Saturday, July 20, 2019
Home > Berita > IMI 110 Tahun, Pasang Surut dan Menanti Kiprah Sadikin Aksa Oleh A.R. Loebis

IMI 110 Tahun, Pasang Surut dan Menanti Kiprah Sadikin Aksa Oleh A.R. Loebis

Tugas berat di pundak Sadikin Aksa beserta stafnya dalam mengemban kepercayaan masyarakat otomotof Indonesia.

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Ikatan Motor Indonesia (IMI) sudah berusia cukup lanjut, 110 tahun, disebut-sebut sebagai organisasi olahraga tertua di Indonesia.  Tapi tetap eksis dan pada 2016 menyelenggarakan 172 event di seluruh Indonesia. 

Cikal bakal IMI adalah klub Javasche Motor Club (JMC), yang berdiri pada 27 Maret 1906 dan berpusat di Semarang, dikelola pengurus semuanya berkebangsaan Belanda.

JMC dalam perjalanan waktu sempat berganti nama menjadi De Koninklijke Nederlans Indische Motor Club (KNIMC), sebelum akhirnya berubah menjadi Indonesische  Motor Club (IMC).

Ketika IMC mulai berdiri, seperti tertera dalam buku “Olahraga Otomotif Indonesia”, klub ini memiki sekretariat di sejumlah kota, di antaranya Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tapi saat itu, klub ini lebih banyak mengurusi masalah lalu lintas ketimbang hal berbau olahraga. Di antaranya, membuat rambu-rambu lalu lintas dari Jakarta, ke Puncak hingga ke Jawa Tengah.

“Hati-Hati Jalan Licin”, “Awas Ada Lubang” dan berbagai peringatan lainnya dibuat di tepi jalan. Pada petugas IMC dengan berseragam biru yang amat dikenal masyarakat ketika itu, mengendarai sepeda motor besar dijalur jalan Bogor-Cipanas, Jakarta-Puncak, dan kawasan lain, untuk memberikan pelayanan kepada pengemudi yang mengalami gangguan kendaraan.

Setelah masa peralihan kekuasaan kolonial Belanda kepada NKRI pada 1950, IMC berubah nama menjadi Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan pada awal 1960-an sekretariat IMI pindah dari Semarang ke Jakarta.

Pada awal perkembangan IMI, periode 1950-1975, ketua umumnya secara ex-officio dijabat oleh Menteri Perhubungan, dan KU IMI pertama adalah Ir Juanda dan pelaksana harian drs. Musa Kunto yang ketika itu disebut sebagai direktur IMI.

Ketua IMI gonta-ganti mengikuti pergantian jabatan Menteri Perhubungan dan sejarah tertoreh ketika ketua IMI untuk pertama kali dijabat kalangan swasta, ketika Hutomo Mandala Putra naik menjabat sebagai orang nomor satu di badan otomotif Indonesia itu, periode 1991-1995.

Tommy Soeharto menggantikan Dirjen Perhubungan Darat Ir Giri S Hadisardjono pada Munas IMI II di Jakarta, 19 Mei 1991, sedangkan wakil ketua umum dijabat Bob  RE Nasution (sudah almarhum) dan Sekjen Ir Soeparto Soejatmo (alm).

Hingga saat ini, IMI merupakan afiliasi dari AIT (Alliance Internationale de Tourisme), FIA (Federation Internationale del”Automobile), FIM (Federation Internationale Motocyliste) dan KONI.

Meriah dan berjaya

Nah, Olahraga otomotif di Indonesia sempat berjaya, ketika dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan dunia superbike pada 1994-1995-1996-1997. Kemudian kejuaraan dunia Indonesia GP pada 9 Juli 1995, disaksikan sekitar 60.000 penonton yang luber hingga ke tol.

Presiden Soeharto ketika itu amat bangga dengan penyelenggaraan itu, karena itu ia meminta kepada panitia tentang kemungkinan penyelenggaraan laga Formula Satu (F1) dan saat ia itu pun mengimbau bahwa Indonesia amat penting memiliki “local hero”.

Presiden Soeharto di antara para pebalap asing saat menyaksikan Indonesian GP di Sirkuit Internasional Sentul, 1995.
Presiden Soeharto di antara para pebalap asing saat menyaksikan Indonesian GP di Sirkuit Internasional Sentul, 1995.

Tak kalah serunya, Indonesia dipercaya FIA sebagai tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan dunia reli (world rally championship=WRC) pada 1996 dan 1997. Kalau tidak terjadi krisis ekonomi, Indonesia tetap sebagai tuan rumah pada 1998.

Belum lagi kejuaraan dunia motocross 125 CC yang diadakan dua kali berturut-turut (1995-1997) di DI Yogyakarta, serta kejuaraan dunia motocross 250 CC di Jawa Barat (1997), sehingga lengkaplah, saat itu, Indonesia benar-benar bersinar di mata otomotif dunia.

Kemandirian IMI 1999-2003. (otomoyif indonesia)
Kemandirian IMI 1999-2003.  (dok/otomotif indonesia)

Setelah itu? Hingar-bingar suara mesin mobil dan motor berkurang di ajang lomba nasional, apalagi internasional. Para promotor sekaliber Helmy Sungkar dan adiknya Faryd Sungkar, serta kiprah dari keluarga Bambang Gunardi, dan beberapa lainnya penggiat lomba, sudah berkurang bahkan menghilang.

Indonesia butuh orang-orang “gila” olahraga otomotif, untuk memunculkan kembali event internasional itu, termasuk orang “gila” dari unsur lainnya, termasuk tentu saja dari kalangan pemerintah.

Pada dekade terakhir ini, sebaliknya para atlet Indonesia banyak yang berkiprah di ajang lomba internasional, baik di jenis laga mobil turing hingga karting dan Formula, salah satunya ya Rio Haryanto yang sedang berjuang keras di medan laga.  Di belakangnya menyusul beberapa pebalap handal lainnya.

Bagaimana peran IMI?

Kini merupakan kesempatan bagi para pengurus baru 2015-1019 yang dikomandoi Sadikin Aksa, yang sejak dalam kampanye pemilihan sudah mengumandangkan keseriusannya untuk membenahi organisasi tua itu.

Bagi para pengamat otomotif, pasti mengetahui “blue print” Sadikin Aksa, yang mengetengahkan misi perubahan (change), komunikasi (communication) dan transparansi kinerja (clear) demi mencapai optimalisasi yang berkualitas serta menjadikan IMI sebagai organisasi olahraga yang terbaik (excellence).

Pengurus IMI ini baru mulai bekerja sejak Januari 2016, perjalanan masih panjang dan seperti berkali-kali diucapkan Sadikin Aksa dan Sekjen Jeffrey JP, mereka butuh dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak.

“Dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi yang dinamis dan modern serta untuk memberdayakan Pengprov IMI, kami butuh dukungan dari berbagai kalangan,” kata Sadikin Aksa, yang juga atlet otomotif nasional.

Waktu yang akan menentukan catatan perjalanan sejarah otomotif Indonesia dan saat ini kita tentu menanti kiprah perubahan yang dijanjikan Sadikin Aksa. IMI harus menjadi miliki masyarakat, itu yang diharapkan.

Bertepatan dengan hari lahirnya yang ke-110 tahun, semoga IMI bangkit kembali, selamat bekerja untuk semua pengurus PP IMI 2015-2019.  (ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru