Saturday, December 14, 2019
Home > Editorial > Kembalinya Trah Soeharto

Kembalinya Trah Soeharto

Mungkinkah itu? Sangat mungkin dan sangat dekat. Bagaimana skenarionya.Jangan lupa Titiek Soeharto sudah pasti lolos sebagai anggota DPR. Sebagai partai kedua pemenang Pemilu, Golkar akan mendapat jatah sebagai salah satu pimpinan DPR.

Katakan Titiek dicalonkan sebagai wakil ketua DPR. Golkar sangat mungkin mengambil tindakan ini sebab sebagai anak asuh Suharto sampai saat ini Golkar masih sangat menjunjung tinggi jasa Soeharto atas kebesaran yang pernah dicapainya. Ingat ketika kampanye Pileg yangf lalu Golkar masih menjadikan “kejayaan ” Soeharto sebagai nostalgia untuk membangkitkan kenangan konsituennya.

Tagline “Piye Kabare ? Isih Enak Jamanku Tho ?” selalu diangkat dalam setiap kampanyenya. Paling tidak tagline itulah yang mengangkat Titiek Soeharto dari Dapil Jogjakarta meraih tiket ke Senayan sebagai anggota DPR.

Disamping itu, sosok Titiek Soeharto bukan sosok kelas kacang. Paling tidak disejajarkan dengan para anggota DPR dari Golkar, Titiek berada di atas kelas rata-rata dari sisi kompetensi umum. Kalau mau jujur, dengan latar belakang sebagai keturunan biologis Soeharto maka Titiek mempunyai nilai lebih.Maka kalau nanti Golkar mencalonkan Titiek Soeharto sebagai salah ketua di DPR adalah sangat mungkin terjadi. Malah bisa dibilang, itu langkah tepat Golkar.

Dan kalau skenario ini jalan, maka setengah kaki trah Soeharto sudah masuk kembali ke jantung negara ini.

Habitat

Golkar menurut pengamat politik dari UGM Ari Sujito memang tidak pernah bisa meninggalkan habitat aslinya sebagai partai yang selalu menyatu dengan kekuasaan. Karena dia dilahirkan sebagai wahana pelestari kekuasaan, seperti diniatkan oleh Soeharto. Sampai hari ini naluri Golkar masih tetap seperti sediakala. Golkar masih seperti yang dulu.

Pada era reformasi, Golkar sempat kerepotan dalam menyesuaikan jati dirinya dengan angin perubahan yang menghembus. Namun Akbar Tanjung dengan kelihaian bermanuvre dalam berpolitik berhasil membawa Golkar dari tsunami perobahan yang dahsyat.

Sebagai ketua umum periode itu Akbar Tanjung membawa perahu Golkar dengan semboyannya Paradigma Baru Golkar. Toh selihai-lihainya master politik Akbar Tanjung mengatasi hantaman dari luar,ia akhirnya tergulung dalam persaingan internal ketika jabatan ketua umumnya tidak bisa dipertahankan dan harus menyerahkan kepada Yusuf Kalla.

Ditangan Yusuf Kalla yang menggenggam Golkar berhasil recovery secara sempurna. Politik transaksional yang sudah meruyak, kemudian, menghantarkan Abu Rizal Bakri menduduki tampuknya hingga sekarang. Sebagai langkah awal menuju kursi kepresidenan. Namun langkah ARB agak mengalami hambatan lantaran perolehan suara kurang memenuhi syarat .

Pertemuannya dengan Prabowo dari Gerindra seperti tumbu dapat tutup. Menemukan dua kepentingan yang sama, yakni sama-sama merindukan kekuasaan . Golkar menurut naluri dan historisnya nya memang tak bisa jauh dari kekuasaan.

Sementara Prabowo sejak 2009 memang sudah memantapkan dirinya untuk meraih jenjang kekuasaan. Berpasangan dengan Megawati saat itu, impian Prabowo belum terwujud. Bahkan saking pusingnya mengarungi liku-liku perjuangan politik Prabowo sempat terucap pada suatu saat, “Kalau begini nyesel saya tidak melakukan kudeta dulu “.

Bahkan jauh sebelumnyatahun 2004 Prabowo sudah menunjukkan minatnya untuk berkuasa melalui jalur politik, ketika dia ikut dalam konvensi Golkar untuk kandidat presiden. Disini ingatan bisa kita segarkan bahwa Prabowo yang berasal dari Golkar masih tetap seperti dulu dan menjadi tidak aneh kalau kemudian berkoalisi lagi dengan tokoh siapapun dari Golkar.

Mimpi

Kembali pada ARB yang saat ini terus berkutat memperjuangkan ambisinya, sepertinya sudah menyadari bahwa elektabilitas dirinya tidak cukup kuat untuk memaksakan dirinya menjadi Capres. Nasehat dari ketua dewan pertimbangan Akbar Tanjung maupun pendiri Golkar Suhardiman untuk melupakan mimpinya menjadi presiden, rupanya cukup terkesan. Mau dengar yang lebih keras dari eksternal ? “Kalau ARB jadi presiden, kiamat negara ini,” kata ekonom Faisal Basri.

Tetapi ambisi kekuasaan tak luruh karena itu. Maka tak heran bila dengan gampangnya dia melakukan down grade untuk tidak mengincar capres.

“Tidak Menetes Serumpun pun jadi – Tidak Capres Cawapres pun Jadi”. Ibaratnya kalau nggak bisa berlomba di F1, ya F2 pun jadilah.

Malangnya, dalam intern Golkar pun belum sepakat, kalau mundur dari Capres juga belum otomatis direstui jadi Cawapres. Begitu puia dalam intern Gerindra pun belum serta merta menyebut ARB sebagai Cawapresnya Prabowo, setelah lobi politik tingkat tinggi di Hambalang, hari Senin 5/6/2014. Maksudnya tinggi karena rombongan Golkar datang menaiki Helikopter yang terbang tinggi.

Lupakan ARB.Capres tidak, Cawapres pun belum. Yang jelas Golkar sudah mantap koalisi dengan Gerindra. Dengan Capresnya yang sudah pasti, Prabowo Subianto.

Ancaman terhadap ARB menjadi-jadi tatkala tiba-tiba dari Partai Amanat Nasional membuka rahasia pembicaraannya dengan Prabowo, bahwa Hatta Rajasa disepakati menjadi Cawapresnya. Klaim ini dilontarkan oleh Ketua Bappilu PAN,Viva Yoga Rabu 7/5/2014 bahwa deal ini adalah harga mati bagi PAN. Atinya bila tidak wapres, PAN tidak berkoalisi dengan Gerindra.

Sementara kesepakatan Gerindra dengan Golkar tidak mensyaratkan apapun mengenai personalia, kecuali “keukeuh”nya Prabowo sebagai Capres. Tegasnya koalisi dengan Golkar terus jalan, dengan ARB Cawapres atau tidak.

Dengan fakta ini bisa disimpulkan betapa rentannya ARB atau Ical untuk saikucapang saikucape , seekor terbang, seekor lagi lepas :artinya Capres tidak, Cawaprespun lepas.

Ultah

Apakah bila ini terjadi, skenario “Kembalinya trah Soeharto melemah “? Sama sekali tidak. Beberapa pekan lalu , Prabowo muncul di hari ulang tahun Titiek Suharto. Titiek mengaku bahwa setiap ulang tahun mantan suaminya pasti datang. Kedatangannya setiap ultah bukan hal yang luar biasa Hanya karena tahun ini tahun politik, maka hal itu menjadi berita, kata Titiek.

Prabowo memang bukan suami Titiek lagi. Ia bukan mantunya Soeharto lagi. Bahkan memang bukan putra biologis Soeharto. Tetapi tetap orang tua kandungnya Didiet Prabowo, cucunya Soeharto

Tetapi selaras dengan habitat aslinya di Golkar maupun di dunia militer, Prabowo adalah putra idiologis Soeharto. Paltform politik yang digelar tidak jauh-jauh amat dengan langkah kebijakan Soeharto ketika memimpin negeri ini. Semuanya baik-baik saja.

Kini Prabowo melangkah mantap menuju RI-1. Rel yang dilalui sudah benar dan konstitutional. Puluhan juta suara konsituen Gerindra dan Golkar akan menghantarkannya. Belum kalau habib-habib dari PKS tak mau ketinggalan dan konsituen terpelajar dari PAN mendukung . Tidak seorangpun bisa menghentikan kecuali suara rakyat, yang juga suara Tuhan.

Skenario ini benar-benar akan terwujud bila penyakit amnesia massal melanda rakyat Indonesia (sudah terjadi) dan hanya menyisakan sedikit masyarakat waras.

O ya ada yang lupa. Kalau Prabowo berhasil mencapai RI-1. Siapa dong ibu negaranya? Mengapa mesti susah. Peribahasa Jawa mengatakan “Nganggo teklek neng krikilan. Tinimbang golek-golek luwih becik balen” ( Pakai teklek di krikilan, dari pada cari-cari lebih baik balen/rujuk) . Kalau peribahasa Jawa itu yang dianut maka kembali ke Cendana hanya tinggal menghitung hari. Piye Kabare ? Sih Enak Zamanku Tho ? Wallahua’lam. (Ais)

Ilustrasi: Soeharto (Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru