Saturday, December 07, 2019
Home > Cerita > Kesalehan Sosial

Kesalehan Sosial

“Papa ini bagaimana sih. Kalau di jalan raya kerjanya ngomel-ngomel melulu. Santai aja. Nikmati perjalanan. Percuma marah juga. Pengguna lalu lintas di Jakarta nggak ada yang bisa diatur, sudah adatnya mereka semaunya,” kata Bu Dessy kepada suaminya setiba di rumah.

“Iya Papa kesal. Kita sudah baik-baik, jalan di jalur yang benar. Eh diserobot.  Jalan pelan sedikit, diklakson. Udah kasih sein untuk belok ada saja sepeda motor yang nyelonong. Kalau kecelakaan pasti kita yang disalahkan polisi.”

Dialog seperti ini mungkin terjadi juga bila para pembaca sekalian berlalu lintas di Jakarta dan sekitarnya. Suami yang baik-baik di rumah, tiba-tiba menjadi pemberang karena frustrasi terhadap kondisi jalan raya yang bikin stress. Jalan raya sudah seperti hutan rimba. Siapa yang berani dan nekat, menang. Siapa yang sopan dan tertib, semakin tertindas. Aturan seperti tidak berlaku.

Pelanggaran lalu lintas seperti dibiarkan, kecuali sesekali. Melawan arus sudah biasa terjadi, khususnya di pagi dan sore hari. Dan di banyak tempat, malah difasilitasi oleh polisi.

 Di daerah Joglo, Cipulir, Ciputat, Kali Malang, ribuan sepeda motor dengan sangar melawan arus dan akan segera meneror pengguna lalu lintas yang coba “meluruskan”. Saya pernah melakukan dan mobil yang bawa dipukul, ditendang, dan saya pun mendapat makian. Astaghfirullah.

 Padahal kalau dibuka helmnya ketika mereka pulang, mereka adalah orang-orang yang baik, sopan, orang yang dihormati tetangganya dan ayah yang dicintai anak-anaknya. Wajahnya santun. Adatnya baik dalam bersosial. Tetapi di jalan mereka berubah menjadi iblis, setan, yang mau menang sendiri dan bersedia “membunuh” lawannya.

Dua wajah ini semakin menggejala. Kalau di rumah mereka memiliki kesalehan yang tinggi, yang taat beragama, beradab, di jalan kesalehan sosial mereka nol besar. Bermuka dua. Munafik. Serigala yang siap memangsa korban.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena pengajaran agama yang dilakukan di Indonesia hampir semuanya lepas dari konteks sosial. Seumur hidup saya, hampir tidak pernah saya mendapat kotbah tentang pentingnya membuang sampah di tempat seharusnya, tertib antre dan tidak menyerobot, tertib berlalu lintas seperti menaati rambu dan mengalah di jalan raya, ketika salat Jumat. Pesan moral lebih menjurus kepada hal-hal yang tinggi, bahkan abstrak, ketimbang yang nyata, praktis, dan berkait peri kehidupan sehari-hari.

Dulu ketika saya masih di sekolah dasar, ada pelajaran Budi Pekerti, yang antara lain materinya tentang sopan santun, gotong royong, pengetahuan tentang kehidupan bermasyarakat dsb. Ketika mata pelajaran itu dihapus memang tumpuannya lalu beralih pada pelajaran Agama yang ternyata lebih banyak bicara soal akhirat.

Tentu saja tercipta kondisi paradoks seperti yang sering kita dengar. Ada ratusan ribu warga negara Indonesia yang tiap tahun naik haji tetapi kok nggak nyambung dengan budaya korupsi yang malah kian marak di Tanah Air. Makin banyak orang saleh beragaman, tetapi kehidupan nyata kita semakin kacau balau seperti tercermin di jalan raya, munculnya tren cabe-cabean, pornografi makin marak, dsb. Sungguh memprihatinkan. Wassalam. (Bung Mim)

 

 

Ilustrasi: Kesemrawutan lalu-lintas Jakarta. (beritainspirasi.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru