Thursday, July 19, 2018
Home > Berita > Inmemoriam – Bang Sumo ingin menulis sampai akhir hayat    Catatan A.R. Loebis

Inmemoriam – Bang Sumo ingin menulis sampai akhir hayat    Catatan A.R. Loebis

Sumohadi Marsis sudah tiada. (poskupang)

“Sampai kapan Bang Sumo akan menulis?”

“Saya akan menulis sampai mati.”

“Apa tanggapan Bang Sumo tentang berita olahraga jaman sekarang?”

“Terasa dangkal karena ditulis seperti tanpa roh.”

Ini jawaban fenomenal Sumohadi Marsis – kami biasa memanggilnya mas atau Bang Sumo – ketika menjawab dua pertanyaan itu saat hadir diundang dalam peluncuran buku Maniak Bola di Gedung Antara Pasar Baru pada 23 September 2014.

Wartawan kondang itu datang sebagai pembahas tentang buku Maniak Bola yang ditulis wartawan kantor berita Antara AA Aribowo, sedangkan saya sebagai editor.  Ketika itu, ia saya lihat membaca layar telepon genggamnya menggunakan kaca pembesar,  padahal ia sudah mengenakan kacamata.

Ia mengatakan ingin “menulis sampai mati” tentu ingin menekankan bahwa hidupnya amat konsisten dalam dunia tulis menulis, khususnya di bidang olahraga. Ia memang terus menulis, sampai akhirnya meninggalkan dunia fana ini pada Minggu (24/12/2017) pukul 05.55 WIB dalam usia 73 tahun.

Selamat jalan senior,  guru dan sahabat kami, – sesama wartawan olahraga pada era tahun 80-an, – entah kapan lagi akan lahir seorang wartawan yang cukup piawai seperti Bang Sumo.  Semoga engkau husnul khatimah, diterima Allah SWT.

Ketika meliput Olimpiade Athena di Yunani 2004,  saya bertemu dengan Bang Sumo, tapi ketika itu ia bukan sebagai peliput melainkan salah satu panitia tim Indonesia.

Pada 11 Agustus 2004,  Bang Sumo limbung dan nyaris tidak sadarkan diri, sehingga harus diperiksa di klinik MPC (main press centre). Tapi ia harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih serius. Ia dinyatakan mengalami stroke ringan.

Peluncuran buku Maniak Bola. Sumohadi Marsis kedua dari kanan sebagai pembahas buku, penulis buku Aribowo paling kiri dan Oscar Matulo pembawa, acara kaos hitam.  (arl)

Ia masih sempat bercanda kepada teman media, “Hei jangan beritain ya”, padahal kondisinya amat lemah dan harus mengenakan kursi roda. Ia harus dirawat sekitar satu minggu. Di rumah sakit, timbul masalah, karena tidak satu orang pun dibolehkan masuk, termasuk Humas tim Linda Wakyudi.

Suasana ketika itu agak panas,  karena beberapa petinggi KONI pun tidak dibolehkan masuk ke rumah sakit, di antaranya Wakil Sekjen KONI Pusat Sri Sudono Sumarto,  Wakil Bidang Luar Negeri KONI Pusat Usa Sutrisna, bahkan Kepala Bidang Politik Kedubes RI Athena Syamsudin F. Sidabutar.

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya perwakilan dari tim Indonesia dibolehkan masuk dan Linda mewakili teman-teman.  Kami semua lega ketika Linda keluar dari rumah sakit sembari mengatakan, “Ia hanya perlu istirahat.” Tapi kami heran juga, kok istirahatnya berhari-hari ya.  Ternyata ia memang benar-benar butuh istirahat karena penyakitnya dianggap serius.

Sejarah hidup

Sebulan sebelum Bang Sumo ke Yunani,  tepatnya pada Juli 2004,  sudah muncul buku tentang pengalaman dan sejarah hidupnya melalui Enaknya Wartawan Olahraga, diterbitkan PT Tunas Bola.

Buku ini amat inspiratif, bercerita tentang pengalaman meliput keliling dunia, yang tentu saja mungkin menjadi impian sebagian orang, lebih-lebih yang ingin menjadi wartawan, karena hal itu terwujud sebab ia memilih profesi sebagai wartawan.

Selama 30 tahun lebih menggeluti profesi wartawan, Bang Sumo dalam bukunya  mengatakan, ia telah melakukan tugas jurnalistik ke tak kurang dari 30 negara di empat benua. Bahkan, beberapa negara di antaranya, ia kunjungi empat sampai lima kali.

Enaknya Wartawan Olahraga itu pun bercerita juga tentang beberapa hal, di antaranya mengenai dimensi homo ludens dalam olahraga, sejarah pendirian tabloid Bola, penggambaran sosok atlet terkenal yang menjadi legenda, perkembangan metode dalam mengirim berita dari luar kota atau luar negeri, hingga persoalan jenjang karier wartawan.

Ada tiga pengantar yang tercantum dalam buku Enaknya Wartawan Olahraga. Pengantar pertama berasal dari pendiri Kompas, Jakob Oetama. Pengantar kedua dari penerbit dan ketiga berasal dari penulis.

Pengantar Jakob Oetama diberi judul Menulis dengan Akal dan Hati. Karena menulis dengan akal dan hati, menurut Jakob, hal itu menjadikan liputan dan laporan Sumohadi Marsis terasa hidup dan berdimensi homo ludens, yakni melalui olahraga, manusia mengekspresikan diri sebagai manusia yang “bermain”.

“Di sanalah di antaranya rahasia daya tarik olahraga. Karena, olahraga merupakan ekspresi, aksi, kegiatan naluri yang juga suka karena itu, memerlukan permainan. Di sana, ada prestasi, ada pertandingan, dan laga, tapi juga amat nyata hadirnya keringat dan air mata perjuangan, latihan, bekerja keras, dan ulet. Namun, semua itu dilakukan dengan kegembiraan hati,” kata Jakob Oetama dalam pengantarnya.

Dari buku Enaknya Wartawan Olahraga, Jakob mengatakan, ia memperoleh kesan bahwa wartawan yang menulis buku tersebut, memahami dan menangkap makna olahraga sebagai ekspresi homo ludens.  

Buku Enaknya Waratawan Olahraga yang ditulis Sumohadi Marsis. Penting dan enak dibaca. (arl)

“Sebab bukan cuma hitung-hitungan yang ditampilkan, tetapi juga mengungkapkan segi lain yang memperlihatkan bahwa lewat olahraga, orang bermain.  Orang mengekspresi beragam naluri. Kemampuan dan kemauan membuat naluri itu menjadi kreatif, orisinal, serta memperkaya kehidupan.”

Penerbit menyebut, Sumohadi Marsis memiliki ciri tulisan yang mudah dicerna. Gaya bahasanya sederhana dan enak serta dalam menganalisis suatu persoalan, ia tidak berbelit-beli.

Bang Sumo dalam pengantar buku mengungkapkan kesenangannya dalam melakoni profesi wartawan meski pekerjaan itu tidak selalu enak.

“Tapi, memang banyak yang enak, enak sekali, dan sedikit saja yang kurang enak. Yang kurang enak itu pun, buat saya, bukan duka. Saya senang saja melakukannya. Saya menikmatinya,” kata Sumo.

Dengan menjadi wartawan, ia bisa berkeliling dunia, berkelana ke hampir separuh dunia. Kenikmatan semakin terasa ketika ia bisa menginap di hotel berbintang, bertemu atlet ternama. Semua itu dijalani tanpa mengeluarkan uang pribadi, tetapi dibiayai kantor.

Suami Lisa Anggraeni itu menceritakan, setelah menjadi lulusan terbaik saat mengikuti kursus jurnalistik yang diselenggarakan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada 1970, Bang Sumo pun masuk Harian Kami.

Karena ketidaksukaan terhadap politik,  ia memilih kesenian sebagai bidang liputan.  Ia biasa bertemu dengan Arifin C Noer, Amak Baljun, Ikranegara, Putu Wijaya. Ia pun berteman dengan tokoh musik seperti Nick Mamahit, Mus Mualim, Titiek Puspa, Frans Heriyadi, Irawati Soediro. Ia pun akrab dengan pimpinan Dewan Kesenian Jakarta seperti Umar Kayam, Jayakusuma, Taufik Ismail dan lainnya.

Daftar perjalanan ke luar negeri Sumohadi Marsis, baik untuk meliput mau pun tugas lainnya. (arl)

Ketika ia mulai beralih meliput olahraga, ia mendapat tawaran bergabung bersama Kompas. Tawaran itu datang dari wartawan olahraga Kompas, Ignatius Sunito yang sehari-hari bersama Sumohadi memburu berita olahraga. Ia pun resmi bergabung di Kompas pada 1 Juni 1972.

Pada 1983,  Bang Sumo bersama Sunito mendapat tugas dari Jakob Oetama untuk menerbitkan  tabloid olahraga dan akhirnya lahirlah Tabloid Bola pada 3 Maret 1984 dan ia sebagai wakil pemimpin redaksi.

Dalam karir sebagai wartawan olahraga,  Bang Sumo sudah mewawancarai berbagai atalet dan tokoh olahraga dunia dan ini dikisahkan dengan amat menarik dalam Enaknya Wartawan Olahraga. 

Enaknya Wartawan Olahraga adalah buku tentang kisah perjalanan hidup, tentang pengalaman, tentang pengajaran dan pelajaran, tentang ilmu dan tentang apa pun yang berfaedah baik bagi calon jurnalis, bagi jurnalis dan masyarakat umum.

Bang Sumo menulis dengan akal dan hati dan sudah memberi arti..sampai akhir hayat..sampai mati.

Selamat jalan Bang Sumo.  (ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru