Wednesday, October 23, 2019
Home > Berita > Klub Otomotif Dukung Program Tertib “Yellow Box”

Klub Otomotif Dukung Program Tertib “Yellow Box”

Sekjen IMI Jeffrey JP di IIMS 2016 di Kemayoran, Jakarta. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Sebanyak 25 klub otomotif Indonesia yang berdomisili di Jakarta di bawah payung IMI, akan meramaikan bulan Ramadan mendatang dengan kegiatan sosial, di antaranya ikut mengatur lalu lintas bersama polisi.

Bila biasanya bulan puasa diisi dengan membagi-bagikan makanan untuk petugas yang bertugas di jalan raya seperti polisi dan petugas perlintasan kereta api, kali ini akan turun ke jalan, ikut mengatur lalu lintas bersama polisi di “yellow box” yang ada di persimpangan jalan.

Kesepakatan turun ke jalan secara bersama-sama ini dilakukan melalui penandatanganan komitmen, yang dilakukan di “booth” Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sabtu 16 April 2016.

Pernyataan dalam bentuk petisi itu merupakan komitmen klub otomotif untuk mendukung keselamatan dengan melakukan aksi tertib lalu lintas di yellow box, melalui program Tertib Yellow Box.

“Kami sangat berbesar hati bahwa keselamatan di jalan raya juga telah menjadi perhatian teman-teman dari klub-klub otomotif. Dengan keperdulian bersama dan dengan keinginan yang kuat untuk bersama- sama meningkatkan keselamatan di jalan raya, kami percaya tingkat kecelakaan di Indonesia secara bersangsur-angsur dapat ditekan,” ujar Sekjen PP Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jeffrey JP.

Pengurus PP IMI dan para tokoh klub otomotif se-Jakarta berfoto bersama di stan IMI di IIMS 2016 di Kemayoran Jakarta, Sabtu.  (ist)
Pengurus PP IMI dan para tokoh klub otomotif se-Jakarta berfoto bersama di stan IMI di IIMS 2016 di Kemayoran Jakarta, Sabtu. (ist)

Edukasi dengan turun ke jalan di persimpangan yang ditandai dengan marka “yellow box”, menurut Jeffrey, memiliki arti strategis.  “Umumnya kecelakaan terjadi bukan karena pengguna jalan raya tidak mengetahui arti rambu dan marka, melainkan karena tidak taat dan tidak tertib, gemar menyerobot dan ingin menang sendiri,” katanya.

Kondisi mengemudi yang buruk ini dengan mudah bisa dilihat di persimpangan jalan. Pengguna jalan yang bisa melaju dihadang oleh kendaraan dari arah lain yang sebetulnya tidak bisa jalan karena kemacetan pada arus yang dilalui, tetapi memaksakan diri untuk masuk ke persimpangan jalan.

“Hal ini yang menyebabkan persimpangan jalan sangat rawan kemacetan, padahal di persimpangan tersebut ada marka yellow box, yang berarti tidak boleh memasuki area kotak kuning itu apabila arus di depannya sedang mengalami kebuntuan,” kata Jeffrey.

“Teman-teman dari klub otomotif yang nantinya akan mengedukasi pengemudi untuk tertib yellow box, yang bila sudah terbiasa tertib, diharapkan akan tertib pula di seluruh kondisi jalan yang dilalui, misalnya mematuhi batas kecepatan, tidak melaju di bahu jalan dan mematuhi rambu dan marka jalan lainnya,” tambah Sekjen IMI.

“Pada aksi simpatik ini, teman-teman dari klub otomotif juga akan mengingatkan pengemudi untuk selalu menggunakan sabuk keselamatan, penggunaan kursi bayi, helm dan larangan menggunakan telepon seluler,” katanya.

Tertib “Yellow Box” adalah progam edukasi tertib di jalan raya, yang digagas Ikatan Motor Indonesia sebagai program keselamatan yang dijalankan pada tahun ini.

Tertib “Yellow Box” merupakan bagian dari agenda besar Federation Internationale De L’Automobile (FIA), yang sejak tahun 2011 telah mendeklarasikan keselamatan global melalui kampanye “FIA Action for Road Safety.”

Program ini dilaksanakan oleh seluruh badan-badan otomotif yang menjadi anggota FIA di seluruh dunia dan di Indonesia diwakili oleh IMI.

Data kecelakaan di Indonesia masih tergolong tinggi. Menurut catatan Kementerian Perhubungan (2014), sebanyak 29 orang meninggal dunia di jalan raya dan 80 ribu lainnya mengalami cedera atau cacat.

Sekjen PP IMI Jeffrey JP dan mantan KU PP IMI Nanan Soekarna di stan IMI di IIMS 2016 di Kemayoran Jakarta, Sabtu. (ist)
Sekjen PP IMI Jeffrey JP dan mantan KU PP IMI Nanan Soekarna di stan IMI di IIMS 2016 di Kemayoran Jakarta, Sabtu. (ist)

Itu berarti 80 orang meninggal setiap hari atau 1 orang setiap 20 menit. Data itu juga menunjukkan bahwa kecelakaan di jalan raya masih menjadi penyebab utama kematian bagi anak-anak dan kaum muda produktif berusia 5-29 tahun.

Kepolisian Republik Indonesia menargetkan penurunan angka kecelakaan lalu lintas sebesar 50 persen dalam waktu 10 tahun.

Target ini sejalan dengan program “Decade of Action for Road Safety” yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai Maret 2010.

IMI bersama klub-klub otomotif akan berpartisipasi dalam membantu pemerintah yang berkeinginan menekan angka kecelakaan lalu lintas, kata Jeffrey.  (SP/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru