Sunday, July 12, 2020
Home > Nusantara > Jokowi-JK Versus Prabowo-Hatta , Satu Putaran Saja

Jokowi-JK Versus Prabowo-Hatta , Satu Putaran Saja

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) Pasangan Jokowi- Jusuf Kalla dari PDIP dan partai pendukungnya  serta pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dari Gerindra dan partai pendukungnya resmi mendeklarasikan pencalonan Pilpres Senin 19/5/2014 di Jakarta

Pasangan Jokowi-JK setelah mendeklarasikan di Gedung Joeang 45 langsung mendaftarkan ke KPU, sementara pasangan Prabowo setelah deklarasi Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak I/29, Otista – Jakarta Timur akan mendaftarkan Selasa 20/5/2014.

Jokowi didukung oleh Partai Nasdem, PKB, dan Hanura, sementara Gerindra didukung PKS. PAN,PPP dan Golkar. Dengan demikian dipastikan Pilpres 9 Juli nanti hanya akan diikuti 2 pasangan. Pastinya lagi, pemilihan presiden hanya akan belangsung satu putaran.

Partai Golkar mempersilakan Jusuf Kalla maju sebagai bakal calon wakil presiden bagi Joko Widodo. Namun, secara formal, Partai Golkar tidak akan merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai salah satu partai pengusung Jokowi-JK.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono di Istana Negara, Senin (19/5/2014). “Tidak mungkin berhubungan secara formal dengan kubu PDI-P karena tadi malam sudah seperti itu (pertemuan Aburizal dengan Megawtai),” kata Agung. Ya tidak jadi capres atau cawapres, tapi beberapa kursi menteri dapatlah, tambah Agung.

Untuk kehadirannya di koalisi ini. Golkar mendapat janji akan mendapatkan kursi beberapa menteri, kata petinggi Golkar lainnya, Yoris Raweyai.

Dalam eklarasi yang dihadiri para petinggi partai pendukungnya, Golkar yang bergabung pada menit terakhir hanya diwakili sekjennya, Idrus Marham.

Gugurnya rencana koalisi PDI-P dengan Partai Golkar juga diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Dari pernyataan Hasto tersirat bahwa Partai Golkar menawarkan gaya berpolitik transaksional yang selama ini dihindari PDI-P. Hasto menegaskan, kerja sama politik yang dilakukan PDI-P dilakukan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Syarat utamanya adalah komitmen pada pembangunan bangsa dan bukan untuk bagi-bagi kekuasaan.

“Dengan Golkar, pintu sudah dibuka. Namun, ketika uluran tangan tidak menyepakati hal tersebut, maka kerja sama dengan Golkar menjadi tak realistis,” kata Hasto.

Nyempal

Proses penggabungan koalisi penuh dinamika. Kalau Jusuf Kalla bisa dianggap nyempal dari induknya Golkar, maka hal serupa juga terjadi di kubu Hanura maupun PKB. Hary Tanu sebagai tokoh Hanura ternyata tidak sepakah dengan bossnya, Wiranto, dan menyatakan bergabung ke kubu Prabowo. Begitu juga Rho,a Irama dan Mahfud Md yang semula digadang-gadang PKB, diklaim oleh Prabowo menyatakan bergaung ke kubunya.

Nuansa deklarasi kedua kubu terlihat berbeda> Kubu Jokowi mengesankan kesederhanaan, dilakukan dilapangan terbuka tanpa pelindung dari terik matahari. Sementara nuansa deklarasi kubu Prabowo terlihat lebih rapid an seragam meski tidak terlihat mewah. Satu-satunya yang sama adalah para petinggi partai kedua kubu memilih baju putih sebagai official dress nya.

Demokrat

Dengan selesainya deklarasi ini, satu-satunya partai yang tidak mendapat pasangan adalah Partai Demokrat alias jomblo. Istilah yang digunakan Demokrat adalah akan netral. Ungkapan yang penuh teka-teki.

Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo bambang Yudoyono telah mengikhlaskan dirinya tidak menjadi peserta. SBY menjamin, meski demikian, anggotanya tidak akan menjadi golput.(Ais)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru