Wednesday, June 20, 2018
Home > Cerita > Jumat di Menado

Jumat di Menado

Jumat di Menado

Kumegarkan daun telinga mencari suara azan disubuh buta
Tak bergetar membran karena sumber suara jauh diujung negeri
Tertutup altar bias dengan cicit burung gereja

Di Paniki Bawah masjid tua berselisih dengan tembok ruko
Karpetnya gundul horen nya terserang flu stadium empat
Tercium aroma apek ketika sujud jumatan disana

Khatibnya muda masih menyimpan semangat
Didepan jamaah yang masai dengan ghirah yang hampir padam
Jalan kesana menyusur gang berlapis aspal muda

Ketika Spanyol menanamkan pondasi bentengnya abad 16 lalu
Puncak gunung Lokon dan Soputan menjadi saksi
Tanah minahasa mulai menjadi
bumi nasrani

Di pangkuan Belanda Minahasa menjadi anak manja
Tapi masih ada Sam Ratulangi, Lapian , Maramis,Monginsidi dekaka
Yang memegang erat ujung akar keindonesiaan
Yang meraih lambaian pucuk nyiur kenusantaraan

Tamura anak muda kristiani yang mengantar saya jumatan
Menunggu dengan sabar diberanda gereja seberang jalan
Diwajahnya ada senyum keikhlasan
Di tangannya ada sesisir pisang
Untuk rekannya sepulang jumatan

Ahmad Istiqom ,Bandara Sam Ratulangi 1 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru