Sunday, December 09, 2018
Home > Cerita > Hari Ini atau Esok Lusa, Cerpen Hendry Ch Bangun

Hari Ini atau Esok Lusa, Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi. (ist)

AKHIRNYA semua telah sirna/getar asmaraku pudar di dalam dada/di antara kita telah tak ada/rasa saling seia sekata//Hari ini atau esok lusa/kita kan berpisah untuk selama-lamanya/Agar takkan lagi kurasa/duka derita hidup bersama.//

Terdengar lirih suara Nicky Astria yang dia putar berulang-ulang, dalam perjalanan pulang. Lagu itu seperti mewakili perasaan Rita yang sudah tidak tahu harus berbuat apa. Perkawinan dengan Ronny sudah di ambang kehancuran karena begitu banyak perbedaan. Dan seperti tidak ada usaha untuk memperbaikinya. Tinggal menunggu hari, meski dia sendiri tidak tahu kapan itu terjadi. Cepat atau lambat, yang pasti, seperti tidak ada lagi jalan kembali.

Pertengkaran seperti menjadi hidangan rutin. Di waktu pagi ketika mereka berdua akan berangkat kerja, malam sehari ketika bertemu lagi di rumah. Pemicunya kadang hal sepele, yang tidak perlu menjadi persoalan besar, seandainya saja keduanya sedikit bersabar. Seperti terjadi malam itu.

“Mengapa tadi waktu aku telpon kamu tidak angkat?” hardik Ronny ketika Rita baru saja masuk ke dalam rumah. Badannya masih letih memikirkan pekerjaan yang seperti tidak pernah ada habisnya.

“Aku kan sudah sms. Waktu kamu telpon aku sedang negosiasi ulang dengan klien yang mendadak komplain dan kalau tidak dilayani ingin memutuskan kontrak,” jawab Rita, yang merasa persoalan sudah dia jelaskan, meskipun tidak secara lisan

“Apa cara menjawab seperti itu cukup. Kamu tahu nggak mengapa aku telpon?”
“Iya, Dita demam…”

“Jadi kan seharusnya kan kamu menelpon, menanyakan keadaan Dita…” Ronny terus mendesak.
“Apa harus seperti itu. Kalau sudah ada kamu, kan sama saja. Nanti tokh setelah sampai di rumah aku akan mengurusi Dita..”

“Kamu ibunya, seharusnya kamu lebih perhatian. Jangan seperti lepas tangan…”
“Jangan hanya bisa menyalahkan. Seandainya bisa aku pun langsung pulang ke rumah. Tetapi kan memang tidak bisa, dan kamu bisa. Jadi sudah selesai. Buat apa diperpanjang lagi…” kata Rita dengan suara keras, karena dia merasa dipojokkan.

“Makanya jangan menomor-satukan pekerjaan. Pikirkan juga keluarga,” balas Ronny.
Dan mereka pun bertengkar, seperti waktu-waktu sebelumnya. Rita hanya bisa menangis dan masuk ke kamar tidur. Untuk melihat buah hatinya yang sudah tertidur pulas, meski masih dengan kompres di kepala untuk mencegah panasnya meningkat.

Rita pun malas untuk mandi, makan, atau melakukan apapun. Dia betul merasa betul-betul remuk, tidak bergairah untuk sekadar bangkit dari tempat tidur. Matanya basah sambil terus menatap anaknya.

Usah lagi perpisahan jadi beban di hati/Takkan lagi, ada harapan kita tuk kembali// Biar semua hilang/bagai mimpi-mimpi/biar semua hilang/usah kau sesali//Biar semua hilang/bagai mimpi-mimpi/biar semua hilang/usah kau sesali…

Kisah cinta indah yang dulu bagaikan cerita remaja seperti hilang begitu saja bila mereka sudah saling menghardik. Tidak ada kata-kata manis, kata-kata merayu. Yang ada hanya saling menjelek-jelekkan, dengan kata-kata yang kurang pantas. Dan buntutnya, Ronny akan menuntut terlalu banyak sehingga Rita tidak sanggup lagi rasanya mempertahankan rumah tangga mereka.
***

APAKAH ada rasa sesal? Sulit menjawabnya, ujar Rita dalam hati. Ada yang mengatakan perkawinan dengan orang seumur atau selisih satu-dua tahun saja, sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik. Keduanya merasa sejajar. Apalagi ketika mereka pada waktu pacaran dulu berteman atau dalam satu pergaulan. Mereka memiliki teman yang lama, kenalan yang serupa, mengikuti kegiatan yang sama, di lingkungan yang sama. Mungkin bisa dibilang mereka juga teman, dan mereka juga pacaran.

Berbeda misalnya dengan pasangan dengan selisih usia lima tahun ke atas, tentu sang pria yang lebih berumur. Dalam kondisi seperti itu si wanita akan menganggap pacar atau kelak suaminya, sebagai abang, kakak, seseorang yang dituakan. Dia akan respek, hormat, di satu sisi, dan di sisi lain bermanja, mengharap perlindungan, atau bimbingan. Sebaliknya sang pria akan memosisikan dirinya sebagai orang yang membimbing, mengayomi, bersikap lebih dewasa, walaupun mungkin kompensasinya terkadang meminta dihormati, dihargai, diminta pendapat sebelum mengambil keputusan, dan semacam itu.

Rita dan Ronny seumuran, selisih hanya 2 tahun. Ronny dan Rita dulu sama-sama aktif di kampus. Mereka terlibat apa saja, mulai dari kegiatan yang bersifat bakti sosial ke masyarakat seperti pendidikan bagi rakyat kecil, member bantuan bagi anak terlantar, sampai dengan demonstrasi ke Istana Presiden atau DPR untuk menyampaikan aspirasi ketidakpedulian pemerintah. Latar belakang mereka agak beda, Ronny dari kalangan menengah bawah,
orangtuanya hanya PNS golongan rendah karena hanya tamat SLTA, sementara Rita dari keluarga pegawai swasta di perusahaan besar. Ronny harus mati-matian agar dapat melanjutkan kuliah karena minimnya dukungan keuangan, Rita bahkan memiliki jajan berlebih dan bisa mentraktir teman-teman.

Banyak yang menilai Rita bersifat luwes, mudah bergaul, percaya diri, dan sering berhubungan dengan rekannya di fakultas lain sedang Ronny hanya dikenal di kalangan fakultas saja walau dikenal pintar dan berani. Keduanya beda angkatan, beda jurusan, jadi sebenarnya cocok untuk saling mengisi. Tetapi kemudian perkawinan tidak sebahagia yang dibayangkan rekan-rekannya. Ronny yang menjadi pegawai di sebuah kementrian, terbelenggu pekerjaan rutinnya yang membosankan. Sedangkan Rita sibuk dengan dinamika pekerjaannya di sebuah firma hukum yang terkenal.

“Terlalu banyak kerusakan yang terjadi bila kalian berpisah,” kata Norma, rekannya semasa di kampus, ketika Rita mengutarakan keinginannya untuk berpisah, pada suatu makan siang di kawasan segitiga emas, dekat kantor mereka.

“Aku sadar itu. Tapi makin lama rasanya aku makin sulit bertahan. Dia makin pemarah dan seperti sama sekali tidak mau memahami keadaan. Pekerjaannku luar biasa berat, sedang dia hanya pegawai negeri yang bisa bekerja seadanya. Jadi sulit kalau aku harus seperti dia,” ujar Rita setengah mengeluh.

“Aku kira dia begitu karena merasa kalah dari kamu. Kalah pendapatan, kalah wibawa. Ya, aku juga tidak tahu harus berbuat apa,” kata Norma.

“Aku tidak pernah mengungkit-ungkit itu. Aku setengah mati menghindarinya. Kamu kan tahu, semua gajiku juga masuk ke rekening bersama kok. Dia pakai berapapun tidak pernah aku tanya. Beli perabot apa saja, aku biarkan. Kalau bertemu keluarganya, aku memuji pekerjaannya. Aku berusaha merendah di depan kolega. Aku sudah mengalah..”

“Tapi kalau dia tidak percaya diri, ya tetap saja dia merasa kalah.”
“Ya repot kan jadinya,” kata Rita.

Norma hanya bisa mengangguk dengan perasaan sedih. Norma merupakan sahabat Rita dan Ronny, dan tahu persis bagaimana ketika keduanya masih berpacaran, bagaimana keduanya melewati masa-masa indah di kampus, setelah lulus, sampai menikah.***

“BISA nggak kamu tidak selalu memarahi Rita?,” kata Bowo saat bertemu Ronny sore itu.
Bowo sampai pada kata-kata itu karena merasa harus intervensi persoalan rumah tangga sahabat yang dia sayangi sepenuh hati. Dia merasa harus menggunakan kata-kata yang keras agar Ronny sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini kurang patut, tidak bagus, dan tidak memecahkan masalah, tetapi malah berpotensi semakin merusak hubungan suami istri.
“Maksud kamu apa, Bowo? Aku hanya menegurnya. Tidak lebih, tidak kurang,”

“Semangatnya harus mencari solusi, Ronny. Setiap keluarga punya masalah. Tetapi kalau kedua belah pihak ingin memecahkan persoalan, ingin mengakhiri masalah yang muncul, maka cara berbicara pun dilakukan dengan baik. Pilih kata yang tidak kasar, bersikap empati, bukan ingin menang sendiri,” kata Bowo.
“Maksudmu?”

“Aku mendengar ini sudah beberapa lama. Bukan dari Rita, tapi dari beberapa orang. Aku sedih sekali. Kok bisa begitu. Bukannya dulu kalian begitu mesra. Aku saja cemburu melihat kalian. Eh sekarang selalu timbul persoalan karena hal sepele. Nah begitu kau yang bicara, aku merasa perlu jujur. Kalian tahu, aku ingin kalian berbahagia. Itu point-nya.”

“Mestinya kamu bertanya juga sama aku, biar adil. Coba dengarkan versi dari sisi yang lain.”

“Oke, silakan kamu cerita. Tetapi aku tetap yakin Rita itu istri yang baik. Soal kesibukan di kantor, siapa sih yang tidak sibuk di Jakarta ini? Ya, semua keluarga harus menyesuaikan diri. Ada yang mengalah karena pasangannya mendapat pekerjaan yang tidak mudah.”

Saat Rita menjadi mahasiswa baru, Bowo merupakan senior di kampus. Dalam perjalanan Bowo sempat menempel Rita dan pacaran walau sebentar. Tidak ada masalah, lancer-lancar saja.
Mereka sering jalan ke Taman Ismail Marzuki bersama. Entah untuk nonton drama, recital musik, pembacaan puisi, dsb. Hanya saja perjalanan mereka tidak jadi berlanjut karena Bowo terlalu keseniman-senimanan. Orangtua Rita keberatan anaknya berpacaran dengan orang yang gemar berpakaian kumel, jarang mandi, atau lebih memilih pergi bersama rekan satu sanggar teater ketimbang belajar agar lulus cepat. Tapi tokh mereka putus baik-baik, dan tetap berteman. Maka ketika Rita berpacaran dengan Ronny, Bowo pun menempatkan diri seolah-olah seperti abang kandung Rita yang siap mengawasi adiknya. Dia tidak ingin ada yang menyakiti hati Rita. Sampai sekarang.

***

TERDENGAR azan magrib di sela keriuhan suasana mal besar di selatan Jakarta itu. Rita sudah berjanji untuk bertemu Ronny dan anak semata wayang yang baru masuk SD, di foodcourt yang juga memiliki tempat bermain di sebelahnya. Rita bergegas ke mushala yang ada di dekat lantai dasar, menunaikan ibadah. Sekaligus menenangkan diri, berdoa, mencari kekuatan batin, karena merasakan kebuntuan yang tidak berkesudahan. Sekitar 10 menit kemudian dia sudah duduk di meja yang dipesannya.

Dia lalu melihat ke alat komunikasinya. Tidak ada SMS dari Ronny. Juga tidak ada pesan.
“Sudah dimana,Pa,” tanya Rita ketika kemudian telpon seluler suaminya aktif.
“Kita nggak jadi pergi. Tadi nyari taksi susah sekali. Akhirnya Dita malah ngambek. Sudah deh kamu pulang saja.”

“Lho, aku sudah pesan tempat….” Tetapi ponsel suaminya terlanjur tidak aktif.
Rita menarik nafas dalam. Dia tidak ingin mengeluh. Tidak ingin menangis. Dia membenahi tas dan barang bawaannya, lalu bergerak kea rah kasir untuk membatalkan pemesan tempat. Sambil berjalan ke luar, Rita memandangi dua kota hadiah yang disiapkannya di tas karton yang indah. Hadiah bagi suami dan anak, yang diharapkannya bisa menjadi awal hubungan yang membaik.

Dia sudah berdoa, sudah meminta kepada Tuhan, dan berharap akan tabah menghadapi masalah. Meski tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Sampai hari ini, esok lusa, atau tahun-tahun ke depan…. ***

September 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru