Tuesday, October 23, 2018
Home > Editorial > Kebelet Jadi Presiden

Kebelet Jadi Presiden

Kebelet Jadi Presiden

Ibarat terdesak pingin buang air (kebelet) maka perlu segera ditunaikan.Karena berbahaya bagi prostat bila ditahan_tahan.
Begitu pula bila syahwat politik sudah naik di kepala tidak elok berpura pura.
Saat ini tercatat sudah 3 sampai 4 orang yang sudah menyatakan minat jadi presiden.
Ada Rizal Ramli, Abraham Samad, Gatot Nurmantyo, Prabowo serta beberapa nama lain yang masih lihat angin.
Yang menarik meski belum sah mencalon, sebelumnya ribut soal ganti presiden sudah jadi trending topik. Pendaftaran untuk Pilpres 2019 baru dibuka Agustus nanti.
Dimulai dari ide kreatif Mardani Sera (PKS) tagar ini menjadi virus yang mewabah. Lagu “kebangsaanpun” bergema. Nama artis pun dicatut agar lagu dianggap berbobot. Forum pilkada pun dipelesetkan jadi kampanye Ganti Presiden.
Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung Partai Gerindra dan PKS, Sudrajat menyatakan, “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden” merupakan tagline pasangan Asyik di Pilkada Jawa Barat.
Eks Gitaris Boomerang, John Paul Ivan, melaporkan mediapribuminews.i.d ke Bareskrim Polri.

Media tersebut pertama kali menyebarkan informasi bohong yang menyebutkan dirinya pencipta lagu ‘2019 Ganti Presiden’.
Virus pun berkembang-biak mulai dari kaos hingga medsos. Dari moril hingga takjil.

Jusuf Kalla (JK) menyebut sedekah selama bulan Ramadan seharusnya tak bermuatan politis.

Ia menanggapi takjil gratis dengan label 2019 Ganti Presiden oleh sekelompok relawan di area Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat pada Kamis (24/5) lalu.

“Tentu itu tidak etis. Kalau ibadah ya ibadah saja, kalau sedekah ya sedekah saja, tidak perlu dimasukkan politik-politik begitu, kan,” kata Wapres .
Hal tersebut dapat dianggap sebagai kampanye secara terselubung.
Tapi siapa yang dikampanyekan? Lazimnya kampanye adalah untuk mengajak memilih. Bukan untuk menolak.
Barangkali logika terbalik ini adalah metode terbaru yang diuji-cobakan dalam komunikasi politik zaman Now. Who knows?

Kegiatan tagar #2019gantipresiden telah dipersekusi sejak Mei 18 pada Hari Bebas Kendaraan atau Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Kelompok itu pun memancing rival yang menyebut diri relawan dengan tagar “Dia Sibuk Kerja”.Kelompok penyeimbang ini nasibnya kurang populer.
Aktivitas kelompok kebelet ini akibat dari ketidakjelasan aturan kampanye oleh Komisi Pemilihan Umum. KPU hanya mengatur kampanye pada masa kampanye yang ditetapkan.

Kalau itu dilakukan sebelum masa kampanye pemilu; tidak ada aturannya.
Ibarat main bola sebelum wasit meniup peluit start kick, aturan belum berlaku. Wasit pun belum punya kuasa mengeluarkan kartu.

Nah sekarang para calon pemain justru melakukan pemanasan dengan atraksi atraksi yang menarik. Di luar masa kampanye. Dimana belum ada aturan yang mengikatnya.Pintar khan dia….
Toh, rasanya tidak perlu ditanggapi serius. Apalagi sampai kegatelan, sampai KPU melarang. Anggap saja itu sebagai “kenakalan remaja” dalam proses berdemokrasi.

Inisiator gerakan 2019 Ganti Presiden, Mardani Ali Sera, menegaskan tak akan menyebut nama siapa pun yang akan menjadi presiden pada 2019.Gerakan tersebut fokus hanya ingin adanya presiden baru.Pokoknya ABJ. (Asal bukan Jokowi). Hanya saja tak berani disebut gamblang begitu.Tak sopan khan….

Asyiknya yang disasar gerakan ini tak bergeming.Setidaknya belum terusik. Ia lebih sibuk terbang kesana kemari. Dari meresmikan bandara, bendungan, jalan tol sampai bagi-bagi takjil….. eh sertifikat tanah.
Sesekali tampil a la Dilan. Ia (mungkin) sadar tak ada aturan yang melarang bikin tagar Ganti apa pun. Ganti Presiden; Ganti Pemain; atau Ganti Kostum…
Atau (mungkin) ia menjawab dengan cara lain. Toh aktivitas nyata itu mempunyai kandungan kampanye yang luar biasa. Dibanding kampanye modal “angin” belaka.
Nah, siapa yang lebih pintar sebenarnya…

Apapun, dinamika demokrasi yang terjadi di Indonesia indah. Sehingga dunia boleh kagum atas kreatifitasnya.
Bahwa tahun 2019 akan ganti presiden itu, insyaallah. Karena agenda nasional sudah menetapkan begitu.
Bagi yang kebelet silahkan segera tunaikan hajatnya. Bagi yang kini dapat giliran berkuasa silakan menuntaskan masa tugasnya.
Bahwa pengganti Jokowi periode 2014-2019 itu nanti bernama Pranowo, Prasojo, atau Jokowi…lagi, hanya Allah yang tahu.
Karena kekuasaan itu mutlak miliknya. Ia akan memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. (Ais)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru