Tuesday, November 19, 2019
Home > Berita > Letusan Freatik sebabkan panik warga Sleman

Letusan Freatik sebabkan panik warga Sleman

Letusan Freatik di Gunung Merapi Yogyakarta. (tribun)

MIMBAR-RAKYAT.com (Sleman,  Yogyakarta) – Penduduk yang bermukim di lereng Gunung Merapi di Desa Donokerto, Turi,  Kabupaten Sleman,  panik dan berhamburan keluar rumah saat terjadi letusan freatik, Jumat.

“Warga sebelumnya mendengar suara gemuruh, ada yang mengira suara helikopter.  Namun cukup lama sekitar lima menit dan setelah itu terlihat asap putih tebal dan besar mengepul ke atas dari kawah Merapi,” kata warga Donokerto, Rony Arya mengomentari getaran pada pukul 07.30 WIB itu.

Ia mengatakan, warga yang panik sempat dievakuasi ke barak pengungsian terdekat untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.  “Namun setelah tidak ada letusan susulan, warga akhirnya kembali di pulangkan ke rumah masing-masing,” katanya seperti dilansir antaranews.

Menurut Rony, kepulan asap erupsi freatik tersebut mengarah ke sisi barat Merapi.

“Terjadi hujan abu tipis yang cukup lama ada juga butiran-butiran pasir yang terbawa sampai sini, dan seperti awan menjadi gelap seperti mendung akan hujan,” katanya.

Menurut dia, setelah hampir satu jam tidak terjadi lagi letusan susulan, namun ada imbauan dari aparat desa untuk tidak berada di area berjarak kurang dari tiga kilometer dari puncak Merapi.

“Sebagian warga sudah mulai beraktifitas lagi, namun sebagian juga masih berjaga-jaga,” katanya.

Gunung Merapi normal
Masyarakat semakin tenang, ketika diumumkan sStatus Gunung Merapi di perbatasan Kabupaten Klaten, Megelang, Boyolali dan Sleman, tetap normal  setelah letusan freatik itu.

“Saat ini status Gunung Merapi masih tetap normal aktif,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers kepada media.

Letusan freatik Merapi disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat dan tinggi kolomnya 5.500 meter dari puncak kawah. Letusan itu melontatkan abu vulkanik, pasir dan material piroklatik menurut BNPB.

“Letusan berlangsung tiba-tiba.  Jenis letusan adalah letusan freatik yang terjadi akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi,” kata Sutopo.

Ia mengatakan jenis letusan ini tidak berbahaya, dapat terjadi kapan saja pada gunung api aktif, dan biasanya hanya berlangsung sesaat.

“Status Gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (Level I) dengan radius berbahaya adalah tiga kilometer dari puncak kawah.  PVMBG tidak menaikkan status Gunung Merapi dan masih terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik,” katanya.

Sutopo mengimbau masyarakat tetap tenang dan ia menambahkan bahwa BPBD Sleman telah menginstruksikan masyarakat yang tinggal dalam radius lima km seperti daerah Kinahrejo untuk evakuasi ke bawah di barak pengungsi.

“Masyarakat merespons dengan evakuasi mandiri ke tempat yang aman,” katanya dengan manambahkan bahwa BPBD telah mendistribusikan masker karena hujan abu diperkirakan turun di sekitar Gunung Merapi khususnya di bagian selatan dan tergantung dari arah angin.

“Dilaporkan hujan abu vulkanik terjafi di Tugu Kaliurang Sleman Yogyakarta. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan BPPTKG PVMBG dan BPBD,” kata Sutopo.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru