Sunday, December 15, 2019
Home > Cerita > I am a buzzer Oleh A.R. Loebis

I am a buzzer Oleh A.R. Loebis

Ilustrasi - Buzzer. (kesatu.co)

Aku harus berpihak

Aku harus menelikung

Semua orang memihak

Semua orang berpihak

Berpihak pada kebenaran

Adakah kebenaran?

Ada tapi mutlak

Karena tidak dapat dilihat

Abstrak

Aplikasinya kelihatan

Berpihak pada benar, kata sifat

Kebenaran adalah zat, kata benda

Kok ada yang menyalahkan aku?

 

Aku seorang buzzer, kata orang

Aku berat sebelah, kata orang

Bahkan ada yang menyebutku buzzer istana

Tak jelas ketika ada yang bilang ada buzzer istana di acara televisi

Entah siapa, mungkin orang bersorban itu

Aku memang tidak berada di tengah

Untuk mengatur keseimbangan

Karena ballancing bukan milikku

Tidak ada prinsip cover both side

Tidak punya etika profesi

Itu makanya aku tidak ada dalam berita lempang

Yang menggunakan strong words

Tapi aku harus menyatakan benar

Ya karena benar dan salah saling bersebelahan

Tergantung justifikasi siapa yang paling santer diutarakan

Nah, justifikasi itu lah yang harus kumainkan

Hanya untuk mengukuhkan yang benar, versiku

Seperti yang dipikirkan pihakku

 

Untuk melakukan justifikasi

Harus ada musuh bersama, setidaknya musuh sepihak

Di antaranya ISIS, HTI, Taliban, FPI, garis keras,

radikal, kafir, teroris, liberal, hingga kelompok anu dan anu.

Setidaknya dipisahkan kubu kecebong atau kampret

Ada bagian dari Islam yang Islam

Ditandai sebagian dengan larangan ustad tertentu

berceramah di masjid tertentu

Islam musuh bersama yang diikrarkan  zionis setelah perang dingin

Lahir pikiran Islamofobia dimana-mana

Tapi aku Islam, tak mungkin memusuhi agamaku.

So harus dipecah-pecah

biar ada musuh yang diperangi

hingga berkeping-keping

kalau perlu tercabik-cabik, pola pikir dan mind-set nya

 

I am a buzzer

Kekuatanku adalah kata

Senjataku adalah frasa

Tikamanku adalah kalimat

Kemahiranku merajut kebencian

Merangkai kata memecah belah, kuakui itu

Tapi itu tadi, kebenaran itu mutlak

Bukan milik manusia,

karena manusia adalah: Dr Jeckyl and Mr Hide

Alias hitam putih

 

Aku seorang buzzer

Harus menelaah isu

dari bangun hingga tidur hingga bangun lagi

Tentang ambulans itu,

Tentang demo Papua,  Wamena, Maluku, mahasiswa, siswa

Ada orang menyamar

Ah, entah mengapa ada nyawa melayang, di mana-mana

Sampai akhirnya Wiranto ditusuk

sehingga ususnya disambung

ironis, menimbulkan kasak-kusuk

saat Prabowo silaturahim ke Jokowi

timbul seolah-olah dan seakan

padahal bila dua kekuatan itu bersatu, 03 jadi kuat

tapi politik harus ada pro kontra

ada rezim dan idealnya oposisi

ya hitam putih dalam diri manusia Dr Jeckyll and Mr Hide

yang dilukiskan Robert Louis Stevenson (1886)  itu

Hitam putih harus ada, ini bahkan skenario dunia

untuk bisnis jual senjata

untuk memelihara dagang opium antarnegara

bahkan perdagangan manusia antarbenua

nah, sampai sini aku selalu bingung juga,

kerap kata-kata mengalir tapi berhenti di ujung jemariku

karena terkadang sulit merenda kata

yang bertentangan dengan isi dada

Ini karena di dunia

sudah terlalu banyak gelaran sandiwara

salah satunya, ketika Setya Novanto nabrak tiang listrik

pengacara Fredrich Yunadi bilang ada benjolan segede bakpaw

di kening SN  (2017) dan berdarah-darah.

Padahal ketua DPR itu tidak separah kata Frederich

yang akhirnya dihukum tujuh tahun karena berbohong

kisah lain terus naik panggung

masyarakat pun semakin faham membedakan fakta dan sandiwara

 

I am a buzzer

Entah bagaimana seandainya media sosial belum ada

Pada zaman penjajahan media pun menurutku mirip buzzer, pendengung

Influencer,  pemengaruh, dengan arti positif

untuk menyatukan anak bangsa

Melawan kolonial yang bercokol 350 tahun

Berpihak pada Hindia Belanda, ketika Indonesia belum ada

Kemudian berpihak pada rakyat dan negara

Hingga masa kini, yang mengaku media mainstream

Yang dikuasai pemodal dan iklan

Yang tunduk pada pemilik, yang berkepentingan

Yang ada hukum dan redaksionalnya

Tapi akhirnya konotasi media sama dengan Ipolesosbuda

Hanya sebagai sistem dan ilmu murni,

tergantung siapa dan bagaimana menjalankannya

Mengejawentahkan dalam kehidupan bermasyarakat

Makanya isi media tergantung dari frame masing-masing

Sesuai kebutuhan dan kepentingan si pemilik

Tak akan ada lagi yang seperti Indonesia Raya

Karena zaman sudah berbeda

Doeloe bambu runcing meraihnya

Zaman now sulit untuk mengisi dan mempertahankan

Kini tergantung pada Ipolesosbuda

Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama

memudar semangat bernegara

kecuali dalam diskusi dan seminar

Aku si pendengung dan si pemengaruh ada di dalamnya

Media sosial yang lahir kemudian, membuka tirai dunia

Karena globalisasi membuatku sebagai salah satu batu bata

yang melakat di jejeran bata dinding dunia

ditandai dengan bermunculannya platform media sosial

berhamburan tak terbendung dunia kata-kata

apalagi di Indonesia setelah jebol benteng eforia

aku memahami ini

karena aku pernah bekerja di media arus utama

yang kini seakan semakin menjauh dari isu kemasyarakatan

 

Aku adalah si pendengung

Yang merenungkan buzzer zaman doeloe

yang mutlak untuk kepentingan orang banyak

rakyat, agama, nasional, negara

tapi sekarang, merusak demokrasi seperti dilansir tempo itu?

Dalam hati aku merasa benar juga

Ah, mungkin sudah tiba zaman Kalabendu

yang diramal Ronggowarsito (1802) :

(wong salah dianggap benar//pengkhianat nikmat//durjono soyo sempurno//

Wong jahat munggah pangkat//wong lugu kebelenggu//wong mulyo dikunjoro)

banyak orang berpangkat makin jahat, orang kecil makin terpencil.

Orang curang semakin garang, orang jujur semakin terpinggir.
Orang mulia tersia-sia, orang jahat mendapat derajat

Seperti tersurat dalam hadis

Akan tiba masanya :

orang jahat dipercaya jadi pejabat

Orang amanah tidak dapat tempat

Menanti Nabi Khidir

Entah dimana Satria  Piningit bersemedi

Padahal disiapkan untuk memperbaiki semua struktur

Dimana dan yang mana orang jujur, mulia dan jahat?

Aku ada dimana? Kurasa aku tak ada dimana-mana

Tapi sekaligus ada di semua mana

Karena aku buzzer yang terlanjur jadi buzzer

Akulah si pemengaruh

Aku adalah rain maker aspek informasi

Milenial yang hidup di zaman panik ini

Di era sontoloyo ini

yang menggali-gali benar salah, versiku

punya cara berpikir dan cara mengekspresikan diri yang berbeda

harus terus mengasah ide, brand, konsep,

yang tidak ada dalam kesadaran mainstream

Harus didengarkan opininya, dipercaya

Membuat orang lain bereaksi

pikiran dibungkus kata-kata tatkala kata tidak bermeaning

Atau bermeaning tidak berarti

Aku harus menyebar dalam berbagai kaidah platform

Bahkan sesama buzzer pun ada persaingan

Karena berita asli atau palsu ini harus terus bergelombang

Tidak perduli terjadi post-traumatic stress pada masyarakat

Yang akibat jangka panjangnya amat mengerikan

 

Aku adalah aku si buzzer

yang lahir di pinggir gang

di keramaian pojok Jakarta

Pernah dikecewakan partai politik

Gagal pula jadi wakil rakyat

Banyak uangku raib

lupa aku entah uang dari mana

aku merasa sebagai orang terpinggirkan

bahkan mirip orang terbuang

entah berapa jenis kerjaan sudah kulampaui

tapi menulislah sebagai jejak langkahku

dan kini sebagai ragam kerjaku

Walau orasiku tak sebagus narasi dan diksiku

Alhamdulillah aku masuk tivi

dianggap mewakili buzzer di layar kaca

Aku biasanya cuman main hp

Aku merasa ini harkat diri, derajatku di dunia

Karena sebagai manusia aku mampu mengekspresikan diri

Disaksikan orang banyak, bertemu orang ternama

Ini profesiku, kita harus beda, kalau sama bukan dunia namanya

Sekali lagi ini derajatku

Di dunia

Entahlah di akhirat

karena kebenaran tadi hanya milik Allah SWT semata.

Walau teman dan saudaraku kini sebagian entah dimana

Semua karena permainan kata-kata dunia

Yang katanya dapat meretakkan demokrasi

Aku terpana, mencoba mencari inspirasi

Apa lagi yang akan kutulis malam ini

Demi harga diri dan anak bini

Tapi, apakah aku punya harga diri apalagi nurani?

 

ooo

Jakarta, 14 Oktober 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru