Wednesday, November 13, 2019
Home > Berita > Hutomo Mandala Putra Imbau Jangan Ada Dualisme Kepengurusan IMI

Hutomo Mandala Putra Imbau Jangan Ada Dualisme Kepengurusan IMI

Tommy Soeharto dengan para pengurus Pengprov IMI 2016-2019 bersilaturahim di Jakarta, Senin. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Mantan ketua umum PP Ikatan Motor Indonesia (IMI) Hutomo Mandala Putra mengimbau agar jangan sampai terjadi dualisme kepemimpinan dalam tubuh organisasi IMI masa kepengurusan 2016-2019. 

“Saya tidak iklas kalau sampai ada pengurus tandingan, Jangan sampai ada pengurus ganda. IMI di daerah harus membina hubungan dengan pemerintah setempat serta klub-klub,” kata Tommy Soeharto, panggilan akrab HMP, di hadapan para pengurus Pengprov IMI di Crown Plaza, Jakarta, Senin siang.

Tommy tidak saja sebagai mantan atlet otomotif, tapi juga pernah menjabat ketua umum Pengda IMI DKI Jaya 1985-1989 dan ketua umum IMI Pusat 1991-1995. Si pecinta olahraga otomotif ini adalah ketua pertama IMI di luar unsur dari pemerintah. Ia juga pencetus berdirinya sirkuit internasional Sentul.

Dalam silaturahim dengan para pengurus baru PP IMI dan ketua Pengprov IMI, Senin, Tommy didampingi Ketua Umum PP IMI Sadikin Aksa, mengimbau agar para pengurus Pengprov yang diistilahkannya dengan “belum sadar dan belum insyaf agar kembali ke hittahnya demi kemajuan otomotif di Tanah Air.”

Tommy mengarahkan pembicaraannya kepada tujuh Pengprov IMI yang  “walk-out” pada Munas IMI Desember 2015 di Hotel Borobudur, karena menginginkan pemungutan suara secara tertutup, sedangkan sidang sudah setuju dengan pemilihan terbuka. Di Indonesia, ada 34 Pengprov IMI.

Pengurus Pengprov IMI bersama Tommy Soeharto silaturahim di Jakarta, Senin. (arl)
Pengurus Pengprov IMI bersama Tommy Soeharto silaturahim di Jakarta, Senin. (arl)

Ia menyatakan pemilihan pengurus pada Munas lalu berlangsung demokratis dan terbuka, sehingga pimpinan dan pengurus terpilih harus diberi kesempatan bekerja selama empat tahun ke depan.

“IMI juga harus membina kerja sama dan silaturahmi dengan siapa pun termasuk para pengurus Pengprov yang belum sadar itu, demi kemajuan otomotif ke depan. Harus ada pendekatan kekeluargaan, agar IMI lebih bermartabat,” kata Tommy, yang pada tahun 80-an aktif mengikuti berbagai kejuaraan otomotif di Tanah Air dan di luar negeri.

Ia mengatakan, semua tokoh otomotif harus bergandengan tangan untuk  memajukan kembali dunia otomotif di Indonesia, seperti pada beberapa tahun lalu saat Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan dunia reli (WRC), kejuaraan dunia motocross, Indonesia GP dan kejuaraan dunia super-bike.

IMI, tambahnya, juga harus memasyarakat dengan mengembangkan unsur pariwisata, bakti sosial dan menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat.”IMI bukan hanya mengurus olahraga, tapi juga hal lain, misalnya bila ada bencana alam, harus ikut membantu, usaha mobil derek hidupkan kembali untuk pemasukan IMI,” ujarnya.

“Semua klub harus berperan, adakan kejurda dan kejurnas berkesinambungan. Hadapi tantangan untuk memajukan atlet ke kancah dunia, tidak hanya asal ikut tapi tunjukkan prestasi. IMI hanya sebagai regulator tapi IMI harus memiliki target jelas baik dari sisi organisasi mau pun prestasi atlet ke depan,” tambah Tommy.

“IMI bukan hanya mengurus olahraga dan wisata, tapi IMI harus menjadi milik masyarakat dan untuk menjadi milik masyarakat IMI harus dekat dengan masyarakat,” kata Tommy, yang menurunkan bakat balapnya kepada putranya, Darma Mangkuluhur, yang dalam beberapa tahun ini berkiprah di balapan internasional.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru