Monday, September 16, 2019
Home > Berita > Serangan Senjata Kimia Suriah, AS dan Rusia Makin Tidak Akur

Serangan Senjata Kimia Suriah, AS dan Rusia Makin Tidak Akur

Donald Trump (Foto: Reuters/Al Jazeera)

Donald Trump (Foto: Reuters/Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Washington) – Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Rusia saat ini sedang tidak akur. Hal itu diungkapkan dalam pertemuan pers di Gedung Putih, Rabu (12/13) atau Kamis (WIB), terkait serangan udara senjata kimia yang dilakukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, di Khan Sheikhoun,  provinsi Idlib.

Trump mengatakan, hubungan AS-Rusia saat ini mungkin terendah. Keadaan itu bertentangan dengan
janji kampanye yang menjanjikan akan meningkatkan hubungan dengan Moskow. Diplomat top-nya, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, juga melontarkan penilaian sama setelah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, Rabu.

“Saat ini kami sama sekali sedang tidak akur dengan Rusia,” kata Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, seperti dilaporkan Al Jazeera yang mengutip beberapa kantor berita.

AS memang telah mengirimkan sinyal tentang strategi terkait perang Suriah. AS dan Rusia telah berulang kali silang pendapat soal Suriah, setelah Suriah diduga melakukan serangan kimia pekan lalu dan disikapi AS dengan serangan rudal ke pangkalan udara Suriah.

“Ini akan menjadi hal yang fantastis jika kita bergaul dengan Putin dan  Rusia,” kata Trump tentang hubungan AS dan Rusia yang makin tidak akur.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan hubungan AS dan Rusia berada pada titik rendah dan ditandai dengan ketidakpercayaan yang serius.

“Terjadi tingkat kepercayaan yang rendah antara kedua negara,” kata Tillerson di Moskow, saat mengadakan konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov . “Dua kekuatan nuklir utama dunia tidak boleh memiliki hubungan semacam ini,” katanya.

Rusia Gunakan Hak Veto

Sementara itu  Arab News melaporkan, Rabu atau Kamis (WIB), Rusia telah memveto rancangan resolusi PBB yang menuntut rezim Suriah bekerja sama dengan investigasi,  terkait serangan gas beracun yang mematikan terhadap warga sipil Suriah.

Ini adalah kedelapan kalinya Rusia menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk memblokir tindakan yang ditujukan pada sekutunya.

Sedang AS mengatakan, keputusan Rusia dengan terus mendukung Presiden Suriah  sama saja  dengan mengisolasi dirinya sendiri.  Sementara Inggris mengatakan bawa para ilmuwan telah menemukan bukti bahwa sarin digunakan dalam serangan gas beracun yang mematikan warga sipil Suriah pekan lalu.

“Untuk rekan-rekan saya dari Rusia, Anda mengisolasi diri dari masyarakat internasional setiap kali salah satu pesawat Assad menjatuhkan bom barel lain pada warga sipil, dan setiap kali Assad mencoba menimbulkan kelaparan pada komunitas lain sampai mati,” kata Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley di DK PBB.

Wakil Duta Besar Rusia di PBB Vladimir Safronkov menyatakan negara-negara Barat terlalu dini menyalahkan Assad atas serangan di kota Khan Sheikhun. “Saya kagum bahwa ini adalah kesimpulan. Belum ada orang yang mengunjungi situs kejahatan. Bagaimana Anda tahu itu?” katanya.

Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft mengatakan kepada DK PBB bahwa sampel yang diambil dari situs  serangan gas, di daerah oposisi telah diuji dan positif  sarin gas saraf. Dia menuduh Rusia berpihak kepada “pembunuh, kriminal barbar, bukannya terhadap rekan-rekan internasionalnya.”***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru