbicara yang sempurna. Aku tentu tak mengatakan, betapa sebalnya harus diomeli untuk hal-hal paling sederhana. ***

Jakarta, November 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru