Wednesday, June 20, 2018
Home > Berita > In memoriam – Usman Yatim telah tiada, cita-citanya membangun iman dan karakter

In memoriam – Usman Yatim telah tiada, cita-citanya membangun iman dan karakter

Dr. H. Usman Yatim sudah tiada. (muhammadiyah)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Dr H Usman Yatim yang lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 7 Juli 1958, menghembuskan nafas terakhir Sabtu 10 Maret 2018.

Salah satu pengurus PWI Pusat itu meninggalkan semua orang yang dicintainya di muka bumi ini dan jenazahnya disemayamkan di kediamannya di perumahan Permata Pamulang, Bukit Jaya, Ciputat, Tangerang, dan dikebumikan Minggu di TPU Babakan Pasar Jengkol, Pamulang, Tangsel.

Dr Usman Yatim yang supel dan dikenal amat ramah – yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan akademik ini – sudah sakit beberapa waktu belakangan ini.

Berikut ini adalah profil Usman Yatim yang ditulis pada 2009 dan dilansir langsung dari Usmanyatim.wordpress.com yang ditulis tim EPI/KG dengan sedikit diperbarui.

Kita saat ini menghadapi banyak masalah dan kalau direnungkan maka semuanya menyangkut soal kepemimpinan. 

“Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin sangat lemah. Bahkan kita kini seolah kehilangan trust, tingkat rasa percaya antar sesama kita sangat rendah,” kata Usman, seraya menambahkan hal itu dimaklumi mengingat trust atau sikap saling percaya belum jadi budaya kita.

“Budaya trust hanya dapat dibangun kalau keteladanan pemimpin banyak terlihat, sementara saat ini hal itu yang sangat kurang,” lanjut dosen Fikom Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta ini. 

Usman Yatim berharap manusia, masyarakat, bangsa dan Negara dapat benar-benar membangun iman dan karakter.  

Iman, rasa dan sikap percaya merupakan dasar utama dalam kehidupan kita. Iman pertama dan utama tentu kepada Sang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Dasar iman kepada Tuhan, akan terefleksikan dari sikap percaya kepada sesama makhluk, manusia dan lingkungannya. Boleh dikata, indikator iman kepada Tuhan adalah adanya trust, sikap percaya kepada sesama. 

 “Hanya orang beriman yang dapat memiliki dan mengembangkan trust kepada sesama dan lingkungannya,” ucap Usman.

Selain iman, trust, Usman Yatim berharap, masyarakat, manusia harus punya karakter. Berbagai prilaku yang melemahkan, membuat manusia Indonesia banyak masih terkebelakang, dinilai Usman banyak karena karakter kita yang lemah.

Karakter adalah sikap, kepribadian unggul, terpuji yang sudah melekat dalam budaya kehidupan seseorang. Disiplin, kejujuran, loyalitas, dan sikap-sikap terpuji lainnya yang dapat diteladani adalah bagian dari karakter.

Karakter harus dibangun sejak dini, bagian dari kehidupan kita secara pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. “Karakter yang kita bangun harus berlandaskan iman,” tutur Usman.

Oleh karena itulah, Usman Yatim memiliki visi “membangun iman dan karakter.”

Dia mendambakan, iman dan karakter dapat menyelimuti kehidupan manusia Indonesia. Visi ini, menurut dia, dibangun mulai dari kehidupan pribadinya sendiri, kemudian dalam lingkungan keluarga. “Membangun iman dan karakter tidak harus diteriakkan kepada orang lain tetapi terutama buat diri dan keluarga sendiri,” kata Usman Yatim.
Kiprah Usman Yatim
Usman Yatim lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 7 Juli 1958. Kedua orangtuanya berasal dari nagari Saniangbaka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ibunya bernama Barinam, suku Sikumbang. Ayahnya, Muhammad Yatim, suku Sumpadang.

Usman adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta, juga sebagai Pemimpin Redaksi Suratkabar Madina, dan pernah menjabat Ketua Departemen Wartawan Kesra, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat.

Usman mengawali karirnya di dunia jurnalistik pada 1982, ketika diterima sebagai wartawan Suara Karya, selepas menyelesaikan pendidikannya di IKIP Negeri Jakarta.

Awalnya, menjadi wartawan bukan pilihan hidupnya karena jika dilihat dari latar belakang pendidikannya, dia seharusnya bergelut dalam bidang pendidikan, terutama sesuai jurusannya, Pendidikan Luar Sekolah.  

“Saya lulus bulan Januari 1982, sambil menunggu diwisuda dan pembukaan pendaftaran pegawai negeri, saya mencoba melamar ke mana-mana. Juli saya diterima di Suara Karya, keenakan jadi wartawan saya lupa mendaftar jadi PNS, sampai sekarang,” tutur Usman, suami dari Rahmi Mulyati ini. 

Ternyata, menjadi wartawan sangat menyenangkan bagi Usman. “Saya tetap merasa menjadi pendidik meski menekuni dunia wartawan karena lewat profesi ini, saya merasa ikut menyebarluaskan informasi yang bersifat mendidik, mencerdaskan bangsa,” ucapnya.

Namun, dia tetap bercita-cita ingin menjadi pendidik di lembaga pendidikan formal. “Sambil jadi wartawan, saya pernah jadi guru SMA Muhammadiyah di Kemayoran tapi tidak lama. Saya sering bolos ngajar karena tugas wartawan yang sering ke luar kota,” ucapnya.

Namun, ketika tidak lagi di Suara Karya, Usman akhirnya dapat juga mengajar, yaitu menjadi dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama) Jakarta, sejak 2002.  

“Saya juga pernah mengajar di Fisip Uhamka tapi hanya tiga semester. Saya tidak mau mengajar di banyak tempat, waktunya tidak cukup. Saya kini mengajar karena diajak Pak Sunarto, mantan Kepala Biro Humas BP-7 Pusat yang waktu itu menjadi Dekan Fikom Moestopo dan kini menjabat Rektor UPDM(B).” 

Sebagai wartawan, Usman Yatim banyak meliput di Departemen Penerangan, era Ali Moertopo, Harmoko, Hartono dan Yunus Yosfiah. Berbagai masalah informasi dan komunikasi banyak didalaminya, terutama dalam hal penyampaian pesan-pesan pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat.

“Masa Pak Harmoko menjadi Menpen, saya sering ikut Safari Ramadhan yang tiap tahun beliau laksanakan. Pak Harmoko termasuk orang yang sukses dalam mengkomunikasikan kebijakan pemerintah,” ucap Usman, ayah dari Hatta Harris Rahman, Meka Medina Rahman dan Adlia Atika Rahman ini. 

Selain di Deppen, Usman juga cukup lama bertugas di Departemen Agama (1982-2005) dan BP-7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) (1982 – bubar 1999).  

Usman mengakui, lamanya dia bertugas pada instansi tersebut cukup mempengaruhi kehidupannya.  

“Saya harus jujur, saya larut dengan bidang penerangan, agama, dan Pancasila. Tapi saya tidak menyesal karena larutnya itu dalam arti positif. 

Gara-gara di Deppen, banyak yang mengira saya lulusan ilmu komunikasi. Lama meliput di Depag, saya dikira lulusan IAIN dan sering pergi ke Tanah Suci sambil meliput haji. Lama meliput di BP-7 membuat saya meyakini betul bahwa Pancasila adalah dasar Negara yang paling dapat menjadi simbol pemersatu masyarakat, bangsa dan Negara ini,” kata Usman yang pernah ikut penataran P-4 Tingkat Nasional dan terakhir KSA(Kursus Singkat Angkatan) XIV Lemhannas, 2006. 

Usman Yatim meninggalkan Suara Karya, Nopember 1999, karena kala itu terpengaruh oleh suasana reformasi. Dia melihat lahirnya Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999, dianggapnya sebagai kesempatan memiliki media penerbitan sendiri karena dihapusnya ketentuan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).

Usman mundur dari Suara Karya atas permintaan sendiri dan karena itu dia tidak mendapat pesangon sebagaimana sejumlah rekan-rekannya yang ikut program PHK dengan pesangon lumayan besar. 
Setelah itu bersama Syarifuddin Sultan, juga mantan Suara Karya, dia menerbitkan Tabloid Politisia, sebagai pemimpin redaksi. Visi media ini dinilainya sangat bagus karena direspon hangat oleh sejumlah orang, seperti pakar komunikasi Dr. Indrawadi Tamin MSc, pengusaha dan tokoh Golkar Nurdin Halid, tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, dosen Uhamka Prof. Dr. H Syofyan Saad MPd, dan Hj. Jane Palapa.

“Sayang Politisia berusia pendek, waktu itu saya belum pengalaman membangun usaha penerbitan, manajemennya payah,” kata Usman Yatim.

Selepas dari Politisia, Usman kembali menjadi wartawan tapi kali ini di Suratkabar Dialog. Oleh pemilik Dialog, James Tobing, dia dipercaya menjadi salah seorang redaktur. Usman mengakui, melalui Dialog dia banyak belajar bagaimana membangun usaha persuratkabaran dengan modal yang pas-pasan. Dia kagum kepada James Tobing yang memiliki keuletan, semangat kemandirian, dalam mengembangkan Dialog yang meski terbit mingguan tapi dapat bertahan lebih dari lima tahun. 

Berbekal pengalaman dan pengetahuan dari Dialog ini, akhirnya Usman kembali memberanikan diri menerbitkan suratkabar MADINA, 6 Juni 2004. “Kebetulan ada orang-orang seperti pak Dasril Hasibuan, pak Syofyan Saad, pak Said Agil Husin Al Munawar, kemudian pak Tarmizi Taher, pak Feisal Tamin, dan pak Haryono Suyono, maka jadilah saya berkiprah di suratkabar MADINA.”

Sebagai seorang wartawan, Usman Yatim aktif dalam organisasi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Dia jadi anggota PWI sejak baru bekerja di Suara Karya, kemudian aktif di tingkat koordinatoriat, baik di Departemen Penerangan, Departemen Agama, dan BP-7 Pusat.  

Ketika ikut meliput di Kantor Walikota Jakarta Selatan, 1991-1994, dia dipercaya menjadi Ketua Koordinatoriat. Lantas aktif di tingkat PWI Jaya, pada seksi perkotaan, dan selanjutnya (2003-2008 ) menjabat Ketua Departemen Wartawan Kesra PWI Pusat dan berlanjut pada posisi sama untuk periode 2008-2013 dan menjadi direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dalam beberapa tahun belakangan ini. Ia juga sebagai penguji UKW ke berbagai daerah. 

Sedangkan keterlibatannya sebagai anggota Komisi Komunikasi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (2005-2010), boleh jadi selain karena profesi wartawan juga karena dia lama bertugas meliput di Departemen Agama.

Begitu pula sebagai anggota Majelis Wakaf dan ZIS PP Muhammadiyah dan terakhir Wakil Sekretaris Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia) DKI Jakarta. 

Selamat jalan sahabat kami Dr H Usman Yatim.

Biodata:

Nama Lengkap : Drs.H.Usman Yatim, MPd

Tempat Tanggal Lahir : Tanjungpura (Langkat), 7 Juli 1958

Agama : Islam

Status : Menikah (Isteri: Rahmi Mulyati, anak : Hatta Harris Rahman, Meka Medina Rahman, Adlia Atika Rahman)

Aktivitas dan Pengalaman Organisasi

· Wakil Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Cabang Tanjungpura, (1976-1977)

· Pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Koordinatoriat IKIP Jakarta (1981-1982)

· Reporter Pers Mahasiswa Didaktika IKIP Jakarta, (1981-1982) .

· Departemen Humas PP Pemuda Muhammadiyah, era Din Syamsuddin

· Ketua Koordinatoriat PWI Jakarta Selatan (1992-1994)

· Ketua Seksi Perkotaan PWI Jaya (1999 – 2003)

· Ketua Panitia MTQ Wartawan Tingkat Nasional IV 2003

– Direktur UKW PWI Pusat (2013-sekarang)

· Ketua Departemen Kesra PWI Pusat (2003 – 2008, 2008 – sekarang)

· Anggota Komisi Infokom MUI Pusat (2005 – 2010)

· Pemimpin Redaksi Tabloid Politisia (1999-2000)

· Wartawan Suara Karya (1982 – 1999)

· Pemimpin Redaksi MADINA) (www.madina-sk.com ) (2004 – sekarang)

· Anggota Majelis Wakaf dan ZIS PP Muhammadiyah (2005-2010)

· Wakil Bendahara DPD Apersi DKI Jakarta (2009-2012)

· Dosen Fikom UPDM(B) Jakarta (2001 – sekarang).  (arl)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru