Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Lobang Maut di Malam Lebaran Cerpen Astrid Citra Damaiyanti

Lobang Maut di Malam Lebaran Cerpen Astrid Citra Damaiyanti

Ilustatrasi - Pagar pemisah. (wartakota)

Pengumuman di komuter line menyebutkan kereta dari jurusan Bekasi akan tiba. Aku naik pukul 17.40 dengan tujuan stasiun terdekat, Manggarai, dan  seperti biasa, tinggal jalan kaki saja menuju rumahku yang tidak jauh dari stasiun penghubung itu.

Pengumuman dari pengeras suara dalam kereta memberitahukan agar para penumpang berhati-hati dan segera menutup pengaman jendela, karena di sekitar rel Cikini-Manggarai sedang ada tawuran warga.

Saya sontak segera menutup pengaman jendela dan terlihat dari jendela berjejer manusia di kiri dan kanan rel kereta. Orang-orang terlihat ada yang menggenggam batu, berlari dan menunjuk-nunjuk sambil berteriak entah apa yang diucapkannya. Ramai kerumunan manusia sampai ke stasiun Manggarai.

Memang sudah hampir dua minggu ini, tawuran kerap terjadi dan dalam dua minggu ini sudah ada korban yang meninggal karena tawuran.

Seorang bapak dekat tempat dudukku mengatakan, “Tawuran terus, berebut apa sih orang-orang ya?”

“Rebutan kali mungkin,” seorang nyeletuk, maksudnya rebutan sungai.

“Ah masak rebutan air kali,” ada yang menyahut.

Tapi, yang saya tahu, mereka belakangan ini tawuran berebut lobang pagar. Lobang pagar untuk jalan pintas, menerobos, agar lebih dekat ke tujuannya dan tidak harus berputar lewat jalan raya.

“Ada-ada saja yang diributin”, ujar seorang penumpang lain.

Seorang ibu nyeletuk lagi, “Ya udah ada korban mati dua orang.”

Saya sudah turun dari kereka. Saya bergegas terus berjalan, masuk lorong jalan setapak.

Saya terus berjalan sembari membatin dalam hati.
Kalau sudah dimulai tawuran, bukan tidak mungkin keadaan mencekam, pasti malamnya gantian warga harus ada yang jaga malam, karena takut ada yang melempar api, takut kampung kebakaran.

Padahal warga antara kampung Manggarai, Tambak dan Plangsun, banyak yang bertalian bersaudara, tapi aneh, tawuran sering terjadi, entah apa pemicunya. Aku pun sebenarnya merasa tidak pasti dan tidak jelas.

Ah, pasti gara-gara lobang buat jalan tembus itu. Aku pun selalu lewat di situ.

Pasti lobang itu yang diperebutkan oleh masing-masing yang merasa lebih berhak dan masing-masing tidak mau mengalah. Masing-masing pihak mengaku dialah yang paling berhak untuk menjaga lobang itu,

Kenapa diperebutkan? Karena ada pendapatan dari  hasil dari uang receh dari orang yang lewat. Ternyata lobang itu menghasilkan uang.

Hanya bermodal ember plastik, seorang anak tanggung berambut pirang, menungguin lobang itu. Ia menggerak-gerakkan ember kecil itu sehingga terdengar suara bergemerincing. Aku selalu menyaksikan hal itu bila melewati lobang itu.

Nah kini, aku pun sampai di mulut gang. Aku masuk menerobos lobang itu. Kecrek…kecrek…
Di goyang-goyang ember yang berisi uang receh, kecrek…kecrek….aku keluarkan uang logam 500 rupiah.

Permintaan “sumbangan” itu berlaku bukan saja untuk aku tapi bagi semua orang yang mau lewat jalan menerobos lobang pagar rel kereta yang di bolongin itu.

“Gak perlu lagi naik ojeg, cukup bayar 500 rupiah. Kalau naek ojek kudu bayar 10 rebu, bolak balik abis dah 20 rebu. Lumayan untung 19 rebu,” kata seorang yang lewat dan beriringan denganku.

Tawuran kerap terjadi, karena ada yang iseng, pengen kuasain lobang jalan tembus.

Malam itu ada suara, berteriak,…woy…..ada yang lempar batu…. Serbu. Anak remaja tanggung berhamburan. Saling kejar, masing-masing ada yang bawa batu, bawa rante, bawa gir,  balok dan lainnya.

Aku  mengawasi jalan di pinggir rel kereta. Aku tungguin, sambil berjaga-jaga, takut ada yang lempar batu ke arahku.

Bila terlihat orang bawa batu di pihak lawan langsung dikejar dan sampai perbatasan areal kampung lawan, mereka berhenti.

Padahal, orang yang dikejar belum tentu bersalah dan tidak tau apa-apa. Ia lari karena merasa dikejar. Ketika aku berjaga tiba-tiba ada yang melemparkan batu, tapi aku dapat menghindar. Ah, untung aku tak kena batu melayang itu.

Aku merasa tidak bersalah hanya sedang berjaga-jaga. Ketika aku menoleh ke belakang aku melihat ada yang mengejar. Aku lari pontang panting masuk ke kampung.

Kampung seberang maupun kampung lawan, tidak ada yang merasa bersalah mereka sama sama tidak bersalah dan mereka sama sama merasa korban dan menderita.

Aku berpikir sebenarnya siapa pelaku yang pertama menyerang. Yang pasti batu-batu itu berasal dari orang-orang yang menginginkan lobang jalan pintas itu.

***

Malam ini malam takbiran, besok hari Lebaran. Orang tuaku menyuruh membawakan makanan hantaran ketupat Lebaran, sayur, opor ayam dan semur daging ke rumah saudaraku.

Saudara ibuku berada di kampung seberang dan aku enggan ke sana, tetapi namanya perintah orang tua, aku tidak bisa menolak. Aku laksanakan tugasku,membawa dua rantang makanan masakan ibu untuk disampaikan kepada kerabatnya.

Ketika aku berjalan, aku dihadang oleh kelompok pemuda. “Kamu berani jalan di kampung musuh?

Kamu mau jadi mata mata ya…”.
“Tidak,” jawabku…
“Aku tidak mematai apa-apa, aku hanya akan menyampaikan hantaran untuk saudaraku, di kampung ini.”
Keributan terjadi. “Kamu kan musuh kami.” Aku dikerubuti beberapa anak, yang bersiap untuk memukulku.

Tiba tiba datang Riyan, sepupuku. Riyan membelaku, Ia mengatakan bahwa aku bukan musuh mereka. Tetapi kelompok pemuda itu tidak menghirukan permintaan Riyan, padahal mereka pasti mengenal Riyan.Tiba tiba ada yang memukulku dari belakang.

Aku jatuh tersungkur dan tiba tiba Riyan pun tersungkur menindih tubuhku. Ternyata Riyan ditusuk pakai pisau di bagian perut sebelah kiri. Entah siapa yang menacapkan pisau ke perut Riyan. Ternyatan Ryan dan saya sempat tidak sadarkan diri.

Aku mendengar suara sayup-sayup. Ternyata polisi yang sedang minta keterangan, kepada orang di sekeliling kami.  Aku berusaha bangun, tapi kepalaku berat, penglihatanku samar.

Aku gemetar dan ketika sudah sadar benar, baru kuketahui bahwa Ryan sudah tidak bernyawa, terlalu banyak mengeluarkan darah. Kata orang-orang, aku semaput lagi.

Para pemuda sekitar situ ternyata bukan pelaku penusukan Ryan. Ada beberapa anak yang ditangkap yang berasal dari kampung lain, tapi karena di antara mereka terdapat pemuda kampong yang bernama Aan, maka pemuda kampung itulah yang dituduh membunuh Ryan.

Setelah kejadian itu, para tokoh kedua kampung berseberangan melakukan mediasi agar berdamai. Hasil rapat para sesepuh kampung agar menyampaikan kepada pimpinan PT KAI agar menutup lobang tembok tembus jalan dan penumpang rel dilarang menerobos jalan.

Ah, lobang maut 500 rupiahan itu sudah mengambil nyawa, salah satunya Ryan, keluargaku sendiri.

Takbiran saling bersatuhan dari kejauhan. Allohu Akbar..Allohu Akbar..Allohu Akbar.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru