Saturday, December 07, 2019

PEMUNGUTAN suara pada pemilihan umum (Pemilu) 2014 untuk legislatif (DPR, DPD, dan DPRD), 9 April 2014, tinggal menghitung hari. Partai politik (parpol) peserta pemilu pun telah melakukan kampanye terbuka sejak 16 Maret. Seperti pada kempanye-kampanya yang pernah terjadi pada pemilu sebelumnya, penampilan elite partai, juru kampanye, serta calon legislatif (caleg) tidak banyak berbeda. Bak promosi bumbu masak khusus kecap, semua mengaku nomor satu.

Pembertantasan korupsi, menyejahterakan rakyat, sekolah dan berobat gratis, membuka lapangan kerja, membangun daerah, merupakan contoh janji-janji yang diutarakan partai politik. Bahkan parpol yang jelas-jelas sejumlah anggotanya yang duduk di DPR melakukan korupsi, dengan gagah berani menyatakan bahwa partai mereka tetap konsisten dengan program memberantas korupsi.    

Apa yang disuarakan sejumlah partai dalam berkampanye pantas membuat sejumlah orang ketawa ngakak. Sesuatu yang wajar, sebab sejumlah parpol  tidak hanya “nekad” dengan janji-janji yang belum tentu bisa mereka penuhi, tetapi juga coba menjual  pemimpin untuk dicalonkan sebagai calon presiden. Meski umumnya masyarakat tahu kemampuan pemimpin yang mereka “jajakan”, namun tak jarang parpol  terlalu membesar-besarkan, seolah-olah sosok yang mereka “jual”  mampu menyulap negeri menjadi berubah total.

Jualan parpol menjelang pemilu, yang hanya berupa janji-janji kosong, bisa jadi tidak hanya membuat sebagian pemilik suara tertawa sinis, tetapi tidak tertutup kemungkinan mendorong tetap lahirnya golput atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilih. Apalagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak kunjung menyelesaikan sejumlah persoalan, seperti  masalah daftar pemilih tetap (DPT).

Golput tetap membayangi Pemilu 2014. Ini tantangan bagi KPU,  pemerintah, serta parpol peserta pemilu. Ingat, pemilih bukanlah anak-anak yang hanya cukup dibujuk dengan berbagai janji. Persiapan KPU, keseriusan pemerintah, dan penampilan parpol akan menjadi rujukan bagi pemilih. Golput bisa saja tetap tinggi, jika semuanya dianggap tidak serius, dan tidak akan menghasilkan perubahan di negeri ini.

Tingginya pemilih yang tidak memberikan suara bukan hanya ancaman. Tetapi sudah terbukti dalam sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada), bahkan tidak jarang jumlah golput lebih besar dibanding yang memberikan hak suara.

Karenanya KPU, pemerintah, juga parpol peserta pemilu tidak boleh meremehkan ancaman golput. KPU dan pemerintah masih harus bekerja keras,  serta wajib didukung parpol, yakni berupaya agar masyarakat pemegang hak suara menyadari bagaimana pentingnya berpartisipasi, menentukan pilihan dalam Pemilu 2014

Tidak perlu ada ancaman, apalagi menak-nakuti rakyat, agar memberikan suara mereka di pemilu nanti. Yang perlu dilakukan adalah menyadarkan rakyat pemilih tentang pentingnya pemilihan umum, serta betapa berharganya suara mereka untuk menuntukan arah negeri ini dimasa datang.

KPU dan pemerintah sewajarnya berperan besar agar tidak terjadi kebohongan politik. Elite parpol selayaknya pula  menertibkan anggotanya, baik di parlemen maupun di tengah masyarakat, agar jangan asal ngomong. Ingat, partisipasi pemilih  sangat penting. Legitimasi kekuasaan ditentukan rakyat.  Jangan jadikan kepercayaan rakyat hanya untuk pepentingan pribadi dan kelompok. Jangan bohongi rakyat.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru