Monday, September 23, 2019
Home > Berita > Gempa Aceh, Satu Tewas Korban Luka Berdatangan ke RS

Gempa Aceh, Satu Tewas Korban Luka Berdatangan ke RS

Bangunan rubuh akibat gempa di Pidie, Aceh. (okezone)

MIMBAR-RAKYAT.com (Banda Aceh) – Satu orang meninggal dunia dan sekitar 30 orang warga mengalami luka-luka akibat tertimpa bangunan yang roboh menyusul gempa berkekuatan 6,4 skala richter (RS) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Rabu pagi.

Korban masih terus berdatangan ke rumah sakit, demikian dilaporkan dari Banda Aceh.

Relawan Sentra Komunikasi Mitra Polri (Senkom) Aceh, Royan saat dihubungi di Meureudu, Ibukota Pidie Jaya, mengatakan, seorang warga atas nama Wahid meninggal dunia tertimpa bangunan dan para korban saat ini berada di RSUDaerah di Meureudu yang berjarak sekitar 160 Km dari Banda Aceh.

Disebutkan bahwa korban yang mengalami luka berat dan ringan itu terpaksa dirawat di luar, karena mereka khawatir gedung akan roboh, mengingat di daerah itu masih terjadi gempa susulan.

Royan yang ikut membantu evakuasi korban menyebutkan, para petugas kesehatan merasa kewalahan karena keterbatasan relawan dan tempat.

Korban yang sebagian anak-anak itu banyak mengalami patah tulang akibat tertimpa bangunan, demikian dilansir antaranews.
Ia berharap tim medis dari berbagai daerah, khususnya yang terdekat agar bisa membantu perawatan korban, karena tenaga paramedis terbatas.

Sementara itu, sejumlah bangunan seperti masjid dan pertokoan, khususnya di Ibukota Pidie Jaya Meureudu roboh.

Getaran gempa yang terjadi pukul 05.03 WIB itu dirasakan hampir di seluruh Aceh, sehingga mengejutkan warga.

Warga Banda Aceh, khususnya yang berada di lokasi bekas tsunami 2004 banyak yang keluar rumah.

Dari laporan media di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, masyarakat kawasan pesisir tersebut sempat waswas terjadinya tsunami akibat gempa ini.

Dari Lhokseumawe diberitakan, para korban gempa masih terus berdatangan ke Rumah Sakit Tgk. Chik Ditiro di Kabupaten Pidie Jaya, karena rumah sakit di Pidie Jaya sudah tidak mampu lagi menampung pasien.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie Murthala, yang ikut membantu memantau dampak gempa, rumah sakit di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, dipenuhi oleh warga yang membutuhkan bantuan medis.

“Warga yang terluka terus berdatangan, diperkirakan mencapai ratusan warga yang dirawat di rumah sakit Chik Ditiro Pidie,” katanya.

Ruangan perawatan medis di rumah sakit sakit penuh sehingga sebagian pasien ditempatkan di luar bangsal perawatan karena banyaknya korban gempa yang membutuhkan pertolongan.

“Bahkan korban ada yang harus beristirahat di lantai rumah sakit karena sudah penuh tempat perawatannya,” kata Murthala.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa 6,5 Skala Richter yang terjadi di wilayah Aceh berpusat di darat pada kedalaman 15 kilometer di titik 5,25 Lintang Utara dan 96,24 Bujur Timur, 106 kilometer tenggara Kota Banda Aceh.

Daerah yang paling parah terdampak tersebut adalah Kabupaten Pidie Jaya. Puluhan bangunan roboh dan 18 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa itu.

Dikunjungi Mensos

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ke Aceh untuk melihat langsung kondisi pascagempa 6,4 Skala Richter yang berpusat di Kabupaten Pidie Jaya.

“Tim langsung kita turunkan dan Mensos rencananya akan ke Pidie Jaya pada Jumat (9/12),” kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat yang dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Harry menyebutkan, Direktur Penanggulangan Bencana Kemensos RI, Adi Karyono bersama tim Rabu pagi langsung turun ke lokasi.

Selain itu, Kemensos juga mengerahkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk menyisir dan mengevakuasi korban meninggal maupun luka.

Untuk meringankan beban para korban Gempa, telah diterjunkan pula dapur umum lapangan (dumlap.

Pembentukan dapur umum sangat penting karena para korban gempa di Aceh belum bisa melakukan aktivitas memasak. Untuk satu dumlap bisa menyediakan hingga 750 porsi makanan.

Mensos Khofifah saat ini sedang melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua sejak Selasa (6/12).

Mensos menyampaikan rasa simpati kepada para korban gempa. Ia berharap agar seluruh keluarga para korban gempa bumi diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan berat tersebut.

“Saya turut merasakan apa yang saudara-saudara kita di Aceh rasakan. Semoga tidak terjadi gempa susulan. Saya telah perintahkan tim segera gerak cepat,” tuturnya.

Diungkapkan, Pemerintah Daerah menjadi komandan untuk penanganan bencana. Sementara Kementerian Sosial mendukung dengan penyiapan logistik jika kondisi sudah darurat dan tidak lagi mampu ditangani daerah.

Apabila dalam kondisi darurat, bupati/wali kota dapat mengeluarkan SK darurat sehingga dapat dikeluarkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 100 ton, gubernur dapat mengeluarkan hingga 200 ton selebihnya jika CBP tersebut telah digunakan maka di atas 200 ton dapat dikeluarkan oleh Mensos.  (ANKB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru