Saturday, August 19, 2017
Home > Cerita > Jakarta Mabuk  Puisi A.R. Loebis

Jakarta Mabuk  Puisi A.R. Loebis

Ilustrasi - Jakarta mabuk. (architerture.com)

I

Jakarta mabuk

kebanyakan air

kepayang kepenuhan kata

Aku kepayahan ah kurasa hampir semua kesusahan

memungut kata untuk menyusun frasa

Karena ia seperti banjir yang menghanyutkan makna

Menenggelamkan arti yang terukir dalam dada

Mencampakkan pikir yang terlukis di benak kepala

Menghunjam logika yang sudah tertatih dimakan zaman

Menghantam-hantam

Apa siapa kapan dimana pun

 

Ah Jakarta mabuk

kebanyakan air

kepayang kepenuhan kata

Aku resah menyimpan cemas yang terus tumbuh di relung perjalanan

Aku cemas dengan keresahan yang terus membuncah dari tiap saku tarikan nafas

Pagina-pagina hidup yang terjilid dalam kitab gelombang pengalaman itu

Seperti halaman-halaman yang mulai tak sadarkan diri terlepas satu persatu dari cetakan bukuku

Terkelupas angka dan hurup

Terkikis otot lan walung

Wasiat berceceran tak tentu rimba

Oh hebatnya nestapa  kota ibu

 

Jakarta mabuk

kebanyakan air

kepayang kepenuhan kata

Air seperti kata, memberondong

Kata seakan air, menggelombang

Jakarta masuk angin

Wuih melilit perutnya tak tertahankan

Nyaris tak ada lagi koin ikatan untuk mengerik duka

Hampir tak ada lagi ikatan koin guna menggemerincingkan suka

 

Jakarta mabuk

kebanyakan air

kepayang kepenuhan kata

Inilah Batavia entah jilid yang keberapa

Neo Hindia Belanda yang penuh dengan hutan tembok

Tengoklah jalan-jalan utama di wilayah mana saja

Di belakang belukar tembok pasti berjejal sumpek para jelata

Ruangan kecil disesaki sekeluarga, bahkan sanak saudara

Mereka dilindas zaman, ada yang terkapar di tepi sungai

Bahkan tak lagi melihat air di tepi pantai, walau ada yang berumah di dalam sampan

Thamrin-Sudirman? Seperti pohon berakar tunggal batangnya menjulang

Tidak lagi seperti ingin menyapa awan

Tapi sudah seperti berlomba ingin menyentuh

Pernah suatu ketika, maaf, ketika aku lewat di sana

Membayangkan bumi bergetar dan pohon-pohon tembok itu berderak berderai

Gemuruh dedaunannya dan berpecahan berebut tiba di atas tanah

Manusia berpelantingan bak anai-anai semrawut seperti disebut al qoriah (4)

Ya Tuhan kumohon hentikan penampakan ini

Sempat kucatat nama-nama pohon menjulang berjejer berkilometer itu

Tapi tak kuasa penaku menorehkannya dalam puisi memabukkan ini

Apalagi namanya pun sudah porak-poranda di pondasi tempat julangnya

Ibukota kebanyakan air

Butir bulir kepayang bertumbuhan mengandung bayi kata

Melahirkan arti yang bersimbiose dengan makna

Kata semakin banyak dan perlahan menenggelamkan manusia

Kata adalah air dan  air adalah kata yang mengalir ke berbagai lorong dan gorong

Jakarta sekarat dikejar tsunami kata

Inilah akhir zaman yang dimulai dari ibu kota?

 

Ah mabuk itu semakin kepayang.

Aku cemas dengan kekhawatiranku

Aku khawatir dengan ketakutanku.

 

II

Ini Jakarta mabuk jilid dua

Fisiknya ya itu tadi nyaris tenggelam dalam buih kata

Gunakanlah mata yang ada di kepala

Maka gelombang kata itu akan semakin kentara

Kini, pakailah mata yang ada di pikirmu

Maka kata itu akan menusuk tulang sumsummu

Sumsum keluarga dan sahabat

Kini, seksamakan mata yang ada di hatimu

Maka kata itu mengikis hikayat kemanusiaan

Karena kata tak kuasa membungkus peradaban zaman

Yang kini sudah terkelupas sehingga bertaburan bebijian kepayang memabukkan.

(sajak ini masih berlanjut)

Jakarta 1 November 2016.

(Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Wartawan – Sajak Kepada Presiden & Presiden Bebek, yang diterbitkan dalam memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di Ambon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru