Saturday, October 21, 2017
Home > Cerita > Maafkan, Jika Saya Tak Sempurna

Maafkan, Jika Saya Tak Sempurna

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

“Maafkan, jika saya tak sempurna. Saya pamit untuk tidak kembali. Kita sudah tidak cocok, saya pergi untuk selamanya. Lagi pula tidak ada yang kita pertaruhkan. Kita tidak punya keturunan. Anda tak lagi mempedulikan saya. Kita tak lagi saling membutuhkan. Sudah tak sejalan.”

Surat, atau persisnya catatan singkat itu tergeletak di atas meja makan, ditindih gelas minuman favorit saya. Mungkin suami saya berpikir surat itu akan cepat saya ketahui, karena memang meja makan merupakan tempat pertama yang kerap saya datangi setiap pulang kerja.

“Ah, kuno.” Kata singkat itu meluncur begitu saja dari mulut saya.

Suami saya setiap merajuk memang kerap melakukan sikap yang saya anggap aneh. Dia bisa tiba-tiba menelpon saya dengan kata-kata penuh cemburu. Lain waktu dia datang dengan muka cemberut karena saya tak kunjung mengikuti keinginannya agar saya mendirikan shalat.

Pamit dengan meninggalkan secarik kertas memang baru pertama kali ini dia lakukan. Namun saya anggap itu ulah kekanak-kanakan. Saya sangat yakin, nanti malam atau paling lambat besok sore dia sudah ada lagi di rumah. Itu telah beberapa kali terjadi, walau tidak sering.

Saya tak khawatir sama sekali. Bagi saya apa yang saya lakukan semua baik-baik saja. Bekerja, berangkat pagi pulang petang, suatu hal yang normal. Saya tidak harus mengikuti seluruh keinginan suami, harus begini harus begitu. Ini bukan zamannya lagi istri mengikuti semua keinginan suami.

***

Telah sepekan berlalu, suami saya tak kunjung pulang. Telpon genggamnya tak pernah lagi bisa dihubungi. Yang cukup mengagetkan, ketika saya telpon ke kantor tempat dia bekerja, saya mendapat jawaban bahwa suami saya sudah mengundurkan diri.

“Masa ibu tidak diberi tahu. Bapak kan sudah mundur, tak bekerja di sini lagi,” kata suara operator di ujung telepon sana.

Saya mulai menyadari, ternyata kali ini suami saya tidak main-main. Dia benar-benar ingin meninggalkan saya. Tiba-tiba rasa sepi menggelayuti perasaan. Saya terduduk loyo di kursi panjang di depan televisi. Suara yang keluar dari penyiar televisi tak lagi saya mengerti. Apa yang dia laporkan?

“Kemana Mas Aulian?

“Ah, apa yang telah terjadi dengan dirinya? Kenapa dia senekad itu. Berhenti bekerja dan pergi entah kemana, bak ditelan bumi….”

Rasa sedih menjalar ke relung hati. Tidak tahu harus berbuat apa. Kemana dan kepada siapa lagi harus bertanya. Ini kejajadian kali pertama bagi saya. Mas Aulian, suami saya, tak pernah berbuat seperti ini sebelumnya.

Saya menyesal telah melecehkannya, tidak mau melaksanakan shalat seperti permintaannya.

“Kita sudah berumur. Ibu telah 41 tahun dan saya 43 tahun. Harusnya kita melaksanakan kewajiban kita sebagai umat Islam. Bukannya masih sibuk dengan kehidupan dunia. Dirikanlah shalat,” katanya suatu waktu dengan lembut.

“Ah, shalat itu cukup doa. Karena shalat adalah doa,” kata saya ketus.

Suami saya tampak terpana. Namun sesuai namanya, dia terlihat tetap tenang. Tidak marah…..

Aulian Basira Ghayda Fattana, demikian nama lengkap Mas Aulian. Konon nama dengan empat suku kata itu dalam bahasa Arab berarti “Pemimpin laki-laki  berparas tampan yang lembut, baik hati dan menggunakan kecerdasannya dengan bijaksana.”

Ya, suami saya memang boleh dibilang tampan. Berambut ikal, berjampang, dan berjenggot. Dia juga lembut, baik hati, cerdas, dan biajaksana. Karena itulah saya tidak menyangka dia berubah tidak sabar dan pergi entah kemana.

“Apakah saya sudah keterlaluan?,” tiba-tiba pikiran yang melintas di benak saya terucap begitu saja.

Ya, mungkin saya sudah sangat keterlaluan. Sudah melenceng jauh dari kesempatan kami ketika sepakat menikah 16 tahun lalu.

Keputusan kami untuk menikah terhitung kilat. Baru akrab pada bulan Februari, setahun kemudian pada bulan Mei kami resmi berikrar di depan penghulu. Kini saya dan suami menghadapi pertikaian. Rumah tangga kami di ambang kehancuran.

***

“Seseorang memang menanggung dosa-dosa mereka sendiri, tetapi sebagai kepala keluarga saya turut berdosa karena membiarkan istri murtad.” Inilah kalimat terakhir dari Mas Aulian, sebelum dia pergi menghilang entah kemana.

“Saya tidak bisa membiarkan kemungkaran terjadi dalam keluarga. Berbuat syirik karena menyekutukan Allah atau meminta kepada selain Allah adalah dosa besar. Syirik dosa yang amat besar dan bentuk kezaliman sangat besar terhadap Allah. Karena itu segeralah bertaubat,” kata suami saya ini sepekan sebelumnya.

Mas Aulian sebelum pergi memang berubah cerewet. Itu terjadi setelah dia mengetahui saya tidak lagi mau melaksanakan shalat, puasa. Pernah dia naik pitam, yang sempat membuat saya panik karena tak pernah terjadi sebelumnya, ketika dia mengetahui saya tidak mandi junub.

Menghadapi semua perubahan itu saya tak terlalu peduli. Sejak mengenal dan bergabung dengan organisasi bernama Dwipantara  yang artinya “kepulauan antara”, saya mendapatkan dunia baru. Saya merasa dihargai, karena seorang professor pun selalu menunduk sopan bila beremu dengan saya. Saya aktif mengikuti setiap pertemuan.

Setiap awal pertemuan selalu dimulai dengan lagu “wajib” , lagu yang pernah dipopulerkan salah satu grub musik ternama di zamannya. Kami tidak menyanyikan lagu kebangsaan, karena berpendapat itu tidak perlu.

Kelompok kami merasa tidak berkewajiban melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan lainnya, karena semua itu adalah kebudayaan Arab. Begitu pula dengan pelaksanaan haji, tak perlu diikuti, karena hanya memperkaya Arab Saudi.

Saya memang pernah mendengar bahwa Arab Saudi tak pernah menarik biaya dari jamaah haji atau umrah dari manapun asalnya. Bahkan Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang tidak menarik airport tax bagi yang datang dan pergi. Namun apa yang saya dapat dalam kelompok yang baru saya masuki telah menutup semuanya. Saya  merupakan anggota aktif dan setia.

Kami memiliki cara sendiri dalam beribadah. Antara lain dengan mendaki bukit atau gunung, membasuh muka bahkan madi di sebuah air terjun yang mengalir deras. Berdoa di kaki lembah air terjun pada malam hari, sambil meminta pada bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.

Upacara di air terjun itu kerap kami lakukan di salah satu lembah di Jawa Barat. Begitu pula dengan mendaki bukit. Kami tak takut menuruni jurang, untuk sampai di air terjun, meski tubuh gemetar karena dinginnya udara malam.

“Saya tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan dirimu? Kamu telah berubah 180 derajat. Saya tak lagi mengenal dirimu.” Itu ucapan suami saya suatu waktu.

“Saya terus terang merasa tertipu. Ketika kita baru saling mengenal kamu rajin shalat, puasa. Bahkan kita kerap shalat berjamaah. Kenapa sekarang berubah total,” kata suami saya lagi.

Ya, saya memang telah berubah. Pernikahan kami tidak lagi nyaman. Masa manis hanya kami jalani selama 5 tahun, setelah itu saya dan Aulian jalan sendiri-sendiri.

Saya kembali bergengamanan tangan erat bila bersaalaman dengan laki-laki. Apalagi dengan perempuan. Tak mengindahkan lagi larangan dari suami yang tak membolehkan itu dilakukan. Bahkan saya tak merasa sungkan harus duduk berdempeten dengan pria, atau berfoto ria dengan sejumlah laki-laki.

“Salaman antara lawan jenis cukup dari jauh saja dengan bersidekap tangan. Tak boleh bersentuhan. Itu haram. Apalagi duduk berdempetan dan foto-fotoan dengan bukan muhrim,” katanya. Tapi saya tak lagi peduli.

Saya berjilbab bila kerja. Tapi dalam kegiatan lain tanpa menutup kepala, menggeraikan rambut dengan bebas. Termasuk ketika melakukan berbagai kegiatan rutin dengan kelompok kami, mendaki gunung, menuruni lembah menuju air terjun. Paling kami, laki perempuan, mengenakan peci batik tanpa tutup di bagian atasnya dengan rambut bebas melambai ke mana-mana.

Tak ada shalat 5 waktu, puasa, zakat, dan kewajiban lain, meski kami selalu mengaku beragama Islam. Bagi kelompok kami, semua agama sama. Karena itu kenapa harus repot-repot melaksanakan shalat? Kenapa harus menyiksa diri dengan puasa. Apalagi sampai membuat anak-anak menjadi pucat pasi karena menahan lapar? Kenapa harus membayar zakat?

Meski belum pernah melakukannya, saya setuju dengan sikap beberapa teman sesama perempuan di perkumpulan kami yang berpendapat bahwa berzina itu tidak haram, asal suka sama suka.

“Kan saling memuaskan dan menyenangkan,” kata sejumlah teman saya. Meski satu diantara pelaku zina itu kini terserang virus HIV AIDS diusia tuanya, akibat gonta ganti laki-laki. Padahal dia memiliki suami.

***

“Saya senang dan suka dengan tubuhmu. Semampai dengan dada dan pinggul padat, sintal. Saya selalu tergoda karena senyummu.” Itu ucapan yang kerap terlontar dari Aulian bila ada maunya. Akhir-akhir ini saya ingin mendengar ucapan itu lagi. Apalagi kami sudah terpisah setahun lebih.

Harapan untuk bertemu Mas Aulian kini terbuka. Saya mendapat kabar dari salah seorang rekan bekas tempat dia bekerja bahwa suami saya kini berada di suatu tempat di NTT. Dia berada di Kota Waiwerang,  Pulau Adonara, di Kabupaten Adonara, Flores Timur.

“Kami bertemu di Kupang. Dia terlihat segar bugar, hanya kulitnya terlihat agak hitam. Katanya karena sering berjemur di pantai,” tutur sahabat suami saya itu. Diapun memberikan alamat persisnya dimana Aulian tinggal.

Saya coba mencari info tentang Waiwerang. Melalui google saya mendapatkan banyak informasi. Pulau Andora dikenal sebagai Pulau Bunga. Untuk sampai di tempat itu dari Kupang kita harus terbang ke Larantuka atau dari Kupang  ke Maumemre. Maumerea – Laranatuka (4 jam) dengan pesawat kecil. Kemudian dari Larantuka melanjutkan perjalanan dengan kapal motor ke Waiwerang, kota terbesar di Pulau Adonara.

Saya tidak habis pikir kenapa suami saya mau tinggal di Pulau Andora, pulau yang penduduknya mayoritas beragama Katolik? Apa yang dia cari di tempat yang jauh dari keramaian itu?

Saya tidak yakin dia mau jauh-jauh datang  ke sana untuk menikmati wisata alamnya. Dari hasil  googling saya mengetahui Pulau Andora memiliki keindahan alam, gunung hingga pantai. Pulau itu memiliki  luas wilayah 509 km2 dengan titik tertinggi 1.676 m, serta kota terbesar adalah Waiwerang.

Pulau yang dibatasi  Laut Flores di utara dan Selat Lowotobi di barat  itu banyak memiliki pantai. Keunggulan lain, penduduknya ramah, bermukim di desa-desa yang makmur,  tertata secara tradisional. tempat wisata bersih dan alami.

“Dia telah pergi tiga hari lalu. Katanya ke Jakarta,” tutur Mike Fernandes yang kami temui di teras rumahnya, hanya beberapa meter dari sebuah mushola.

“Di sanalah dia mengajar anak-anak mengaji setiap usai subuh dan magrib,” katanya lagi menunjuk ke mushola. Rumah dan mushola itu berada di antra rumah-ramah warga yang bukan beragama Islam. Mereka hidup rukun dan damai.

Adik saya, Mustofa terlihat kecewa. Rasa capai menggelayuti wajahnya. Saya juga tak tahu harus berkata-kata apa lagi. Di tengah kebingungan itu Fernandes memberi solusi…

“Anda berdua menginap saja di sini, besok pagi baru kembali. Sudah sore, tak mungkin  melanjutkan perjalanan pulang,” katanya.

Fernandes ternyata adalah salah seorang teman baik Aulian ketiga di Jakarta. Karena tawaran dialah Aulian mau bermukim di Waiwerang.

“Dia sangat menikmati tinggal di sini. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja dia pergi. Semua barang-barangnya di bawa, kecuali ini..,” katanya sambil menyodorkan sesuatu.

Barang itu ternyata adalah sebuah album foto. Foto-foto kenangan kami, Aulian dan saya ketika mesra-mesranya. Kenapa album itu dia tinggalkan di sini? Apa mungkin dia ingin menghapus semua kenangan dengan saya?

***

Pada grup WhatsApp (WA) di mana saya bergabung, akhir-akhir ini saya kerap mendapatkan godaan. Sejumlah laki-laki, mulai dari muda sampai tua bangka, kerap menggoda dengan menyebut saya cantik, manis, dan gombal-gombal iannya. Ada juga menggoda terus terang, menyatakan  ajakan kurang ajar, mengajak tidur dan lainnya. Ajakan-ajakan tersebut semakin gencar, begitu kepergian suami saya tersebar. Ada pula yang menposting foto  ketika sedang duduk berdempetan dengan saya disuatu tempat. Foto tersebut banyak mendapat komentar, ada yang suka dan ada yang sinis menilai saya wanita murahan.

Bersalaman sambil menggaruk-garukkan jari telunjuknya ke telapak tangaan saya, sering saya alami ketika  bersalaman dengan sejumlah laki-laki, termasuk om-om, bahkan yang telah berusia kakek-kakek. Ada juga coba melakukan ccipika-cipiki, namun saya tolak.

Saya ingat, suami saya tak bisa menerima siapapun cipika-cipiki jika bukan muhrim. “Haram,” tegasnya.

Di kelompok perkumpulan, saya dikatakan coba menggoda professor, dan di kantor teman-teman mengisukan saya sedang mengincar seorang laki-laki asal perusahaan yang menjadi rekanan tempat kami bekerja.

Jujur, sebetulnya terhadap dua orang itu saya memang ada hati. Untuk mencari perhatianya, kadang saya memberitahu apa saja kegiatan saya, memberi info ini dan itu. Namun saya belum berani terus terang. Lagi pula saya masih berstatus istri, meski telah ditinggal lama.

Namun akhir-akhir ini saya ketahui, kedua laki-laki itu ternyata sama-sama saja dengan “bandot-bandot” lain. Dari hasil nguping, saya ketahui kedua laki-laki itu di masa mudanya akrab dengan perempuan nakal, bahkan sampai memiliki “simpanan” beberapa perempuan bayaran. Keduanya sepertinya bangga menceritakan masa lalu yang kelam itu bila berkumpulan dengan teman-teman lamanya.

***

Akhirnya saya sampai juga di Nareh, Kota Pariaman, Padang Pariman, Sumatera Barat. Pasar yang jaraknya 56 km dari Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau itu lebih mudah saya temuai dibanding ketika datang ke Pulau Adonara, NTT, dulu.

Aulian berhasil saya temui di sebuah rumah di Jalan Pasie Nareh, tidak jauh dari Masjid Raya Ketaping Nareh Hilir. Dia begitu kaget, wajahnya mendadak pucat, meski dia tetap berusaha tersenyum ramah.

“Wah, wah.. Angin apa apa gerangan terjadi. Tiba-tiba saja ada tamu terhormat,” katanya dengan suara tercekat.

Dada saya berdegub kencang. Kerinduan yang telah lama terpendam rasanya ingin tumpah ruah. Saya ingin memeluknya, menampar, memiting, atau menciumnya yang dalam. Tapi tak kuasa, saya hanya berdiri bagai patung.

“Silakan duduk Mba,” tiba-tiba suara seorang perempuan memecahkaan kekakuan. Siapa dia?

Saya tatap wajahnya. Lalu saya melihat Mas Aulian yang kelihatan rikuh.

“Silakan duduk Mba, Mas,” katanya lagi. Ketika adik saya Mustofa langsung duduk, saya tetap terpana memandang bolak balik antara wanita itu dan Aulian.

“Siapa dia? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan saya. Tinggi semampai, berbadan atletis, ramping dan…,”

Saya ingat ucapan Mas Aulian ketika kami masih mesra-mesranya; “Saya senang dan suka dengan tubuhmu. Semampai dengan dada dan pinggul padat, sintal. Saya selalu tergoda karena senyummu.”

Pantas saja dia tidak ingat saya lagi, melupakan saya. Rupanya dia telah mendapatkan pengganti. Dada saya bergemuruh,  ingin memaki, sumpah serapah, tapi tak bisa. Ingin bertanya, namun mulut tak bisa terbuka.

Perjumpaan kami berlangsung kaku. Malam itu saya tidak bisa segera tidur, meski tubuh lelah. Dan pagi ini saya tak melihat Aulian, karena ternyata dia berangkat kerja pagi sekali. Saya kesiangan, tidak shalat subuh, karena saya memang tidak lagi melaksanakan shalat. Ketika saya keluar kamar seorang wanita menyapa saya.

“Sarapannya sudah ada di meja makan. Habis mandi silakan langsung sarapan,” katanya.

Siapa ibu itu? Putih bersih. Wajahnya telihat lembut, penuh senyum. Kepalanya di balut jilbab yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Apakah dia mertua Aulian, ibu dari perempuan muda yang memiliki wajah mirip saya, yang menemani saya tidur di kamar tadi malam?

Ibu itu tersenyum ketika saya melintasinya menuju kamar mandi. Saya juga berpapasan dengan wanita muda yang mirip saya itu, mungkin anak ibu itu.

“Oh ya, Uda Aulian pesan. Jika ibu belum pulang pagi ini, saya diminta mengantar ibu dan saudara ibu jalan-jalan di Pantai Nareh, atau ke Pantai Gandoria, sekalian nyeberang ke Pulau Angso Duo,” katanya.

“Ya, ya, saya tertarik. Mungkin saya pulang sore nanti saja, kita jalan-jalan dulu,” kata saya.

Jadilah seharian saya bersama perempuan yang ternyata bernama Mirna, dan adik saya, menikmati Pantai Gandoria, dan menyeberang ke Pulau Angso Duo. Kami makan rujak, minum kelapa muda, gorenangan udang, dan sala lauak, dan mampir di Restoran Padang. Namun saya tidak enjoy, karena sepanjang perjalanan selalu memikirkan Mas Aulian, serta hubungannya dengan wanita yang ada di samping saya.

“Apakah mereka sudah menikah. Pantas Aulian tak ingat saya lagi,” itu yang selalu terpikir.

Saya dan adik saya memutuskan kembali ke Padang dan terus ke Jakarta besok siang saja. Saya masih berharap mendapat kabar tentang hubungan Aulian dan Mirna.

***

“Uda Aulian tidak pulang hari ini. Siang tadi dia mendadak ditugaskan perusahaan tempat kerjanya ke Pakanbaru, Riau. Mungkin pulang baru tiga hari lagi,” kata Mirna. Kejadian yang tidak mengenakkan, karena saya telah jauh-jauh datang ke Pariman.

Pengalaman berkunjung tahun lalu  ke Pariaman untuk menemui Aulian itu sangat mengecewakan saya. Lalu tadi pagi Mirna menelpon, katanya akan menyampikan sesuatu. Ada apa?

“Apa yang ingin disampaikan peremuan muda, yang terpaut usia 7 tahun di bawah saya? Apa ini menyangkut Aulian, yang juga menjadi guru mengaji setiap usai subuh, di mushala dekat tempat tinggalnya.”

Pertemuan saya dan Mirna sore ini berlangsung akrab. Dia ternyata ramah, murah senyum, dan terlihat lebih segar. Tentunya jauh lebih cantik dibanding saya, karena dia jauh lebih muda.

“Gak perlu basa-basi ya Mba. Saya datang untuk menyerahkan….,” lalu dia menoleh kepada seorang gadis di sebelahnya.

“Ini adik saya. Dia tinggal di Jakarta, masih kuliah,” tuturnya sambil menjulurkan tangan mengambil tas yang disodorkan adiknya.

“Ya. Saya mau menyerahkan tas ini. Silakan di buka,” katanya.

Sesaat pembicaraan kami terhenti, karena ada seseorang masuk ke ruang tamu kantor saya, dimana saya menerima Mirna.

“Oh, maaf kata saya.” Mirna hanya tersenyum sambil menyerahkan tas tadi.

“Silakan dibuka Mba,” katanya.

“Ada surat di dalamnya,” katanya lagi.

“Maafkan, jika saya tak sempurna.” Loh kalimat pertama surat Aulian sama persis seperti suratnya ketika meninggalkan saya dulu. Ada apa?

“Ketika ibu membaca surat ini, itu artinya saya sudah tiada. Itu wasiat saya kepada Mirna. Saya minta menyerahkan tas ini bersama isinya. Ada uang Rp 200 juta, cincin kawin kita dulu, serta sejumlah pakaian saya yang menjadi kesukaan ibu. Itu semua hak ibu.”

“Semoga ibu mendapat hidayah, kembali ke jalanNya. Bertaubat. Amiiin. Itu saja, sekali lagi maafkan saya tidak mampu membahagiakan ibu.”

Air mata saya menetes. Mirna malah tersenyum dan dia mohon pamit. Saya tak sempat menyuguhkan apa-apa. Dia pergi setelah menyalami saya. Saya merangkulnya, mencium kedua pipinya.

“Doakan saya Mirna,” bisik saya di telinga Mirna.

Namun ada satu pertanyaan yang muncul. Apakah Mas Aulian betul-betul telah meninggal. Apakah ini bukan taktik dia dan Mirna, agar saya tak lagi mengganggu kebahagian mereka.

Hati dan jantung saya mengencang. Mendidih….

“Suatu waktu saya harus kembali ke Nareh, Pariaman. Untuk memastikan Mas Aulian memang sudah meninggal atau justru masih ada, hidup bahagia bersama Mirna.***

Jakarta, Oktober 2017

Cerpen ini telah dimuat di Harian Berita Kota Palembang  pada hari Sabtu 7 Oktober 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru