Wednesday, November 13, 2019
Home > Berita > Jenderal Tito Akui Rutan Mako Brimob Tak Miliki Keamanan Maksimal

Jenderal Tito Akui Rutan Mako Brimob Tak Miliki Keamanan Maksimal

Mako Brimob Kelapa Dua. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Depok) – Jenderal Tito Karnavian, Kapolri mengakui Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, tidak layak menampung narapidana kasus teroris, karena tidak memiliki keamanan maksimal.

“Menjadi bagian evaluasi dari kami,” katanya di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5).

Dijelaskan, rutan itu awalnya dibangun bagi aparatur negara dan penegak hukum seperti polisi, hakim, jaksa yang bermasalah hukum. Karena khawatir keselamatan jika dicampur dengan narapidana lain, maka dibangunlah rutan di Mako Brimob.

“Itu sebetulnya. Namun, karena ada dinamika, perlu ada tempat di mana bisa melakukan pemeriksaan, tempat yang paling aman adalah Markas Brimob. Namun, Markas Brimob ini terkurung memang. Rutan ini berada di lingkungan markas, jadi memang gak bisa kemana-mana. Tapi di dalam nggak layak, bukan didesain maksimum securty untuk teroris,” terangnya.

Ditambahkan, rutan untuk narapidana kasus teroris di Mako Brimob kelebihan kapasitas. Disebutkan idealnya nara pidana yang ditampung maksimal 90 orang.

“Saya juga baru tahu sampai 155 orang di dalam itu. Jadi sangat sumpek sekali. Apalagi di ujung itu ada ruang pemeriksaan tempat menginterview,” katanya.

Tito menyebut, polisi mengedepankan azas kepatuhan hukum dalam melakukan operasi melumpuhkan perlawanan narapidana teroris di Mako Brimob.

Tito mengatakan meski bersedih lima personel gugur polisi tetap menggunakan kepala dingin menghadapi perlawanan napi teroris dengan tidak membalas membunuh tanpa aturan.

“Ini harus dibedakan, memang kita yang bersenjata tetap memiliki aturan dengan terorisme yang mereka tidak memiliki aturan membunuh sembarangan, kita tidak. Tapi kalau saat itu mereka tidak menyerahkan diri maka itu sudah jelas akan sangat tegas,” katanya kepada wartawan.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu menjelaskan dalam kerusuhan yang terjadi sejak Selasa (8/5) itu terjadi dua peristiwa yakni penyerangan kepada petugas yang mengakibatkan korban jiwa dan penyanderaan polisi.

Operasi yang dilakukan dinilai Tito berhasil karena selain sandera selamat, tidak ada korban jiwa tambahan baik dari napi maupun polisi.

“Di dalam teori penanganan penyanderaan indikator keberhasilan operasi penyanderaan itu adalah kalau sanderanya hidup, kalau sanderanya mati gagal. Sanderanya alhamdulillah bisa hidup, yaitu Brigadir Iwan Sarjana. Itu berarti sukses sudah separuh. Yang kedua adalah bagaimana penyanderannya juga sedapat mungkin korban minimal, supaya bisa kita proses hukum,” tandasnya.

Sebelumnya polisi memilki dua opsi, yakni langsung menyerang dan memberikan peringatan terlebih dahulu. Opsi kedua dipilih hingga akhirnya 155 napi teroris menyerahkan diri. (i/dir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru