Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Kota Menyenangkan

Kota Menyenangkan

Ilustrasi. Kota Menyenangkan (pixabay.com)

Baru-baru ini Harian Kompas bekerja sama dengan ITB dan PT Gas Indonesia menyelenggarkan lomba Kota Cerdas Indonesia.

Lomba itu diikuti hampir 100-an kota di hampir seluruh provinsi Indonesia dan Surabaya dinobatkan sebagai Kota Cerdas Terbaik Indonesia 2015 karena skornya jauh lebih tinggi dari para pemenang lain.

Surabaya menang untuk Kategori Lingkungan, sedang untuk Kategori Sosial dimenangkan Madiun, Kategori Ekonomi diraih Kota Magelang. Penghargaan juga diberikan kepada kota yang menempati urutan teratas Indeks Kota Cerdas Indonesia. Kota-kota itu adalah Magelang (kategori jumlah penduduk sampai dari 200.000 jiwa), Yogyakarta (jumlah penduduk 200 hingga 1 juta), serta Surabaya (jumlah penduduk di atas 1 juta jiwa).

Ukuran cerdas di atas berdasarkan berbagai kriteria, mulai dari kemudahan layanan birokrat, kemudahan transportasi, ketersediaan sarana umum, pemeliharaan lingkungan, dsb. Kita percaya pada objektivitas juri sehingga percaya pula pada penilaiannya, terutama karena diselenggarakan oleh pihak-pihak swasta yang kredibel. Tentu berbeda dengan Piala Adipura yang kadang kontroversial karena konon masa penilaian hanya berlangsung pada kurun waktu tertentu, sehingga walau mendapat piala, kebersihan suatu kota ternyata belum dirasakan kebanyakan warga kota itu.

Baru-baru ini Majalah Time mengeluarkan daftar “50 Kota Terbaik Ditinggali ” di Amerika Serikat. Kota-kota itu bukanlah metropolitan yang penuh riuh-rendah, tetapi kota kecil dengan penduduk puluhan ribu orang.

Puluhan kota itu praktis tidak pernah kita dengar namanya. Tetapi yang pasti di kota-kota itu tersedia kebutuhan untuk hidup dengan nyaman, anak-anak punya akses pendidikan yang baik, suasana komunitas terbangun baik, sarana sosial memadai. Salah satu ciri yang menonjol adalah suasana gotong royong, guyub, masyarakatnya toleran, juga menonjol. Penyebabnya juga rerata warga memiliki pekerjaan baik, pendapatan memadai.

Kota terbaik nomer satu adalah Apex di North Carolina. Disebutkan, wilayah downtown-nya apik, ada sekolah bermutu, dan kegiatan komunitas PeakFest selalu meriah diikuti hampir sepertiga warga yang berjumlah 45.000an.

Kualitas hidup di sini tinggi karena ada kompleks industri dan teknologi yang menjadi tempat bekerja banyak warga kota. Walaupun dekat dengan daerah industri Reasearch Triangle Park yang diisi tak kurang 200 perusahaan seperti IBM, Cisco, GlaxoSmithKline, kota yang terletak di kawasan West Coast (Lautan Atlantik) ini relatif dianggap tidak mahal, dibanding dengan Silicon Valley misalnya. Pendapatan kelas menengah sekitar 88.000 dollar AS pertahun, sementara harga rumah tiga kamar tidur sekitar 265.000 dollar AS.

Kota terbaik berikutnya adalah Papillon di Nebraska dan Sharon di Massachussets, diikuti oleh Louisville Colorado, dan Snoqualmie, Washington. Mereka ini semuanya memberikan tiga hal yang tidak berbeda, kualitas pendidikan yang baik dan menjanjikan, lapangan kerja dengan pendapatan yang relatif tinggi, dan kemudahan tempat tinggal—akses jalan raya dan keretapi, dengan harga yang sepadan.

Ciri yang ada di kelima kota adalah banyak “orang baru” yang pindah secara khusus dari tempat tinggal mereka sebelumnya, di berbagai kota besar di AS. Mereka ingin hidup tenang dan nyaman, anak-anak mereka kelak memiliki masa depan yang baik.

Tentu kita di Indonesia pun ingin ada kota-kota seperti itu, tetapi belum tentu ada kota-kota seperti itu di sini. Perkerjaan yang memberi gaji besar, ya umumnya ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar. Ada kawasan industri seperti di Karawang dan Cikarang, tetapi suasananya sangat “kering”. Walaupun mungkin ada tempat pendidikan yang bagus, fasilitas, taman, kondisi sosial tidak tertata baik, hidup warganya seperti sendiri-sendiri karena yang ada hanya apartemen, hotel, yang penghuninya sementara. Sementara orang pemerintahan pun mungkin tidak begitu peduli mengelola warga istimewa (para pekerja bergaji tinggi), malah mungkin menjadikan mereka sapi perah.

Di Indonesia dulu juga pernah ada kota-kota yang disebut nyaman ditinggali, tetapi oleh para pensiunan yang ingin hidup tenang di hari tua. Mereka punya pendapatan tetap dan ingin hidup di kota yang tenang, tidak berisik, dan berfasilitas memadai.

Bogor, Sukabumi, Malang, antara lain dulu pernah disebut kota pensiunan. Sekarang ketiga kota itu sudah sama macet dan ributnya dengan kota-kota besar lain. Bisa jadi ada kota-kota kecil yang belum berisik, fasilitas cukup, nyaman, dsb. Tetapi kalau tidak dipelihara dan dirancang masa depannya, bisa jadi semua jadi kota metropolitan yang bising dan bikin pusing. Lalu orang-orang yang berduit tinggal di bagian kota yang eksklusif, berupa klaster-klaster khusus yang masuk dengan tanda pengenal, dan kalau bertamu harus seizin penghuni.

Mungkin begitulah masa depan kita. Wallahu alam.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru