Monday, September 16, 2019
Home > Berita > Kelaparan di Yaman Ancam 14 Juta Orang

Kelaparan di Yaman Ancam 14 Juta Orang

Kelaparan melanda banyak rakyat Yaman, mereka tak kuasa memenuhi kebutuhan makanan akibat terjadinya perang sipil. Program Pangan Dunia memperkirakan sekitar 14 juta orang Yaman mengais makanan yang tidak bergizi dan tidak sehat.(Al Jazeera/Reuters)

Kelaparan melanda banyak rakyat Yaman, mereka tak kuasa memenuhi kebutuhan makanan akibat terjadinya perang sipil. Program Pangan Dunia memperkirakan sekitar 14 juta orang Yaman mengais makanan yang tidak bergizi dan tidak sehat.(Al Jazeera/Reuters)

Mimbar-Rakyat.com (Sanaa) – “Ini adalah upaya saya setiap hari untuk mencegah kematian keluarga saya,” kata seorang pria, Mahdi Abdulla, sambil mengais-ngais sampah. Perang sipil di Yaman telah membuat sekitar 14 juta masyarakat kelaparan, makan apa adanya tanpa gizi dan kotor.

Program Pangan Dunia memperkirakan sekitar 14 juta orang Yaman mengkonsumi makan tidak sehat, tidak aman, mengisi perut dengan makanan sedapatnya, termasuk yang dikais dari pembuangan sampah. Demikian dilaporkan Khalid Al-Karimi dan Mohammed Al-Sameai untuk Al Jazeera.

Mahdi Abdulla, adalah salah satu kepala keluarga yang mengalami ancaman kelaparan. Dengan pipi cekung, tubuh kurus dan kulit pucat, dia hari-hari bergulat dengan penderitaan hidupnya. Warga Sanaa berusia 45 tahun ini tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Hanya satu tempat yang dia tahu untuk mengisi perut, tempat pembuangan sampah.

“Selama beberapa bulan, saya telah keluar dari pekerjaan. Saya belum mendapat satu rial pun,” kata Abdulla Al Jazeera. “Ini telah memaksa saya untuk menafkahi keluarga saya dengan cara apa pun, termasuk mencari makanan di tempat pembuangan sampah atau meminta bantuan pada orang lain,” katanya saat ditemui beberapa hari lalu.

Abdulla hidup di lingkungan Bait Bos Sanaa. Dia menjelajahi kota setiap hari, mengorek-ngorek setiap tumpukan sampah yang dia lalui untuk menemukan sesuatu untuk dimakannya bersama keluarganya dengan 10 anak.

“Ini adalah upaya saya setiap hari mencegah keluarga saya dari kelaparan dan kematian,” jelasnya. “Saya menjadi pengunjung tetap tempat sampah. Saya juga melihat orang-orang ada seperti saya.”

Jutaan orang telah menanggung beban perang sipil Yaman. Saat ini hampir memasuki tahun ketiga, dan kekurangan pangan besar-besaran telah mencengkeram negara termiskin di dunia Arab itu.

Ekonom Yaman, Ahmed Shamakh, mengatakan kepada Al Jazeera, perang telah mendorong Yaman ke arah bencana kelaparan.”Pembangunan telah berhenti di negeri ini. Bisnis juga telah ditutup. Ini sebagian besar memberikan kontribusi terhadap menambah memburuknya situasi pangan di Yaman,” kata Shamakh. “Selain itu, konflik telah menghilangkan lapangan,” katanya.

Warga sipil di Yaman selain mencari makan dari sampah juga ada yang mengambil sisa makanan yang mereka temukan di restoran. Itulah yang membantu mereka bertahan hidup. Sebelum perang sipil, Yaman sudah mengimpor 90 persen produk makanan dari luar negeri, namun proses impor telah terhenti ketika konflik terjadi.

Di Sanaa, Bashar 12 tahun merupakan salah satu korban krisis pangan Yaman. “Saya pergi ke jalan setiap hari, meminta-minta. Beberapa (orang) memberikan uang, dan beberapa tidak,” kata Bashar pada Al Jazeera. “Saya punya empat saudara. Ayah saya telah meninggal beberapa bulan lalu.”

PBB memperkirakan, lebih dari 370.000 anak-anak beresiko kelaparan di Yaman, sementara lebih dari dua juta putus sekolah karena perang yang sedang berlangsung.(Janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru