Tuesday, September 24, 2019
Home > Berita > IMI dan FIA Ajak Peserta “Asia Pacific Cluster Training 2016” Pahami Fungsi Skuritener & Delegasi Teknis

IMI dan FIA Ajak Peserta “Asia Pacific Cluster Training 2016” Pahami Fungsi Skuritener & Delegasi Teknis

Sekjen PP IMI Jeffrey JP dan para pembina kepelatihan IMI dan FIA, akhir minggu ini. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.com (Denpasar) – Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan FIA mengajak para peserta “Asia Pacific Cluster Training” 2016 yang diselenggarakan di Bali, 23 dan 24 April 2016, agar dapat berperan sebagai “scrutineer” atau “technical delegate” yang kompeten saat menjalankan tugasnya.

IMI dan FIA memberikan penyuluhan mengenai peran penting serta fungsi dari scrutineer (tenaga pemeriksa kelayakan mobil/motor) dan technical delegate (perwakilan teknik) terhadap 30 peserta dari lima negara di Asia Pasifik.

“Pada seminar itu para peserta diingatkan kembali mengenai bagaimana mereka harus bisa berperan sebagai seorang scrutineer ataupun technical delegate yang kompeten saat menjalankan tugasnya pada event otomotif,” kata Sekjen IMI Jeffrey JP, Senin.

Selain itu, tambahnya, mereka juga diberikan pemahaman mengenai syarat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang technical delnicalegate yang baik serta bagaimana sikap dalam diri sendiri bisa memengaruhi mereka dalam bekerja.

Para peserta yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, serta Australia ini juga telah mendapatkan pengarahan untuk selalu disiplin dalam menerapkan sistem atau peraturan scrutineering (pemeriksaan teknis kelayakan mobil/motor secara detail) yang telah ditetapkan oleh FIA serta ASN.

Menurut Scott McGrath, Sport and Techincal Manager dari Confederation of Australian Motor Sport (CAMS) yang ditunjuk FIA untuk menjadi trainer dalam pelatihan itu,  tugas terpenting seorang scrutineer adalah untuk memastikan faktor keselamatan kendaraan maupun pengendaranya.

“Sehingga hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang scrutineer dalam menjalankan tugasnya adalah memeriksa perlengkapan keselamatan kendaraan,” katanya.

Scott menambahkan, seorang chief scrutineer harus melakukan  pemeriksaan kendaraan yang akan digunakan untuk perlombaan dengan menggunakan peralatan yang tepat sekaligus akurat sesuai dengan peraturan yang ditetapkan FIA.

Meskipun dalamya beberapa kasus tertentu peraturan bisa disesuaikan dengan kondisi negara setempat, namun penting diingat, penyesuaian tersebut tidak boleh bersifat kontradiktif dengan peraturan induknya.

“Selain itu, chief scrutineer juga perlu memberikan laporan atas kendaraan yang terlibat dalam satu kecelakaan, termasuk menilai apakah kendaraan tersebut masih layak untuk melanjutkan kompetisi atau tidak,” katanya.

Para scrutineer yang nantinya akan bertugas juga tak hanya mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pengecekan terhadap kendaraan, namun juga kelengkapan yang akan digunakan oleh pebalap maupun navigatornya.

“Yang tak kalah penting,” Scott menegaskan, “Keselamatan merupakan hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam keberlangsungan olahraga otomotif.”

Pada hari kedua kepalatihan itu, diberikan muatan “Train the Trainer”, yaitu mengajarkan kepada para peserta bagaimana menjadi seorang trainer yang efektif.

Foto bersama para peserta dan instruktur kepelatihan IMI-FIA Asia Pacific Cluster Training" di Bali.  (ist)
Foto bersama para peserta dan instruktur kepelatihan IMI-FIA Asia Pacific Cluster Training” di Bali. (ist)

“Dalam materi ini ada beberapa hal yang diajarkan, antara lain bagaimana mempersiapkan suatu training, serta bagaimana seorang trainer melakukan presentasi,” kata Jeffrey.

Selanjutnya, mereka juga diajarkan tentang teknik apa saja yang bisa dilakukan dalam pembelajaran di suatu sesi training. Semua itu dipelajari supaya seorang trainer bisa efektif dan efisien menyampaikan materi yang diberikan, dan para peserta training bisa memahami, mengerti, sekaligus mengaplikasikan isi materi tersebut, katanya.

Taqwa Suryoswasono, Kepala Biro Teknik dan Safety Mobil Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia yang sekaligus merupakan penggagas acara itu, menyatakan, pelatihan “Train the Trainer” sangat penting. “Masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan di dunia otomotif Indonesia, salah satunya adalah yang berhubungan dengan scrutineering dan technical delegate,” tutur Taqwa.

Ia menambahkan, “Dalam dua hari ini para peserta training sudah mendapatkan banyak hal sehubungan dengan kedua peran tersebut. Oleh karena itu setelah ini, diharapkan para peserta dapat kembali ke daerahnya masing-masing dan meneruskan informasi yang sudah mereka dapatkan kepada rekan-rekan di daerahnya.”

“Sehingga proses pemahaman mengenai peran sekaligus fungsi scrutineer dan technical delegate ini semakin baik dan dapat dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku dalam sebuah event otomotif,” ungkap Taqwa.  (SP/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru