Thursday, January 23, 2020
Home > Berita > Inilah 7 Mutiara Penerang Bangsa – Penerima Apresiasi SATU Awards ke-7

Inilah 7 Mutiara Penerang Bangsa – Penerima Apresiasi SATU Awards ke-7

Para juri Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016 Menteri Kesehatan RI Prof. Nila F. Moeloek (tengah), Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Fasli Jalal (keempat kanan), Pakar Teknologi Informasi Dr. Onno Purbo (kelima kiri) didampingi Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (keenam kiri) dan Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas (keenam kanan) bersama para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 pada acara penghargaan SATU Indonesia Awards 2016 di Jakarta (27/10). (ist)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Setelah tujuh bulan (sejak Maret hingga Oktober 2016) mencari dan menyeleksi, akhirnya PT Astra International Tbk menemukan tujuh ‘mutiara’ terbaik yang berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia.

Ketujuh yang lolos dalam proses penjurian Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016 tersebut, pada Kamis menerima penghargaan dalam acara yang dilangsungkan di kantor Astra International.

Mereka dinilai memiliki sumbangsih yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut tentunya sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa.

“Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, hari ini kita kembali menyaksikan hadirnya sosok-sosok pejuang muda dari pelosok nusantara. Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan oleh para pemuda ini, Astra senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa,” tutur Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Juri SATU Indonesia Awards 2016 Prof. Emil Salim menyatakan bahwa SATU Indonesia Awards tahun ini sudah lebih baik dari sebelumnya, dilihat dari jumlah pendaftar yang meningkat dan kualitas yang semakin baik.

“Di tahun-tahun berikutnya akan lebih baik lagi jika persebaran pada pendaftar lebih merata dari daerah-daerah yang semula belum pernah masuk,” tambah Emil.

Para pemuda ini telah bekerja secara nyata dalam lima bidang yang dinilai Astra dan sejalan dengan kontribusi sosial yang dilaksanakan Astra, yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, Kesehatan, dan Teknologi, baik dalam kategori perorangan maupun kelompok.

“Potensi para pemuda sekarang ini jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang sehingga mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana SATU Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional,” ujar Juri SATU Indonesia Awards 2016 Tri Mumpuni menambahkan.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto memberi selamat kepada salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 pada acara penghargaan SATU Indonesia Awards 2016 di Jakarta (27/10).  (ist)
Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto memberi selamat kepada salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 pada acara penghargaan SATU Indonesia Awards 2016 di Jakarta (27/10). (ist)

Dari Aceh Hingga Jeneponto

Proses seleksi dimulai dari jenjang administrasi, penilaian program, verifikasi, hingga presentasi di hadapan dewan juri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu: Prof. Emil Salim, Prof. Nila Farid Moeloek, Prof. Fasli Jalal, Tri Mumpuni dan Dr. Onno Purbo.

Dari 2.341 peserta yang telah mendaftar, inilah tujuh ‘mutiara bangsa’ terpilih yang telah menyebarkan inspirasi bagi sekitarnya.

Bidang Pendidikan

1. “Sang Seniman Nasionalis”, Zainul Arifin – Lumajang, Jawa Timur

Zainul Arifin (27 tahun) berupaya menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalis dan cinta terhadap kekayaan bangsa melalui seni budaya serta kearifan lokal.

Upayanya ini dilakukan dengan menggagas sebuah program sejak 10 November 2007 yang diberi nama “Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah”.

Bidang Kewirausahaan

Tahun ini, ada dua penerima apresiasi bidang kewirausahaan. Keduanya terpilih karena sama kreatifnya dalam upaya memajukan usaha kecil, mikro, dan menengah di Indonesia, dan dewan juri pun memberikan penilaian terbaik kepada keduanya. Mereka adalah:

2. “Wirausahawan Kreatif dari Banjarmasin”, Muhammad Aripin – Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Muhammad Aripin (29 tahun) berbisnis dengan mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomis, yang melibatkan anak jalanan, anak-anak korban narkoba dan anak-anak putus sekolah.

Akhir tahun 2015, ia mendirikan Yayasan Rumah Kreatif untuk mewadahi kegiatan yang meliputi usaha di bidang teknik, kerajinan tangan dan seni budaya. Saat ini sudah ada sekitar 85 anggota usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Produk Yayasan Rumah Kreatif dipasarkan melalui berbagai saluran, di antaranya melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), hingga terjual ke mancanegara melalui media online.

3. “Pemberdaya Gula Semut dari Banyumas”, Akhmad Sobirin – Banyumas, Jawa Tengah

Akhmad Sobirin (29 tahun) memelopori dan mengajak masyarakat di daerahnya yang selama ini memproduksi gula kelapa untuk memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor.

Para petani diberikan edukasi tentang gula semut, serta proses produksinya yang jauh lebih sulit dibanding proses produksi gula biasa atau gula blok.

Untuk mendukung usaha ini, Sobirin mendirikan Koperasi Usaha Bersama (KUBE) Manggar Jaya pada 1 Juni 2012. KUBE ini sekaligus menggusur para tengkulak yang selama ini merugikan para petani.

Penghasilan petani pun meningkat dari Rp 13.000/kg smenjadi Rp 20.000/kg setelah memproduksi gula semut. Sebanyak 102 anggota KUBE pun makin sejahtera.

Bidang Lingkungan

4. “Pahlawan Lembah Hijau Rumbia”, Ridwan Nojeng – Jeneponto, Sulawesi Selatan

Sejak 2010, Ridwan Nojeng (32 tahun) merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya di Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Dengan pupuk organik hasil produksinya, ia melakukan penghijauan. Warga pun dimotivasi untuk ikut serta dalam upaya mengembangkan daerah tempat tinggalnya.

Hasilnya, Desa Tompobulu menjelma menjadi Desa Wisata Lembah Hijau Rumbia yang resmi diluncurkan pada 2011 dan hingga kini banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.

Pupuk organiknya dengan merek Lembah Hijau Rumbia juga banyak dipesan pelanggan.

Bidang Kesehatan

5. “Laskar Pencerah dari Pasuruan”, Yoga Andika – Pasuruan, Jawa Timur

Yoga Andika (27 tahun) yang memiliki kepedulian pada edukasi hidup sehat   mencetuskan berdirinya “Posyandu Remaja” di Desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Materi penyuluhan meliputi pernikahan dini, bahaya seks pranikah, efek negatif miras dan nikotin, budaya hidup sehat serta upaya menjaga kebersihan lingkungan yang ditujukan untuk remaja usia SMP dan SMA.

Saat ini, Posyandu Remaja telah menjangkau enam desa dengan delapan pos untuk kegiatan Posyandu. Yoga kini mengupayakan 100% remaja di Kecamatan Tosari dapat mengikuti kegiatan Posyandu Remaja.

Bidang Teknologi

6. “Penggagas Gamelan Elektronik dari Garut”, Dewis Akbar – Garut, Jawa Barat

Dewis Akbar (34 tahun), lulusan ilmu computer Institut Teknologi Bandung (ITB) ini adalah pembimbing sekaligus pengajar dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk anak sekolah.

Bersama Budi Arifin, teman satu sekolahnya dulu, ia membangun sebuah lab “Komputer Mini” Raspberry P.i., yang merupakan wadah bagi anak-anak yang ingin lebih menggali secara dalam manfaat serta kegunaan TIK.

Dengan sarana yang terbilang minim beberapa murid binaan Dewis Akbar dapat membuat sebuah karya yang disebut dengan “Saron Simulator” (alat musik gamelan dari komputer) di laboratorium komputer mini miliknya. “It’s not what you know, but what you do,” ujar Dewis.

Kategori Kelompok

7. “Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang”, Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia – Banda Aceh, Aceh

Bersama 10 mahasiswanya, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Ihsan Rusydi, S.ST, M.P, mengembangkan teknologi budidaya tiram bermodalkan ban bekas, bernama rumoh tiram sebagai tempat melekatnya benih tiram.

Hasil temuan kelompok Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia ini sangat membantu masyarakat Kampung Tibang, Banda Aceh, karena tidak lagi harus berendam di bawah terik matahari atau menginjak dan memegang tajamnya koloni tiram ketika beternak dengan cara konvensional.

Petani pun bisa menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar, sehingga punya waktu lebih untuk membuat produk olahan tiram sehingga nilai ekonominya lebih maksimal.

Inspirasi 60 Tahun Astra

Sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957, Astra senantiasa mendedikasikan karyanya untuk kemajuan bangsa Indonesia, sejalan dengan filosofi perusahaan yang tertera dalam Catur Dharma.

Dalam rangka menuju perayaan Hari Ulang Tahun ke-60 Astra pada tahun 2017, Astra mengusung tema “Inspirasi 60 Tahun Astra” yang digambarkan melalui produk dan layanan karya anak bangsa, sumber daya manusia yang unggul, serta kontribusi sosial yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara.

Pada prinsipnya, di mana pun instalasi Astra berada harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma Astra, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”.  (SP/KB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru