Sunday, July 12, 2020
Home > Berita > Ketua Gugus Tugas Doni Monardo: Puncak Corona Akhir Mei, Juli 2020 Mulai Menurun

Ketua Gugus Tugas Doni Monardo: Puncak Corona Akhir Mei, Juli 2020 Mulai Menurun

Ketua Gugus Tugas dan Kepala BNPB, Doni Monardo.

MIMBAR-RAKYAT.Com (Jakarta) – Pemerintah memperkirakan, puncak corona terjadi di akhir Mei mendatang. Pada Juli, kasus akan mulai menurun. Sampai september, kondisi kesehatan warga, sosial hingga aktivitas ekonomi akan mulai pulih.

“Permodelan sudah dibuat, dari Mei akhir itu puncaknya, kira-kira Juli mulai menurun. Kemudian kita berpikir, berasumsi, kira-kira September kita sudah mulai mengalami kondisi yang lebih baik,” ungkap Kepala BNPB Doni Monardo yang juga Ketua GugusTugas, dalam sesi wawancara, Minggu (19/4).

Doni tak merinci berapa data prediksi pasien corona di Indonesia pada masa puncak itu. Tapi beberapa waktu lalu BNPB pernah menyampaikan, puncak angka terjangkit virus corona diprediksikan pada Mei dengan angka 95.000 orang terjangkit, dan mulai berakhir pada Juni.

Prediksi itu berdasarkan permodelan yang disusun dari data ketersediaan tenaga medis, APD, kultur solidaritas di masyarakat serta faktor keselarasan masyarakat dengan pemerintah.

Dari sisi tenaga medis, kata Doni, Indonesia dibantu oleh relawan dalam jumlah yang banyak. Hal itu bisa menuntut keterbatasan tenaga medis yang ada.

“Lalu modal sosial kita, ketahanan sosial yang diterjemahkan gugus tugas sebagai metode pentaheliks berbasis komunitas, bagaimana masyarakat bersatu, ini menunjukkan Pancasila yaitu gotong royong,” ujarnya.

“Saya menganalogikan perang ini dipimpin panglima perang yaitu Presiden Jokowi. Beliau saya ibaratkan lokomotif. Ketika lokomotif itu maju atau mundur atau berhenti maka semua gerbong akan ikuti gerakan itu,” tuturnya lagi.
Namun, upaya pemerintah saja tidak cukup. Doni menekankan perlunya kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat untuk mempercepat penanganan corona.

“Tapi ini semua kalau kita seluruhnya bergerak untuk memutus mata rantai penularan. Apalagi sebentar lagi ada keinginan warga mudik. Kita sudah katakan jangan mudik. Kalau Anda mudik sama saja Anda beri ruang orang di kampung terpapar,” ucapnya.

Doni tak merinci berapa data prediksi pasien corona di Indonesia pada masa puncak itu. Tapi beberapa waktu lalu BNPB pernah menyampaikan, puncak angka terjangkit virus corona diprediksikan pada Mei dengan angka 95.000 orang terjangkit, dan mulai berakhir pada Juni.

Prediksi itu berdasarkan permodelan yang disusun dari data ketersediaan tenaga medis, APD, kultur solidaritas di masyarakat serta faktor keselarasan masyarakat dengan pemerintah.

Dari sisi tenaga medis, kata Doni, Indonesia dibantu oleh relawan dalam jumlah yang banyak. Hal itu bisa menuntut keterbatasan tenaga medis yang ada.

“Lalu modal sosial kita, ketahanan sosial yang diterjemahkan gugus tugas sebagai metode pentaheliks berbasis komunitas, bagaimana masyarakat bersatu, ini menunjukkan Pancasila yaitu gotong royong,” ujarnya.

“Saya menganalogikan perang ini dipimpin panglima perang yaitu Presiden Jokowi. Beliau saya ibaratkan lokomotif. Ketika lokomotif itu maju atau mundur atau berhenti maka semua gerbong akan ikuti gerakan itu,” tuturnya lagi.

Namun, upaya pemerintah saja tidak cukup. Doni menekankan perlunya kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat untuk mempercepat penanganan corona.

“Tapi ini semua kalau kita seluruhnya bergerak untuk memutus mata rantai penularan. Apalagi sebentar lagi ada keinginan warga mudik. Kita sudah katakan jangan mudik. Kalau Anda mudik sama saja Anda beri ruang orang di kampung terpapar,” ucapnya.

Data nasional, per hari Sabtu (18/4), ada 6.248 kasus positif COVID-19. Dari jumlah itu, sebanyak 631 telah sembuh, 535 pasien meninggal dunia. (K/d)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru