Monday, September 23, 2019
Home > Berita > Jeepney, Raja Jalanan itu Terancam Tergusur dari Jalan Raya Manila

Jeepney, Raja Jalanan itu Terancam Tergusur dari Jalan Raya Manila

Unjuk-rasa anti penghapusan angkuran umum Jeepney di Manila. (Foto: EPA/BBC News)

Unjuk-rasa anti penghapusan angkuran umum Jeepney di Manila. (Foto: EPA/BBC News)

Jeepney. Jika anda pernah berkunjung ke Manila, Filipina, pasti anda memiliki kesan yang sulit dilupakan terhadap kendaraan umum yang satu ini. Raja jalanan, angkutan “tradisional” di  Filipina yang berwarna-warni ini tampil mencolok, menguasai jalan raya.  Jeepneys adalah bentuk transportasi umum yang populer di seluruh Filipina.

Angkutan ikonik atau ciri khas Filipina ini sangat akrab dengan masyarakat di negera tersebut. Kendaraan yang dihiasi berbagai gambar warna warni, dengan warna mencolok, menguasai jalan raya. Mereka bersaing satu sama lain. Meski harus berbeneturan antara satu Jeepney dengan lainnya, penegemudinya tak naik darah. Mereka bisa menerima dengan santai.

Pemandangan yang mendominasi lalu lintas di Manila itu kemungkinan akan segera lenyap. Awal tahun ini, pihak berwenang meluncurkan sebuah program yang dinilai masyarakat kontroversial, yakni akan  memodernisasi sistem transportasi umum, termasuk bus, van utilitas, dan jeepneys.

Jeepney yang penuh warna warni. (Foto: Getty Images/BBC News)
Jeepney yang penuh warna warni. (Foto: Getty Images/BBC News)

Menurut laporan BBC News, kelompok organisasi transportasi berpendapat hal itu tidak adil bagi supir jeepney. Rencana itu disambut para sopir, keluarga, pemilik, dan pengusaha jeepney dengan pemogokan dua hari berturut-turut atau yang ketigakalinya tahun ini.

Sebuah pemogokan angkutan umum telah memicu perdebatan sengit di Filipina. Sekolah mengumumkan penangguhan kelas, sementara kantor pemerintah diperintahkan ditutup akibat pemogokan tersebut.

Seperti halnya Yelow Taxi atau taksi kuning New York dan bus double-decker merah di Inggris dan taksi-taksi murah di sejumlah negara, jeepneys identik dengan budaya Filipina yang dikenal dengan tarif murah, tempat duduk dan dekorasi yang meriah.

Namun jeepney juga dituding sebagai simbol kemacetan lalu lintas dan polusi udara Manila yang terkenal. Karena itu tidak heran pemerintah ngotot melakukan  perubahan, menghapus jeepney yang umumnya terdiri atas kendaraan tua, diganti angkutan  yang ramah lingkungan.

Badan Pengawas dan Tata Kerja Angkutan Darat di negara itu menyatakan ada 180.000 jeepneys yang perlu diganti. Semua bus, jeepneys dan van utilitas umum  akan diatur dengan sistem pembayaran ongkos otomatis pada tahun 2020.

Pembicaraan mogok transportasi mendominasi Twitter di Filipina dan memicu debat sengit di antara banyak pengguna media sosial. Sebuah gerakan Twitter berjudul ‘No To Jeepney Phaseout’ mendapat momentum kuat dengan banyak orang Filipina secara online.

Pengguna Twitter Maria Kolina mengemukakan hal berikut: “Kita harus mempertimbangkan komuter kelas non-pekerja. Bagaimana mereka bisa membayar tarif yang diusulkan?”

Di antara yang berkomentar di Twitter adalah Julius Cainglet, dari Manila. Sebagai pengemudi jeepney reguler, dia menyuarakan dukungan pribadinya untuk para pendemo yang berpartisipasi dalam pemogokan Senin.

“Pengemudi Jeepney termasuk yang paling miskin dan paling rentan. Dan jeepneys adalah bagian dari budaya Filipina kami,” katanya kepada BBC News.

“Menanggalkan simbol budaya dan nasional seperti menghapus jeepney adalah kurangnya pengakuan identitas nasional pemerintah kita. Jumlah jeepneys telah menurun selama beberapa tahun terakhir. Tidak perlu membunuh mereka sama sekali,” katanya lagi.

Mahasiswa kedokteran Ivan Pulanco, 23, mengatakan kepada BBC News bahwa dia mendukung pemogokan tersebut dan menggambarkannya sebagai keputusan “tak berperasaan dan tidak adil” oleh pemerintah Duterte untuk “mengharapkan ribuan sopir jeepney yang malang untuk membeli jeepney listrik yang lebih baru dan mahal”.

“Kami ingin jeepneys bersih di jalan-jalan kami. Tapi rencana pemerintah untuk menghapus jipneys lama akan membunuh mata pencaharian ribuan orang,” katanya.

“Kendaraan baru yang mereka promosikan harganya bisa mencapai 1 juta peso ($ 20.000). Bagaimana supir reguler bisa membelinya?”

Menurut CNN, kelompok transportasi Piston yang mengorganisir demonstrasi tersebut mengklaim bahwa “lebih dari 6.000 pengemudi jeepney” akan terkena dampak.

Namun, terlepas dari kemarahan publik, pemerintah Filipina berargumen bahwa hal itu tidak mengabaikan kebutuhan pengemudi yang kurang beruntung karena tidak dapat membayar jeepney baru yang disetujui tersebut.

“Pemerintah akan melanjutkan diskusi, konsultasi, dan kolaborasi lebih lanjut dengan anggota sektor transportasi umum, terutama dalam menjelaskan skema keuangan kepada para operator dan pengemudi yang ingin membeli unit baru,” kata seorang juru bicara kepresidenan.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru