Thursday, June 20, 2019
Home > Berita > IMI dan Penyakit Tidak Menular Mematikan Oleh A.R. Loebis

IMI dan Penyakit Tidak Menular Mematikan Oleh A.R. Loebis

Ikatan Motor Indonesia (IMI).

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI) 2015-2019 mendapat tantangan dan pekerjaan berat, bukan saja dari sisi olahraga, pariwisata dan industri, tapi juga dinyatakan sebagai salah satu unsur yang harus ikut bertanggung jawab mengurangi angka kematian di jalan raya. 

Pernyataan ini merupakan hal mengejutkan, yang belum pernah di angkat ke permukaan pada periode IMI sebelum dan sebelumnya, tapi sesepuh IMI Prof  Dr Emil Salim yang kini berusia 85 tahun mengumandangkannya dengan lantang di hadapan peserta Munas IMI VIII, 18 Desember 2015 di Jakarta.

Namanya saja organisasi ikatan motor Indonesia, jadi keinginan Emil Salim itu pasti amat beralasan dan berlogika dan pantas mendapat respons positif dari IMI dan unsur berkepentingan lainnya.

“Jangan sampai sepeda motor menjadi salah satu pembunuh manusia Indonesia, jadi pembunuh rakyat bangsa kita. IMI harus ikut dan bertanggung jawab menurunkan 67 persen angka penyebab kematian ini,” kata Emil Salim, mantan menteri dan ahli ekonomi dan lingkungan kelahiran Lahat pada 8 Juni 1930.

Ungkapan Emil Salim pada acara pembukaan Munas IMI itu, menjadi perbincangan umum yang cukup  hangat, karena beberapa tokoh yang memberikan kata sambutan melanjutkannya semakin melebar dan akhirnya bermuara pada keinginan agar IMI ikut bertanggung jawab mengurangi angka kematian di jalan raya itu.

Salah seorang tokoh yang memberi sambutan pada Munas IMI itu mengatakan, “kecelakaan lalin memakan korban itu itu seperti penyakit tidak menular mematikan” sehingga butuh kesadaran berbagai pihak untuk ikut membantu menurunkan angka kecelakaan jalan raya.

Kenyataannya, di Indonesia jumlah kendaraan bermotor meningkat setiap tahun dan kelalaian manusia  menjadi faktor utama terjadinya peningkatan kecelakaan lalu lintas.

Data Kepolisian RI menyebutkan, pada 2012 terjadi 109.038 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang, dengan potensi kerugian sosial ekonomi sekitar Rp203 triliun – Rp217 triliun per tahun (2,9% – 3,1 % dari Pendapatan Domestik Bruto/PDB Indonesia).

Sedangkan pada 2011 (kompas.com), terjadi kecelakaan sebanyak 109.776 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 31.185 orang. Pada 2013, data dari Polri, angka kecelakaan lalu lintas mencapai 26.486 dan pada 2010 sebanyak 31. 234 dan 70 persen di antaranya merupakan kecelakaan roda dua.

Korps Lalulintas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korlantas Polri) mengungkap total kejadian kecelakaan lalu lintas 2014 menurun 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan jumlah kecelakaan tahun lalu tidak hanya terjadi di wilayah Jakarta tapi juga di seluruh Indonesia.

Kendati begitu, Korlantas Polri mencatat selama Januari – November 2014 kerugian material karena kecelakaan lalu lintas mencapai Rp224.297.495.685.  Januari – November 2014 jumlah angka kecelakaan di Indonesia mencapai 85.765 kejadian, sedangkan sepanjang 2013 menyentuh 100.106 kejadian.

Dalam periode yang sama, jumlah korban luka berat dan luka ringan juga menurun, masing – masing berkurang 20 persen dan 15 persen.

Data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) seperti disiarkan dalam bin.go.id,  dalam tiga tahun terakhir, kecelakaan lalu lintas di Indonesia dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan tuberculosis/TB.

Data WHO 2011 menyebutkan, di dunia ini, sebanyak 67 persen korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif , yakni 22 – 50 tahun.

Terdapat  sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun.

Dunia otomotif memang terkadang selalu menuai hal kontradiktif, selain masalah kematian di jalan raya tadi,  Emil Salim yang pernah menjabat sebagai ketua IMI, meminta agara IMI pun ikut membantu industri otomotif di Indonesia.

Salah satu cara untuk membangun industri otomotif yang disampaikan Emil Salim dengan meningkatkan komponen atau konten lokal pada kendaraan bermotor.

Dengan pertumbuhan angka penjualan sepeda motor yang menjadi andalan warga Indonesia, peran IMI adalah memanfaatkan hal tersebut untuk kemajuan industri sepeda motor.

“Tantangan IMI sekarang bisa tidak berlomba-lomba untuk membuat sepeda motor dengan produk Indonesia, tanpa komponen impor. Sepeda motor bisa menaikkan komponen lokal,” ujar Emil Salim, dengan menambahkan, “IMI harus bisa membangun industri dalam negeri karena IMI dibangun untuk menyelamatkan Indonesia dan industri sepeda motor di Tanah Air.”

Dengan senada, sesepuh olahraga lainnya, seperti Aksa Mahmud, Menpora serta utusan dari KONI dan KOI dan beberapa utusan kementerian lain, mengimbau agar IMI ikut berusaha mengurangi angka kecelakaan lalu lintas itu, karena IMI bersentuhan langsung dengan kegiatan otomotif di Tanah Air.

“IMI membantu manusia di bidang otomotif dan juga membantu di bidang industrinya. Kita meminta semoga menteri yang berkelayakan membantu IMI melalui program yang akan mereka jalankan,” kata Emil Salim.

Menpora Imam Nahrowi mengatakan, ia semakin menyadari peran IMI, sehingga siap membantu sekuat tenaga. “Kita akan kumpulkan 1000 pengusaha untuk membantu IMI dan para atletnya,” kata Menpora disambut tepuk tangan meriah.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sadikin Aksa bersama 28 pengurus Pengprov dari berbagai daerah bertemu di Jakarta, sebelum ia terpilih sebagai ketua umum PP IMI. IMI diminta ikut bertanggung jawab atas banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas yang memakan korban. (mimbar-rakyat.com)
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sadikin Aksa bersama 28 pengurus Pengprov dari berbagai daerah bertemu di Jakarta, sebelum ia terpilih sebagai ketua umum PP IMI. IMI diminta ikut bertanggung jawab atas banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas yang memakan korban. (mimbar-rakyat.com)

 

Ketua PP IMI sebelumnya adalah mantan Wakapolri Nanan Soekarna dan kini digantikan wakilnya, Sadikin Aksa, yang terpilih secara aklamasi karena calon lainnya, Prasetyo Edi Marsudi yang juga ketua DPRD DKI, mengundurkan diri.

Apakah masalah usaha pengurangan angka kecelakaan di jalan raya ini pernah menjadi salah satu program yang dicanangkan Nanan Soekarna? Wollohualam bissawab. Kalau ada tentu masyarakat ingin mendengar apa yang dilakukan dan apa hasilnya.

Sadikin Aksa beserta gerbongnya, selayaknya mengangkat hal ini sebagai salah satu mata acara dalam program kepengurusan mereka, disamping tentu saja mengurus masalah olahraga dan wisata, seperti jangkar kepengurusan kiblat organisasi Ikatan Motor Indonesia, FIA.

IMI 2015-2019 sudah menyatakan tekad ingin menjadi salah satu organisasi olahraga terbaik di Indonesia dan untuk itu sepantasnya IMI harus dekat dengan masyarakat dan kegiatannya “bersentuhan langsung” dengan masyarakat, salah satunya ya..membantu menurunkan angka kecelakaan di jalan raya.

Caranya? Ya inilah yang harus dipikirkan, di antaranya semakin menggalakkan moto kesadaran berlalu lintas, mengajak kalangan industri otomotif dan Polri serta pemangku kepentingan lainnya untuk saling bergandengan tangan dalam membicarakan, membahas dan mengejawentahkan program mereka.

IMI selayaknya sebagai inisiator dan motivator dalam melakukan kerja sama lintas sektoral / kementerian, kepolisian dan kalangan swassta,  untuk mewujudkan program kerja mereka.

Kalau tidak? Imbauan Emil Salim tadi akan hampa dan IMI akan tetap seperti IMI periode sebelumnya, hanya bermain di atas kertas, angka dan kata-kata!  (Antara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru