Friday, November 22, 2019
Home > Berita > Medan tempur lebih aman ketimbang tempat tidur?    Oleh Nuim Khaiyath

Medan tempur lebih aman ketimbang tempat tidur?    Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Tentara Australia - High military suicide highlighted. (sos)

MIMBAR-RAKYAT.com (Melbourne) – Bayangkan laporan berikut yang diterbitkan di Australia baru-baru ini: “Ribuan warga Australia berdinas dalam ketentaraan (laut, darat dan udara) antara tahun 2001 dan 2016.”

Sekadar itu saja sebenarnya tidak apa-apa.

Namun statistik berikut sungguh menggemparkan!

“Dari jumlah tersebut, 56 gugur di medan laga sementara 373 lainnya tewas akibat bunuh diri!”

Apakah ini berarti “lebih baik mati akibat tangan sendiri daripada tusukan belati lawan? Wallahu a’lam.

Sebuah laporan yang disusun oleh komisi yang dibentuk pemerintah pusat Australia menyimpulkan “risiko bunuh diri di kalangan personil Pasukan Pertahanan Australia telah berlipat dua, sementara sejumlah jenis gangguan jiwa / mental nampaknya teredam ketika seseorang sedang menjalani tugas-tugas ketentaraan, dan kemudian meluap ke permukaan setelah kembali pulang atau meninggakan dinas untuk kembali menjadi warga sipil.”

Memang, temuan kajian yang dilakukan cukup menggemparkan: satu dari tiap-tiap empat personil militer Australia melaporkan pernah terlintas di pikirannya untuk bunuh diri setelah kembali ke kehidupan sipil.

Payah masuk akal, namun kenyataannya menurut statistik secara umum di Australia, maksudnya di kalangan warga sipil, saban hari 8 orang di benua ini bunuh diri, dan bunuh diri merupakan penyebab kematian utama di kalangan lelaki berusia antara 14 dan 44 tahun.

Pemerintah mengaku, “mengutamakan program tentang kiat-kiat ampuh guna mencegah perbuatan nekat seperti itu dan memberikan dukungan kepada sanak keluarga korban bunuh diri.”

Penelitian di Australia dan juga di Amerika mengungkapkan ada pola bahwa para veteran (lelaki) hampir dua kali lipat lebih cenderung melakukan bunuh diri ketimbang kalangan lelaki sipil.

Di Australia memang belum banyak diketahui tentang kalangan veteran perempuan. Namun di Amerika veteran perempuan hampir 250 kali lebih cenderung mati akibat bunuh diri ketimbang kalangan perempuan sipil.

Di Australia jumlah kematian akibat bunuh diri di kalangan lelaki umum / sipil adalah tiga kali lebih tinggi dibanding kalangan perempuan umum/sipil. Apakah ini berarti perempuan secara mendasar lebih gigih dan teguh jiwanya ketimbang lelaki? Wallahu a’lam.

Pada hal selama ini di mata masyarakay ada semacam anggapan, bahkan mitos, bahwa menyandang tugas tempur adalah beban paling berbahaya, paling penuh kekerasan dan merupakan tugas terpenting dalam ketentaraan. Satuan-satuan tempur acap dipahami berada di garis terdepan dalam peperangan dan merupakan “ujung tombak” dan karenanya paling rentan dan terpapar.

Penelitian-penelitian ilmiah yang kian gencar belakangan ini di Australia mengisyarakatkan pada hakikatnya tidak ada apa yang dikenal sebagai “garis terdepan” dalam peperangan selama puluhan tahun ini. Yang ada hanyalah “kontra pemberontakan / pengacau keamanan” – mirip-mirip perang gerilya.

Namun setiap yang bertugas di “zona peperangan” (seperti Afghanistan) – apakah dia prajurit tempur atau bagian medis, tetap saja rentan terhadap kekerasan dan ikut menyaksikan kekerasan atau akibat-akibat kekerasan (tembak menembak dengan pemberontak atau pengacau) dan terpapar trauma).

Jadi, begitu menurut hasil penelitian di Australia, menuding bunuh diri di kalangan personil militer gara-gara terpapar pertempuran sebagai penyebabnya bukan saja berarti mengukuhkan dongeng (mitos) bahwa bertempur lebih berbahaya atau hanya prajurit yang paling teguh yang ampuh yang akan selamat, akan menafikan faktor-faktor lain yang mungkin lebih cenderung sebagai penyebab perbuatan nekat.

Hasil penelitian yang ada sekarang ini mengisyaratkan bahwa lelaki muda yang kurang dukungan psikologis dan memang punya riwayat rentan depresi (murung) dan pengguna narkoba adalah di antara yang paling berisiko melakukan bunuh diri.

Hampir separuh dari prajurit lelaki yang kembali ke kehidupan sipil mengalami gangguan jiwa / mental. Penelitian serupa di Amerika juga menyimpulkan bahwa personil militer mengalami depresi lima kali lebih tinggi ketimbang warga sipil.

Berikut besimpulan-kesimpulan yang mengejutkan:

Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian di kalangan mereka yang berusia di bawah 35 tahun – dan paling banyak tentara di Australia masuk dalam kelompok usia ini.

Namun pihak militer Australia kini menjelaskan: lelaki yang berdinas penuh dalam ketentaraan atau dalam pasukan cadangan, 50% lebih tipis kemungkinannya akan bunuh diri daripada lelaki-lelaki (sipil) lainnya. Namun, begitu kembali ke kehidupan sipil (demobilisasi) ceritanya lain lagi: tingkat bunuh diri di kalangan veteran lelaki di bawah usia 30 tahun adalah dua kali lipat dibanding lelaki sipil (yang tidak pernah berdinas dalam kietentaraan) lainnya. Veteran di atas usia 30 tahun juga 18% lebih cenderung melakukan bunuh diri ketimbang rata-rata lelaki lain.

*Secara keseluruhan, tingkat kematian (lelaki dan perempuan) akibat bunuh diri di Australia dalam kurun waktu 2015 adalah 12,6 orang per 100,000 warga. Ini merupakan tingkat tertinggi dalam lebih 10 tahun ini.

*Data statistik paling akhir di Australia menunjukkan bahwa kematian akibat bunuh diri di Australia dalam tahun 2015 mencapai 3,027.

*Artinya lebih dari delapan orang saban hari bunuh diri di Australia.

*Tingkat bunuh diri di kalangan lelaki (umum) di Australia adalah tiga kali lebih tinggi dibanding perempuan. Namun demikian, dalam 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan bunuh diri di kalangan perempuan (sipil) di Australia.

*Tingkat bunuh diri di kalangan bumi-putra dan penduduk Pulau Selat Torres adalah lebih dari dua kali lipat tingkat nasional. Dalam tahun 2015, tingkat bunuh diri di kalangan mereka adalah 5,2% dari seluruh kematian di kalangan mereka, sementara di kalangan penduduk non-bumi-putra hanya 1,8%.

Juga menarik adalah kesimpulan bahwa dari tiap-tiap satu kematian akibat bunuh diri di Australia, hampir 30 lainnya sempat mencoba berbuat nekat, namun tidak berhasil dan selamat.

Itu artinya sekitar 65,300 percobaan bunuh diri terjadi di negara yang cukup maju dan makmur ini.

Ada catatan menarik: penulis pernah menanyakan kepada seorang lelaki kelahiran Indonesia yang kini berdinas dalam ketentaraan Australia. Waktu itu ia telah berpangkat sersan (pangkat lumayan tinggi):

1.       Apa cita-citanya? – Ingin agar dikerahkan ke medan laga (Afghanistan).

2.       Apa alasannya? – Bonus operasionalnya sangat menggiurkan.

3.       Apakah dia yakin prajurit kulit putih yang berpangkat di bawah sersan ikhlas memberi hormat kepadanya? – Peduli amat! Pokoknya dia wajib beri hormat kalau berjumpa / berpapasan.

Pujangga Inggeris Alfred Lord Tennyson pernah menggoreskan kalimat-kalimat berikut:

Theirs not to make reply, Theirs not to reason why, Theirs but to do and die.

Artinya kira-kira:

“Bukan tugas mereka (prajurit) memberi jawaban; bukan tugas mereka mengajukan alasan (berdalih / bersilat lidah?); tugas mereka hanyalah melaksanakan dan gugur.”

Wallahu a’lam.# (Banyak bahan dikutip dari ABS – Biro Statistik Australia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru