Saturday, August 19, 2017
Home > Berita > Gubernur DKI Baru dan Peran Partai Pendukung

Gubernur DKI Baru dan Peran Partai Pendukung

Ilustraasi, tugu selamat datang Jakarta. (Foto:http://wisataindonesia.biz)

Ilustraasi, tugu selamat datang Jakarta. (Foto:http://wisataindonesia.biz)

Selamat datang pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru, periode 2017-2022, Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Pelaksanaan pemilihan gubernur (Pilgub) atau pemilihan kepala daerah (Pilkada), Rabu (19/4), berdasar hitungan cepat atau quick  count  telah menempatkan Anis-Sandi sebagai pemenang. Calon petahana pun, pasangan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, telah mengakui keunggulan saingannya itu, meski hasil resmi baru akan diumumkan KPU DKI awal Mei nanti.

Kemenangan atau kekalahan pasangan calon Gubernur DKI dalam putaran kedua Pilgub DKI tersebut tentunya tidak terlepas dari janji selama kampanye yang disampaikan masing-masing calon, serta janji partai-partai dan tokoh pendukung masing-masing pasangan. Janji-janji kampanye tersebut, serta latar belakang calon, menjadi pendorong atau pertimbangan bagi pemilik suara dalam menjatuhkan pilihan.

Initinya, pemilih dalam memberikan suara tentunya diserta harapan pasangan bahwa gubernur/wakil gubernur pilihannya lebih baik dibanding gubernur/wakil gubernur sebelumnya. Pemilih pasti berharap pula partai pendukung pasangan yang dipilihnya tetap mengawal gubernur/wakil gubernur terpilih memenuhi janji dan tidak menyimpang dalam mengemban amanat pemilih.

Hasil Pilkada Gubernur DKI ini jelas akan mengikat pasangan pemenang dan para pendukungnya. Masyarakat, baik pemilih maupun rakyat di luar daerah pilkada berlangsung,  akan menilai calon terpilih dan partai pendukungnya. Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Perindo,  Partai Gerindra, dan tokoh-tokoh pendukung Anies-Sandi akan mendapat penilaian, dan menjadi pertimbangan dalam kegiatan pilkada/pemilu di tempat lain dan masa datang.

Begitu pula dengan Golkar, PPP, PDIP, dan NasDem, serta tokoh-tokoh partai pendukung Ahok-Djarot. Sosok partai dan tokoh partainya akan mendapat penilaian dari masyarakat. Di mana mereka berpihak, atau apakah mereka memperjungkan rakyat atau ada kepentingan lain, jelas dipengaruhi oleh peran mereka di pilkada. Tak heran bila peran partai-partai dalam pilkada/pemilu akan menimbulkan simpati atau antipati pemilih.

 

Diakui atau tidak, hasil Pilgub DKI sekaligus gambaran bagaimana kepercayaan pemilih terhadap partai-partai pendukung. Jelas itu terkait dengan apa yang mereka suarakan dan siapa yang mereka dukung. Kalah atau menangnya pasangan yang diusung merupakan gambaran kepercayaan pemilih terhadap pendukung mereka. Hasil pilkada itu tentunya harus menjadi alasan bagi partai-partai pendukung untuk mengoreksi kebijakan.

 

Terlepas dari semua itu, pasangan pemenang Anies-Sandi dalam perjalanan tugas mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI menggantikan pasangan Ahok-Djarot yang bertugas hingga Oktober 2017, tentunya harus berupaya maksimal menjalankan program kerja yang pernah mereka janjikan. Kepentingan rakyat (DKI) jelas menjadi prioritas utama. Peran partai-partai pendukung juga sangat dibutuhkan, agar duet Anies-Sandi tak salah jalan atau mendapat hambatan dari pihak yang berseberangan.

 

Jakarta adalah kota besar yang sarat masalah atau tantangan. Anies-Sandi tentunya dituntut memiliki program kerja yang jelas. Jakarta masih dihadapkan pada persoalan kemamcetan lalu lintas, banjir, bahkan kemiskinan, kehadirin pendatang, dan banyak lainnya. Semua itu harus memiliki prioritas. Kerja keras dan bicara keras saja tidak cukup, tapi semua itu harus diikuti kesungguhan dan program yang jelas dan pasti. Selamat datang Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru