Sunday, January 19, 2020
Home > Cerita > Mei Lie

Mei Lie

“Saya orang China, tapi jiwa saya Indonesia,” kata wanita yang ada di depanku sambil mengulurkan tangan, sesuatu yang tak diduga.

“Nama saya Mei Lie, tapi teman-teman mengenal saya dengan nama Meysa,” tuturnya lagi.

Benar-benar tak disangka, karena sebelumnya dalam beberapa kali pertemuan tidak sengaja, gadis itu terkesan angkuh, tidak mau kenal. Diam-diam saya antipati padanya, sok cantik.

Pertama kali kami bertemu dalam perut pesawat Garuda nomor penerbangan GA 0890 Jakarta – Beijing. Meski duduk bersebelahan, di bangku bagian tengah, saya 21E dan dia 21F, namun tak satu katapun keluar dari mulutnya dalam penerbangan selama 6,5 jam atau semalaman itu. Setiap coba diajak bicara, jawabannya hanya senyum, manggut, atau menggeleng.

Semula saya mengira dia gagu, tapi anggapan itu buyar ketika dia bicara dengan pramugari dalam bahasa Inggris dan pada kesempatan berikutnya dalam bahasa Mandarin.

“Oh, dia rupanya orang China,” pikir saya.

“Ni hau ma?,” kata saya terucap begitu saja. Tapi juga hanya senyum yang tersunging ketika saya menanyakan apa kabar, salah satu kalimat dalam bahasa China yang saya tahu.

“Ah, apa peduli saya. Apa perlunya beramah tamah dengan dia?”

Tapi entah kenapa, sejak pertemuan tak sengaja itu kami berikutnya kerap jumpa hampir sepanjang tour di China. Ketemu di Forbidden City, komplek kerajaan terbesar di dunia yang pernah digunakan para kaisar China dari berbagai dynasty. Esoknya, secara tak terduga, jumpa lagi di The Greast Wall, tembok China di Badaling, yang dibangun kaisar China pertama Qing Shi Huang.

Beberapa hari kemudian kami juga berjumpa di Shanghai, ketika saya dan rombongan menaiki Televisi Tower yang amat terkenal di kota itu. Sepekan kemudian saya dan dia malah kembali duduk bersebelahan di pesawat Garuda membawa kami dari Guangzhou International Airport menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Serba kebetulan yang sangat tidak menyenangkan, karena sepanjang perjumpaan kami tidak pernah bertegur sapa. Hingga Garuda GA 0899 Boeing 737-800 mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tak sepatahkan pun kami bicara. Jika ada keperluan lewat di depannya, di antara bangku yang sempit, paling saya manggut, pertanda ingin lewat.

* * *

“Saya orang Indonesia keturunan China,” katanya lagi masih mengulurkan tangan. Saya tak percaya. Mengusap mata, melihat ke belakang, jangan-jangan ada orang di belakang saya yang dia ajak bicara. Dada saya terasa menggelegak, apa maksud perempuan angkuh, warga keturunan ini berlagak sok akrab.

Tiba-tiba dia kembali berucap, “Maaf, bisa kita bersalaman.”

“Oh,” kata saya sekenanya.

Dia tersenyum. Saya baru sadar, ternyata senyumnya manis sekali, menawan.

“Eh, ehem. Bagaimana perjalanan ke China dulu. Saya pikir anda bukan orang Indonesia,” kata saya sambil menyambut uluran tangannya.

“Saya berpikir anda telah melupakan pertemuan kita dalam perjalanan ke China. Maaf waktu itu saya tidak menyenangkam,” katanya, lagi-lagi tersenyum.

“Lalu sekarang mau ke mana. Ke Medan apa ke Pontianak,” kata saya coba menebak, dengan pertimbangan di dua kota itu cukup banyak WNI keturunan Tionghoa.

Tersenyum sesaat, kemudian coba memandang lurus ke mata saya. Dada saya berdegub, sambil membatin, berani juga nih cewek.

“Kenapa harus ke kota itu. Sama dengan anda, saya mau ke Jambi. Saya bukan China Kalimantan atau China Medan. Orangtua saya lahir dan bermukin di Jambi. Saya pindah ke Jakarta, mengikuti kakak untuk kuliah. Apa penjelasannya cukup?”

Wuih, kok makin berani. Saya tak habis pikir, kenapa dia mendadak begitu akrab.

“Saya sudah tahu nama kakak. Eh nama Anda. Tidak usah heran, saya ini calon intelijen. Saya ingin seperti kakak, eh anda,” katanya lagi, cukup mengejutkan saya.

                                                                     * * *

“Maaf ya, saya duluan. Ada yang menjemput,” katanya, lalu mengiring porter yang mendorong troli berisi koper dan barang-barang bawaan.

Sebetulnya saya tak ingin berpisah secepat itu, ingin terus berdekatan seperti di dalam pesawat dari Jambi-Jakarta. Tapi apa hak saya. Saya juga gengsi numpang di kendaraan yang menjemputnya.

Terasa ada yang hilang. Jujur saja, meski baru mengenalnya agak dekat dalam perjalanan Jakarta-Jambi dan sebaliknya, rasanya saya sudah begitu mengenal dia. Tapi saya tidak punya keberanian menawarinya ketemu lagi. Kedongkolan yang pernah saya rasakan padanya, kini berubah jadi harapan.

“Apa tidak ada yang ketinggalan,” kata saya.

“He hee, he. Yang ketinggalan, ya kakak, eh anda. Dah, duluan ya,” katanya, melambai.

Tidak ada ucapan sampai ketemu lagi. Dia juga tidak memberikan alamat, kecuali menyebut Jatinegara. Apakah saya jatuh cinta. Apakah secepat itu? Lagi pula apa dia mau menerima cinta saya?

Ingin rasanya mengejarnya, setidaknya menemaninya menuju kendaraan yang menjemputnya. Tapi koper saya belum juga muncul. Ada rasa menyesal, kenapa koper kecil saya harus dimasukkan ke bagasi?

Saya tak berharap bakal ketemu Mei Lie lagi. Tapi ketika saya keluar dari ruang kedatangan menuju Damri, saya melihat dia berdiri di dekat deretan kursi tunggu Bus Damri. Memandang ke arah saya.

“Mana mobilnya. Apa belum datang?”

“Saya suruh pulang duluan, saya mau naik Damri bersama anda. Bolehkan?”

“Lo, apa nggak repot? Saya tidak langsung pulang, tapi ke kantor dulu,” kata saya penuh tanda tanya, tak tahu apa maunya.

“Gak masalah, dari Blok M kita naik taksi. Kakak, eh anda turun di kantor, saya langsung pulang ke Jatinegara,” katanya.

Saya makin tidak mengerti dengan gadis bermata sipit, berkulit kuning, berparas manis ini. Dulu ketika kami bertemu di pesawat menuju Beijing, kemudian di beberapa kota di negeri tirai bambu itu, dia begitu angkuh. Saya merasa dilecehkan, terhina. Kini tingkahnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Perjalanan ke Jambi merupakan babak baru perkenalan kami. Dia begitu menyenangkan. Sepanjang perjalanan banyak bercerita, apa saja. Di Jambi dia pun ngotot mengajak saya mampir ke rumah orang tuanya. Sayangnya saya tak bisa, karena padatnya tugas di kota itu. Saya juga merasa surprise ketika dia ngotot mengubah jadwal tiketnya, agar kami bisa kembali berbarengan ke Jakarta.

“Ah, ini mungkin hanya sementara. Esok atau lusa bisa jadi dia kembali cuek, pura-pura tak mengenal saya.”

* * *

Lamat-lamat terdengar pembicaraan beberapa orang dengan istri saya. Sekali-sekali terdengar suara beberapa gadis, anak kami, menyebut-nyebut namaku. Kadang terasa ada remasan di jari-kari dan telapak tangan.

“Insya Allah beberapa hari mendatang bapak sudah sadar sepenuhnya. Tinggal pemulihan,” kata seorang laki-laki, mungkin dokter.

Ingin rasanya membuka kelopak mata, tapi tak kuasa. Mulut pun tak bisa digerakkan, jari tangan, lengan, paha, terasa kaku. Di mana saya?

Beberapa saat terdengar telapak kaki menjauh, mulai sunyi. Saya ingin memanggil Mei Lie, anak-anak kami, tapi tak bisa.

Semua sudah pergi, Saya mulai menyadari sedang dalam perawatan. Saya coba membuka mata, ada cahaya begitu tajam. Kembali saya pejamkan. Lamat-lamat terdengar langkah masuk ke kamar. Siapa dia, dokter, perawat, atau salah satu dari anggota keluarga.

“Silakan masuk. Saya dan anak-anak memang selalu bergantian berjaga. Kami tidak tega meningalkan papinya anak-anak sendirian.”

Saya merasa ada dua pasang mata menatap lurus ke wajah saya. Saya berusaha menggerakkan telapak tangan. Sepertinya berhasil, tetapi tak ada yang coba menggenggam. Saya berusaha membuka kelopak mata, kali ini berhasil bersamaan terdengarnya jeritan kecil.

“Papiii! Dok, perawat! Suami saya!”

Langkah tergopoh-gopoh terdengar mendekat. Sebuah tangan memeriksa detak nadi di lengan. Saya tersenyum, kemudian berusaha membuka mata selebar mungkin. Mei Lie terlihat ragu, kemudian di meremas jari-jari tangan saya. Saya kembali menutup mata, Mei Lie berteriak.

“Papi, papi. Papi tidak pingsan lagi kan?”

Saya kembali membuka mata, tersenyum, saat bersamaan saya melihat senyum Mei Lie, yang tak akan pernah saya lupakan. Senyum seorang wanita keturunan China yang melahirkan 5 anak kami yang sangat cinta dan bangga terhadap Indonesia. Bahkan dua anak kami ikut mengharumkan nama negara dan bangsa di tingkat dunia.

“Senyum mami masih seperti dulu,” kata saya.

Mei Lie seolah merajuk, lalu menciumi pipi saya, hampir tidak pernah henti.

“Oh, maaf. Ini ada teman mami, dia selalu menyemangati mami,” kata Mei Lie.

Sepertinya saya mengenal wajah itu. Ya, dia teman akrab Mei Lie saat kuliah, Nurhalimah, wanita berkerudung yang memiliki pandangan menyejukkan. Saya tersenyum, dia membalasnya.

“Ingat, papi sudah janji hanya Mei Lie yang ada di hati papi. Jangan pernah berpaling ke lain hati,” kata Mei Lie, tersenyum. Dia hanya menggoda, karena  dari dulu kami memang suka saling menggoda.

Tepat pada tanggal 14 Mei, bersamaan dengan hari pernikahan kami,  saya meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah dengan cinta, cinta dari Mei Lie dan lima anak kami.

                                                                        ***

I Love You mami,” bisik saya ke telinga Mei Li di suatu sore, di teras rumah kami, ketika hendak menjalani kebiasaan kami, menyusuri  jalan lingkungan di pagi buta.

Saya  dan Mei Lie kembali pada rutinitas. Setiap  bepepangan tangan kami  saling pandang, kemudian tersenyum. Tak jarang tertawa terbahak-bahak. Jika tak malu, saya kerap meneruskan dengan mencium  salah satu pipinya.
                “Masa lalu yang manis ya Pi. Semoga tak pernah terhenti,” kata Mei Lie.
                Lebih seperempat  abad Mei Lie mendampingi saya. Kami bukannya tak pernah melalui jalan susah, tetapi akhir-akhir ini hidup terasa makin indah. Kami tak pernah bosan jalan bersama, meski hanya sekadar naik busway keliling kota, naik bus reot bermusik pengamen, atau menelusuri trotoar yang tidak rata.
                Kami kerap terperosok, tapi itu alasan bagiku mengelus betis Mei Lie, menunjukkan perhatian, memperlihatkan betapa sayang saya padanya. Beberapa pasang mata tak jarang memandang kami curiga, ada yang sinis, kemudian melengos.
                 “Mungkin mereka berpikir kita sedang pacaran. Mereka gak tahu kita sudah punya anak lima,” kata Mei Lie.
                Saya tersenyum. Tiba-tiba saja kaki saya terperosok, terduduk. Saya memegang dada kiri. Mata berkunang-kunang, kemudian gelap.

“Papi, papiiiiii,” sayup-sayup saya mendengar teriakan Mei Lie.***

 

Jakarta, Mei 2012

Cerpen ini dikutip dari Kumpulan Cerpen Sembilan Wartawan, atas persetujuan penulis. 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru