Friday, January 17, 2020
Home > Cerita > Cerita Khas > Kopral Ini Punya Penghasilan Lebih Besar Dari Jenderal

Kopral Ini Punya Penghasilan Lebih Besar Dari Jenderal

bus wajib shalat

bus wajib shalat

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) Kopral ini punya penghasilan lebih besar dari Jenderal. Apa rahasia di balik suksesnya?  Bukan peringatan untuk mematuhi lalu lintas bagi awak bus PO Haryanto tetapi peringatan agar memberi kesempatan untuk sholat bagi para penumpangnya.

Di jalur pantura PO Haryanto tidak asing menjadi pemandangan karena bus antar kota ini setiap hari lalu lalang lintas Jawa. Bus ini menjadi salah satu bus yang menguasai jalanan. Betapa tidak, pemilik bus PO. Haryanto ini di tahun 2015 lalu telah memiliki lebih 100 bus eksekutif yang melayani jalur Jakarta-Kudus, Pati, Jepara, Ponorogo dan Madura.Dulu ia hanya seorang prajurit kecil.
Yang membedakan dengan bus eksekutif lain adalah manajemen PO Haryanto sangat menekankan awak busnya untuk bergenti memberi kesempatan ibadah bagi penumpangnya. Yang melangggar akan dipotong gajinya satu kali pp. Seperti diumumkan besar-besar dalam spanduk di setiap poolnya.
“PERHATIAN – SEMUA CREW BUS PO HARYANTO ,WAJIB MEMBERI KESEMPATAN PENUMPANG DAN MELAKSANAKAN SHOLAT 5 WAKTU. GTERUTAMA SHOLAT SUBUH.BAGI YANG MELANGGAR 1 CREW AKAN DIPOTONG GAJI 1 PP.
Kopral Haryanto
Haryanto
Haryanto ini, dulunya hanyalah anak dari seorang buruh tani diKudus. Beruntung bisa masuk Angkatan Udara berpangkat kopral. ia dari awal selalu menggunakan waktu di luar dinas untuk menjadi sopir angkot. Kini, Kopral ini punya penghasilan lebih besar dari jenderal.
Pada tahun 1979 Haryanto bekerja di kesatuan angkatan udara Kostrad di Tangerang.Bertugas sebagai pengemudi, sehari-hari mengangkut alat-alat berat, meriam, beras dan perminyakan. Penghasilannya sekitar Rp 18.000 per bulan. Pada tahun 1982, Haryanto  menikah. Namun, gaji belasan ribu yang diterimanya tiap bulan itu tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Bahkan, rumah sewa berukuran 3 x 4 meter yang dihuni bersama dengan istrinya tak mampu ia bayar.
Kondisi keuangan yang serba kepepet itulah, melecut  semangat Haryanto untuk mulai mencari usaha sampingan. Berbekal pengalaman sebagai sopir angkot ia melirik usaha itu. Di tahun 1984, dengan modal tak lebih Rp. 1 juta dari tabungannya, Haryanto nekat mengktredit  1 unit angkot Daihatsu. Menyopiri sendiri angkotnya, Haryanto sehari-hari di luar jam dinasnya menyusuri rute  Pasar Anyar Bogor -Serpong.
Meskipun telah memiliki usaha angkot, ia tetap mengabdikan diri sebagai Prajurit TNI AU. Jam 22.00, i Bisa dibayangkan betapa sibuknyau ia menjalani kehidupannya. Sementara ia juga menjadi agen bus Sumber Urip untuk mencari penumpang .
Angkot Haryanto berkembang bukan saja armadanya, tetapi ia mengembangkan shoroom khusus angkot dari beberapa produsen mobil. Modalnya cuma menyediakan tempat. Mobil-mobil angkot dipasok dari produsennya sendiri.
Tepatnya tahun 1990 ia membuka gerai showroom mobil di Tangerang yang khusus menjual angkot dari beragam karoseri. Gerai ini tak membutuhkan modal yang banyak, Haryanto hanya menyiapkan lahan bagi mereka yang ingin menjual angkotnya. Setiap bulan sekitar 20-30 unit mobil berhasil beliau jual.

Merintis PO. Haryanto

Bus PO Haryanto

Di usianya yang ke 43 tahun, sekitar tahun 2002, Haryanto mengajukan surat pengunduran diri dari TNI AU. Dan sejak pensiun itulah Haryanto mulai sibuk dengan bisnis barunya di Perusahaan Otobus, yaitu PO Haryanto.

Mendapat pinjaman dari BRI sekitar Rp 3 miliar. Uang itu ia gunakan untuk membayar uang muka 6 unit bus, dimana 1 bus harganya Rp 800 juta.

Pada tahun 2013 lalu, jumlah karyawan Haryanto sekitar 500 orang. Sopir PO. Haryanto mendidik sopir-sopirnya agar tak ugal-ugalan dan diprotes penumpang. Walau sudah menjadi juragan bus, Haryanto tetap tak segan-s setiap hari nongkrong di terminal, memeriksa sendiri kondisi bus-busnya sambil mendengarkan keluhan penumpang.

Sukses berbisnis trasnportasi, pada tahun 1997 beliau dan orang tua beserta istrinya berangkat ke tanah suci. Tak sendiri .bagi karyawan yang taat dan tekun beribadah, Haryanto tak segan-segan membagi tiket untuk beribadah ke tanah suci Mekkah.
Berkat ketekunannya menjalankan bisnis transportasi ini, penghasilan Haryanto. seorsng kopral tak kalah dengan seorang jenderal. (ais)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru