Friday, February 28, 2020
Home > Sosok > Jenderal…Pengusaha…Politisi

Jenderal…Pengusaha…Politisi

Prabowo Subianto sedang melakukan manuver, bukan melalui punggung kudanya, melainkan dari balik meja. Masih susah diprediksi. Ia melakukan pendekatan dengan PKS, kemudian beberapa hari kemudian merapat ke Golkar. Tak lama kemudian bersalaman dengan Wiranto.

Pihaknya tak menyangkal bahwa power sharing dibutuhkan dalam politik, karena hal itu merupakan hokum alam dan menjadi hal yang lumrah. Pihak Gerindra menyebutkan dengan istilah “koalisi ikhlas.”

Hubungan Gerindra dan PKS memasuki babak penting setelah Prabowo Subianto resmi mengajukan surat ke PKS berisi ajakan berkoalisi pada Jumat 25 April lalu. Surat itu diberikan setelah Prabowo menemui Ketua Dewan Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Presiden PKS Anis Matta, serta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho mengatakan, Majelis Syuro PKS masih membahas surat tersebut. Ia mengklaim PKS juga melakukan komunikasi dengan dua petinggi partai lain, yakni Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dan

Ketua Umum Hanura Wiranto. Namun mereka belum menyampaikan surat secara resmi seperti Prabowo.
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto pun selanjutnya bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical. Ical menyatakan pertemuan di kediamannya itu hanya sebatas silaturahmi antar-teman. Apalagi Prabowo juga pernah menjadi kader Partai Golkar.

Prabowo kini menjadi salah satu calon orang nomor satu di Indonesia. Apa sih latar belakang sang Jenderal itu? Ini sepenggal kisah hidupnya:

Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai salah satu tokoh kontroversial ketika masa reformasi, adalah ketua partai Gerindra, yang memiliki banyak pengalaman di berbagai bidang seperti militer, pengusaha serta di kancah dunia politik, yang ia geluti akhir-akhir ini.

Pada Pemilu 2014, ia diusung oleh Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) untuk maju menjadi calon presiden Republik Indonesia 2014 setelah gagal dalam pemilu 2009 serta 2004.

Banyak hal kontroversi dialamatkan kepada Prabowo semasa ia berkarier militer.

Prabowo Subianto dilahirkan pada 17 Oktober 1951, merupakan anak pakar ekonomi Indonesia pada zaman Soekarno dan Soeharto, Prof Soemitro Djojohadikusumo. Prabowo merupakan cucu dari Pendiri Bank Indonesia dan juga anggota BPUPKI untuk kemerdekaan Indonesia yaitu Raden Mas Margono Djojohadikusumo.

Prabowo memiliki dua kakak perempuan bernama Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, serta satu adik laki-laki yang kini menjadi seorang pengusaha handal bernama Hashim Djojohadikusumo. Pada 1970, Prabowo Subianto memulai karirnya saat ia mendaftarkan diri di Akademi Militer Magelang, kemdian lulus pada 1974 dari Akademi Militer dan pada 1976 diamanahkan sebagai Komandan Pleton Para Komando Grup I Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) dan ditugaskan sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur.

Tokoh enejrjik ini menikah dengan Titiek, putri presiden Soeharto. Pernikahan Prabowo dengan Titiek berakhir tidak lama setelah Soeharto mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Dari pernikahannya dengan Titiek, Prabowo dikaruniai seorang anak, Didiet Prabowo, yang tumbuh besar di Boston, AS dan sekarang tinggal di Paris, sebagai seorang desainer.

Setelah kembali dari Timor Timur, karir militer Prabowo terus melejit dan pada 1983 ia dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teroris (Gultor) Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). Setelah menyelesaikan pelatihan “Special Forces Officer Course” di Fort Benning, Amerika Serikat, Prabowo diberi tanggungjawab sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara.

Banyak hal kontroversi dan dugaan pelanggaran HAM dilakukan oleh Prabowo saat ia berkarir di bidang militer. Pada 1983, kala itu masih berpangkat Kapten, Prabowo diduga pernah mencoba melakukan upaya penculikan sejumlah petinggi militer, termasuk Jendral LB Moerdani, namun upaya ini kabarnya digagalkan oleh Mayor Luhut Panjaitan, Komandan Den 81/Antiteror.

Prabowo sendiri adalah wakil Luhut saat itu. Pada 1990-an, Prabowo diduga terkait dengan sejumlah kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Pada 1995, ia diduga menggerakkan pasukan ilegal yang melancarkan aksi teror ke warga sipil.

Peristiwa ini membuat Prabowo nyaris baku hantam dengan Komandan Korem Timor Timur saat itu, Kolonel Inf Kiki Sjahnakrie, di kantor Pangdam IX Udayana. Sejumlah lembaga internasional menuntut agar kasus ini dituntaskan. Menurut pakar hukum Adnan Buyung Nasution, kasus ini belum selesai secara hukum karena belum pernah diadakan pemeriksaan menurut hukum pidana.

Pada 1997, Prabowo diduga mendalangi penculikan dan penghilangan paksa terhadap sejumlah aktivis pro-reformasi. Setidaknya 13 orang, termasuk seniman ‘Teater Rakyat’ Widji Thukul, aktivis Herman Hendrawan, dan Petrus Bima hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Mereka diyakini sudah meninggal. Prabowo sendiri mengakui memerintahkan Tim Mawar untuk melakukan penculikan kepada sembilan orang aktivis, di antaranya Haryanto Taslam, Desmond J Mahesa dan Pius Lustrilanang.

Namun demikian, Prabowo belum diadili atas kasus tersebut walau sebagian anggota Tim Mawar sudah dijebloskan ke penjara. Sebagian korban dan keluarga korban penculikan 1998 juga belum memaafkan Prabowo dan masih terus melanjutkan upaya hukum. Sebagian berupaya menuntut keadilan dengan mengadakan aksi ‘diam hitam kamisan’, aksi demonstrasi diam di depan Istana Negara setiap hari Kamis. Sebagian lagi telah bergabung dengan kepengurusan Partai Gerakan Indonesia Raya, bahkan duduk di DPR RI.

Ajak membangun negara

Haryanto Taslam yang telah menjadi anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, mengatakan “Prabowo sudah minta maaf pada saya. Dia juga mengajak saya bergabung untuk membangun negara ini. Saya adalah korban Prabowo dan Prabowo adalah korban politik saat itu. Dia juga korban. Prabowo hanya merupakan tentara yang mematuhi perintah atasannya. Ide penculikan bukan dari Prabowo. Rezim Orde Baru saat itu pun represif. Jika bukan Prabowo pasti orang lain yang akan diperintah untuk menculik.”

Prabowo Subianto juga diduga mendalangi Kerusuhan Mei 1998 berdasar temuan Tim Gabungan Pencari Fakta. Dugaan motifnya adalah untuk mendiskreditkan rivalnya Pangab Wiranto, untuk menyerang etnis minoritas, dan untuk mendapat simpati dan wewenang lebih dari Soeharto bila kelak ia mampu memadamkan kerusuhan. Juga pada Mei 1998, menurut kesaksian Presiden Habibie dan purnawirawan Sintong Panjaitan, Prabowo melakukan insubordinasi dan berupaya menggerakkan tentara ke Jakarta dan sekitar kediaman Habibie untuk kudeta. Karena insubordinasi tersebut ia diberhentikan dari posisinya sebagai Panglima Kostrad oleh Wiranto atas instruksi Habibie.

Masalah utama dari kesaksian Habibie ialah, sebenarnya, pasukan yang mengawal rumahnya adalah atas perintah Wiranto, bukan Prabowo. Pada brifing komando tanggal 14 Mei 1998, panglima ABRI mengarahkan Kopassus mengawal rumah presiden dan wakil presiden. Perintah ini diperkuat secara tertulis padal 17 Mei 1998 kepada komandan senior, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, Pangdam Jaya pada waktu itu.

Dalam buku biografinya, Prabowo yakin ia bisa saja melancarkan kudeta pada hari kerusuhan Mei itu. Tetapi yang penting baginya ia tidak melakukannya.

“Keputusan memecat saya adalah sah,” katanya. “Saya tahu, banyak di antara prajurit saya akan melakukan apa yang saya perintahkan. Tetapi saya tidak mau mereka mati berjuang demi jabatan saya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menempatkan kebaikan bagi negeri saya dan rakyat di atas posisi saya sendiri. Saya adalah seorang prajurit yang setia. Setia kepada negara, setia kepada republik”.

Prabowo, kini, malah sudah “islah” dengan Wiranto, berjabatan tangan di depan publik, menjelang Pemilu presiden 2014. Dalam politik, seperti pameo masyarakat, memang tidak ada musuh atau teman abadi, yang ada hanya kepentingan.

Setelah berhenti berkarier dari Dunia Militer, Prabowo kemudian memulai peruntungannya menjadi seorang pengusaha mengikuti jejak adiknya Hashim Djojohadikusumo.

Karir Prabowo sebagai pengusaha dimulai dengan membeli perusahaan kertas Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang, Kalimantan Timur. Sebelumnya Kiani Kertas dimiliki oleh Bob Hasan, pengusaha yang dekat dengan Presiden Suharto. Prabowo Subianto membeli Kiani Kertas menggunakan pinjaman senilai Rp1,8 triliun dari Bank Mandiri.

Selain mengelola Kiani Kertas, yang namanya diganti oleh Prabowo menjadi Kertas Nusantara, kelompok perusahaan Nusantara Group yang dimiliki oleh Prabowo juga menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Usaha yang dimiliki Prabowo bergerak di bidang perkebunan, tambang, kelapa sawit, dan batu bara.

Banyak kalangan menilai, Prabowo cukup sukses dalam berusaha. Pada Pilpres 2009, Prabowo ialah cawapres terkaya, dengan total aset sebesar Rp1,579 triliun dan US$ 7,57 juta, termasuk 84 ekor kuda istimewa yang sebagian harganya mencapai tiga milyar per ekor serta sejumlah mobil mewah seperti BMW 750Li dan Mercedes Benz E300. Kekayaannya ini besarnya berlipat 160 kali dari kekayaan yang dia laporkan pada 2003. Kala itu ia hanya melaporkan kekayaan sebesar 10,153 milyar

Setelah sukses menjadi seorang pengusaha, Prabowo memulai peruntungan karirnya di bidang politik, ketika mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Konvesi Capres Golkar 2004. Meski lolos sampai putaran akhir, akhirnya Prabowo kandas di tengah jalan. Ia kalah suara oleh Wiranto. Kemudian pada tahun 2009, Prabowo Subianto memulai peruntungannya kembali menjadi calon presiden pada Pemilu 2009.

Ia menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati yang maju menjadi calon presiden RI namun hasil pemilihan umum berkata lain, Megawati yang berpasangan dengan Prabowo kalah dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono yang menajdi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

PadaPemilu 2014, Partai Gerakan Indonesia Raya telah menyatakan mengusung Prabowo sebagai calon presiden pada pemilihan presiden 2014 dan Prabowo menyatakan kesediaannya dan kini ia melakukan berbagai manuver untuk mewujudkan impannya.

Prabowo kini bermukim di Desa Bojongkoneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, di arena sangat asri dan luas. Lahan kompleks rumah Prabowo mencapai belasan hektar, ada helipad di sudut rumah dan di sisi lain terdapat lapangan luas berpagar untuk berkuda. Ada juga lahan untuk kandang kambing serta lahan pertanian menanam pisang, cabe, tomat dan semacamnya.

Prabowo, kini berusaha jadi orang nomor satu di Indonesia, jadi Presiden RI menggantikan SBY. Kelak ia akan mendapat panggilan sebagai Presiden PSD alias Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Tapi, perjalanan menuju kursi nomor satu it masih beberapa bulan lagi sejak April 2014 ini, karena manuver para politisi termasuk para calon presiden masih panjang, berlika-liku dan sulit diprediksi.

Semoga sukses membawa amanah Komandan! (Dari berbagai sumber / KB)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru