Friday, July 10, 2020
Home > Berita > Kemarau Basah Produksi Anjlok, Petani Garam Pantura Terpuruk

Kemarau Basah Produksi Anjlok, Petani Garam Pantura Terpuruk

Garam petani Pantura yang belum dijual. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.COM (Indramayu) – Sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat seperti Kabupaten Indramayu dan Cirebon merupakan daerah penghasil garam dalam skala cukup besar.

Namun sayangnya, memasuki musim kemarau tahun ini, jumlah produksi garam di kedua kabupaten itu anjlok. Dampaknya membuat nasib petani garam terpuruk. Hal itu disebabkan karena pengaruh cuaca kemarau yang masih dibarengi hujan. Masyarakat menyebutnya musim kemarau basah yang dampaknya produksi garam tidak maksimal.

Berdasarkan catatan pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, luas hamparan tanah yang biasa dipergunakan masyarakat untuk memproduksi garam mencapai 2.741 hektar. Wilayahnya tersebar di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Kandanghaur, Losarang, Cantigi, dan Krangkeng.

Dari luas hamparan garam seluas 2.741 hektar dengan target produksi sekitar 352.820 ton menjadikan Kabupaten Indramayu menempati urutan ke-3 sebagai daerah produsen garam terbesar se-Indonesia. Posisi pertama Kabupaten Cirebon 3.858 hektar target produksi 501.540 ton dan posisi kedua Kabupaten Sampang 3.064 hektar target produksi 398.391 ton.

Salah seorang petani garam di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Dadi menyebutkan, rata-rata produksi garam per hektar selama masa musim produksi garam yaitu bulan Juli hingga Oktober sekitar 130 ton.

“Tahun ini kami hanya menghasilkan garam sekitar 15 ton saja, jauh menurun dibandingkan tahun lalu. Hal itu disebabkan karena dirusak oleh hujan yang masih turun pada saat musim kemarau,” ujarnya.

Dikatakan, dengan angka produksi garam yang hanya mencapai 15 ton itu tidak cukup menutupi biaya hidup. Untuk menutupi biaya produksi saja sulit, karena produksi garam yang jauh dari harapan para petani. “Biasanya kami bisa menghasilkan 80 ton lebih selama masa produksi garam bulan Juli hingga Oktober,” kata petani garam ini.

Petani garam yang lain Darmin, 43 mengemukakan, tahun lalu cuacanya sangat bagus. Matahari bersinar sangat terik sehingga menguntungkan petani garam. Pada saat itu produksi garam bisa full selama bulan Juli hingga Oktober. “Tahun sekarang petani garam umumnya bangkrut karena produksi garam menurun tajam,” katanya.

Hujan yang sering turun pada musim kemarau sangat tidak memungkinkan bagi petani melakukan proses produksi garam. Sebagaimana dimaklumi, proses produksi garam membutuhkan sinar matahari untuk menjemur air garam di petak-petak hamparan garam menjadi butiran putih seperti kristal.

“Air garam yang tengah dijemur itu jika terkena air hujan sulit menjadi garam, karena air garamnya kembali muda lagi, sehingga membutuhkan masa penjemuran sianr matahari berhari-hari,” kata pria yang mengaku hanya memproduksi garam kurang dari 7 ton selama musim produksi garam. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru