Wednesday, March 20, 2019
Home > Berita > Masuk mol terbesar Chadstone Melbourne seolah dalam Atrium Senen

Masuk mol terbesar Chadstone Melbourne seolah dalam Atrium Senen

Pusat perbelanjaan Chadstone di Melbourne. (caterinahrysomallis)

MIMBAR-RAKYAT.com (Melbourne) – Setelah beberapa saat berjalan dalam mol terbesar di Melbourne, Chadstone, perasaan seperti masuk ke dalam Atrium Plaza Senen, karena hampir seluruh pengunjung bahkan para pelayan berwajah Asia.

Pengujung dan pedagang berwajah “bule” kelihatan sedikit, selebihnya adalah warga China, India dan Melayu.

Ternyata ini merupakan representasi penduduk Melbourne dewasa ini dan bagi pendatang baru ini tentu menimbulkan rasa ingin tahu mendalam.

“Memang begitu yang terjadi di kota ini dan kota besar lainnya di Australia.  Pendatang baru terus berdatangan dan penduduk lama kulit putih semakin sedikit,” kata Nurendro SS, pekerja dari Indonesia yang bermukim di Oakleigh East, Melbourne.

“Penduduk asli Aborigin pun semakin sedikit bahkan saat ini warga asli itu banyak yang merupakan keturunan,” kata Nurendro SS, ketika bersantap siang di Nene Chicken di Chadstone, awal minggu ini.

Berdasarkan sensus 2016, status kota berpenduduk terbanyak diprediksi beralih dari Sydney ke Melbourne, yang sudah dihuni 4,4 juta jiwa, berselisih 400 ribu jiwa dengan Sydney. Kini jumlah penduduk menetap di Melbourne sudah mencapai hampir lima juta jiwa.

Masyarakat Australia berasal dari berbagai latar belakang budaya, etnis, bahasa, dan agama, dan fitur ini membentuk masyarakat Australia modern.

Kaum aborigin dan penduduk pulau-pulau di Selat Torres, seperti termaktub dalam catatan kepustakaan, telah hidup di Australia selama puluhan ribu tahun.

Kebanyakan orang Australia adalah imigran atau keturunan imigran yang datang ke negara itu selama dua ratus tahun terakhir dari lebih dari 200 negara.

Bahasa yang paling umum digunakan di Australia adalah Bahasa Inggris, dan agama yang paling banyak dianut adalah Kristen, meskipun bahasa dan agama lainnya juga umum.

Populasi Australia masih tumbuh dengan kokoh sebesar 1,6 persen per tahun meskipun terjadi pelambatan jumlah pendatang asing pada akhir 2017.

Angka demografi terbaru yang dirilis Biro Statistik Australia (ABS) menunjukkan populasi Australia tumbuh sebesar 388.000 jiwa sepanjang 2017 menjadi total 24,8 juta.

Jumlah total pendatang asing meningkat 240.400 jiwa selama setahun dan menyumbang sekitar 62 persen dari peningkatan tersebut, namun trennya menunjukan pelambatan.

Dihuni 25 juta orang

Jumlah penduduk Australia melewati angka 25 juta pada Selasa (7/8/2018), lapor ABCnews, seperti diproyeksikan ABS, dengan pertambahan penduduk dari luar negeri lebih tinggi dari angka kelahiran.

Menurut penghitungan ABS, jumlah penduduk Australia bertambah satu (1) orang tiap 83 detik, dan jumlah 25 juta jiwa itu dicapai jam 11 malam pada 7/8/18 itu.

Tidak mungkin untuk mengetahui siapa yang akan menjadi warga negara ke-25 juta tersebut, namun pengamat politik George Megalogenis mengatakan kemungkinan orang itu adalah mahasiswa atau pekerja trampil perempuan muda asal China.

“Dua kelompok migran terbesar di Australia sejak awal abad ke-21 adalah dari China dan India.” kata Megalogenis dalam program The World.

“Jadi semakin banyak jumlah warga China dan India dari kedua negara tersebut yang menjadi warga negara,” katanya.

Megalogenis menambahkan, sejak 2005, lebih banyak orang dari luar negeri yang menjadi warga negara dibandingkan dari pertumbuhan alami, jadi lebih hanyak migran dibandingkan bayi yang baru lahir.

“Cerita terbesar di abad ke-21 di Australia adalah kisah migran,” katanya.

Ia menambahkan, jumlah migran bersih dari luar negeri – jumlah kedatangan dikurangi yang meninggalkan Australia – saat ini mencakup 62 persen dari pertumbuhan penduduk dengan kelahiran alami mencakup 38 persen.

“Statistik sebelumnya adalah ketika terjadi kedatangan migran untuk menambang emas (gold rush) di tahun 1850-an,” kata Megalogenis.

China pendatang terbanyak

Bila dilihat dari jumlah kedatangan, lapor CBA, maka warga yang lahir di China merupakan kelompok migran terbesar yang datang ke Australia, jumlahnya mencapai 15,8 persen dari total mereka yang datang.

Ketika dibagi per kategori, mahasiswa internasional merupakan jumlah kedatangan terbesar, dan China menjadi negara terbesar dari sisi tempat kelahiran mahasiswa internasional yang ada di Australia.

Jinghua Liang (20) mahasiswi University of Melbourne, dilaporkan media, mengatakan dia tertarik dengan masyarakat multikultur Australia dan gaya hidupnya.

“Saya kira hal pertama yang saya bayangkan mengenai sekolah di Australia adalah udara segar, langit biru, dan makanan yang enak, dan ibu saya mengatakan mengenai emu, kanguru, sebagai hal yang menarik.” kata Liang.

“Orang-orang bisa menikmati hidup mereka, bukan sekedar bekerja mencari nafkah. Mereka menikmati akhir pekan dan liburan. Saya merasa kehidupan di Australia lebih santai,”ujar mahasiswi asal negara Tirai Bambu itu.

Liang mahasiswi bidang jurnalistik ini terkejut mengetahui bahwa warga negara ke-25 juta Australia besar kemungkinan adalah perempuan asal China.

“Banyak teman saya memiliki kemampuan bahasa Inggris bagus sekali dengan aksen Australia, namun banyak yang tidak mau tinggal di sini.” katanya, sambil menambahkan bahwa banyak mahasiswa yang memilih pulang kembali ke China karena alasan budaya.

“Saya lebih memilih untuk tinggal di sini (kalau bisa). Saya suka dengan lingkungan multikultur, akan bagus bagi saya sebagai penulis atau wartawan, karena saya memiliki lebih banyak kebebasan dan lebih banyak cerita yang bisa ditulis,” jelasnya.

Bila Liang nantinya menetap di Australia, dia akan bergabung dengan semakin banyaknya perempuan muda asal China yang berpendidikan yang memutuskan menetap di negara itu.

Megalogenis melanjutkan, setiap kali ia membaca statistik, ia terkejut, karena populasi warga kelahiran China di Australia dominan perempuan.

“Mereka adalah kelompok yang muda dan sangat berpendidikan, pertanyannya adalah laki-laki asal mana yang akan menikahi mereka?,” ujarnya.

Megalogenis memperkirakan pernikahan antara perempuan China dengan pria asal India, akan semakin banyak terjadi di masa mendatang, dan menjadi kecenderungan berlanjut dalam sejarah kependudukan Australia.

Ini disebabkan karena migran asal India kebanyakan adalah pria.

“Salah satu keberhasilan besar di abad 19 di Australia adalah tidak merebaknya sektarianisme,” katanya.

“Pernikahan campuran terbesar di abad 19 yang menciptakan apa yang kita lihat sebagai para tetua di Australia sekarang adalah pria protestan asal Inggris, dengan perempuan Katolik asal Irlandia.”

“Saya cenderung melihat bahwa pernikahan campur antara perempuan China dan pria India dalam 20, 30 tahun mendatang merupakan versi baru dari apa terjadi dulu, dan bisa mempersatukan antar latar belakang etnis,” katanya.

Bagi mahasiswa minoritas lain lagi alasannya. Nurlaila dari Jakarta mengatakan, ia memilih melanjutkan kuliah di Melbourne, karena kota itu dekat secara geografis dengan Indonesia.

“Dekat dengan Jakarta. Selain itu jurusan yang saya pilih yang paling baik ada di sini,” kata ibu muda dengan dua anak itu.

Santap siang di Nene Chicken, Chadstone yang berlantai dua itu, terasa mengesankan.

Pandangan menyapu ruangan, hanya satu-dua orang berkuit putih, suasana lingkungan mirip di Atrium atau mol lain di Jakarta.  (catatan ar loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru