Monday, October 21, 2019
Home > Cerita > Gang Mayit Cerpen A.R. Loebis

Gang Mayit Cerpen A.R. Loebis

Ilustrasi - Bayangan kuda. (pixabay.com)

“Mentang-mentang tinggal di Gang Mayit, buat artikel Gang Mayit. Mau nulis apaan sih,” istriku dengan rona bingung bertanya apa yang sedang kutulis.

“Ya aku mau nulis Gang Mayit. Tentang Gang Mayit,” kataku, padahal aku pun belum tahu dari mana kumulai menulis cerita tentang Gang Mayit ini.

Istriku tak sengaja membaca judul tulisan di laptopku, baru judul saja. Gang Mayit. Ia mengerenyitkan kening. Kami baru tinggal seminggu di gang ini. Aku pun tak tahu kenapa gang buntu ini dinamai Gang Mayit. Kok tidak Gang Mayat? Ah, sudahlah, yang jelas aku mendapat kontrak rumah murah di daerah ini.

Apalah artinya nama, walau gang apa pun namanya, aku tidak perduli, yang penting murah dan aman. Itu dalam benakku ketika membayar panjar rumah sepetak, dengan dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi sendiri itu.

“Kok namanya ngeri bingit Bang,” kata istriku ketika pertama kali mengetahui nama gang yang akan kami tinggali itu.

“Ah itukan hanya nama. Shakespear mengatakan what’s on a name, apalah arti seuntai nama,” jawabku.

Istriku melengos setelah meletakkan secangkir kopi di tepi meja dan setelah sesaat melihat layar laptop dengan tulisan Gang Mayit. Naluriku sebagai penulis, sebenarnya sudah tersentuh ketika pertama kali mendengar nama gang itu, tetapi belum ada reaksi yang muncul. Mungkin karena sibuk memindahkan perabotan dari kontrakan lama ke gang yang dijuluki gang orang mati itu.

Sejak pindah ke gang itu, sedikitpun aku tidak ada berpikir yang bukan-bukan tentang nama gang itu. Aku tidak merasa ngeri. Orang yang tinggal di pinggir kuburan pun sekarang ini banyak, bahkan yang tidur di kuburan pun ada. Ada yang main judi kartu malah. Ada yang pacaran hingga jauh malam malah. Itu kusaksikan sendiri, karena kontrakanku sebelumnya terletak di kawasan tak jauh dari kuburan.  Lagi pula penghuni Gang Mayit itu banyak, kecuali kalau aku hanya berdua dengan istriku, yang baru kunikahi sekitar setahun ini.

Aku biasa minum kopi dan air hitam itu tidak berpengaruh pada waktu tidurku. Tapi malam ini aku susah tidur.  Jarum panjang jam di tembok sudah ke arah angka 10 sedangkan jarum pendek ke angka dua. Istriku sudah ngorok, maklumlah ia pun bekerja di kantornya seharian.

Mataku masih melotor ke layar laptap,  di situ tertera masih tetap dua kata: Gang Mayit. Uh, aku pun belum dapat memikirkan apakah tulisan ini nantinya berupa hikayat atau sejarah mengapa gang ini diberi nama seperti itu. Berarti ini fakta. Atau jangan-jangan nantinya menghasilkan fiksi, mungkin cerita pendek atau puisi.  Untuk yang terakhir ini,  nalar atau imajinasiku pasti akan bergerak liar, apalagi sejak kecil aku suka menulis fiksi dan puisi.

Tapi ini bukan fiksi dan puisi. Aku ingin mencari tahu apa gerangan yang terjadi di gang buntu ini dan sejak kapan namanya disebut Gang Mayit.  Sudah tiga tahun aku berhenti merokok, kalau tidak, pasti akan ada asbak yang tidak akan hentinya menerima jentikan debu nikotin itu dari jemariku.

“Abaaaang…abaaang..tolooong abang,” tiba-tiba aku merasa pantatku terangkat dari bangku, jantungku berdegup kencang, kaget mendengar jeritan Ina, istriku, yang seperti melolong dari kamar memanggilku.

Aku bergegas ke kamar. Istriku kulihat terengah-engah. Kuambil air putih..Bismillah..kutempelkan bibir gelas itu ke bibirnya yang masih bergetar. Kuletakkan gelas ke meja dan kupeluk istriku. Ia mendekap seolah tak ingin dilepaskan.

“Ada apa Ina?”

“Abang..abang..dari tadi di meja depan kah?”

“Ya..kenapa Ina..”

“Tadi Ina tersentak terbangun, ada yang menjawil Ina. Ketika Ina menoleh, melihat seperti ada abang di sampingku, tapi ia brewokan, matanya tajam agak merah,” kata Ina patah-patah. Masya Allah, aku tidak brewokan. Mungkin Ina mimpi.

“Mungkin Ina lupa baca doa tidur. Ambil wuduh lah, solat malam sekalian,” kataku. Hingga pagi laptop Iupa dimatikan.  Aku terus memeluk Ina, sampai akhirnya kami terlelap, entah siapa yang duluan.

oOo

“Coba Tanya Ngkong Lilik atau Abah Sani. Mereka berdua yang paling sepuh di wilayah ini saat ini. Mereka pasti tahu sejarah Gang Mayit,” kata Adang, pemilik warung kelontong di ujung gang buntu.

Mengapa disebut gang buntu? Karena gang itu memang buntu. Sebenarnya gang itu tidak jauh dari jalan besar yang dilalui angkot. Bila masuk dari jalan besar, berjalan kira-kira lima menit, menikung ke arah kiri maka kita akan bertemu dengan Gang Mayit.

Di mulut gang ada tulisan di papan kecil, Gang Mayit.  Gang itu memanjang, ada sekitar 20 rumah di sisi kanan gang dan sekitar 30 rumah di sisi kiri dan rumah terakhir di sisi kiri itu lah rumah Adang, pemilik warung kelontong. Jadi letak gang ini sebenarnya di tengah kota, tercatat sebagai salah satu er te dari er we yang ada di wilayah itu. Gang ini sebenarnya lebar, cukup dua mobil berselisih jalan, tapi kendaraan roda empat tidak bisa masuk, karena gang dari jalan utama itu sempit.

Adang pun mengaku sebagai pendatang ke gang itu. “Ah aku tidak pernah bertanya tentang nama gang ini. Aku tinggal di sini sejak menikah dan kini sudah punya dua anak,” kata Adang, tapi wajahnya seperti tidak iklas, seperti menyembunyikan sesuatu.

Aku ingin secepatnya bertemu dengan Ngkong Lilik atau Abah Sani. Tapi, aku terbayang lagi tentang tabiat istriku semalam.  Kok aneh banget ya, kok ada orang brewok di sebelahnya. Ah, mungkin Ina mimpi, atau tidur menghimpit lengannya. Itu biasa terjadi bila posisi tidur kurang benar.  Atau.. ya itu tadi, lupa berdoa.

“Assalamu’alaikum Ngkong, selamat malam,” aku berseru di pintu rumah mungil setengah beton itu. Malam ini aku mulai melakukan riset kecil-kecilan. Temanya, hmm, Gang Mayit: Asal muasal cerita dan telusur hikayatnya. Ini sih biar kelihatan keren aja, pembaca, yang jelas kagak ada tema-temaan lah.

Kuulangi salam dua-tiga kali, sampai ada jawaban, “Wa’alaikum salam warokhmatullah”, dan pintu berdenyit dibuka.

Ini mungkin yang namanya Ngkong Lilik.  Garis-garis keriput wajahnya sudah jelas.  Rambut, jenggot, alis mata sudah memutih. Ia mengenakan kaos oblong putih, pakai kain sarung, pancaran matanya masih tajam bahkan seolah menikam.

“Ngkong Lilik, kenalkan nama saya Abdul, baru pindah ke Gang Mayit ini. Sekitar empat rumah dari kediaman Ngkong.”

“Ya saya Ngkong Lilik, selamat datang, selamat jadi tetangga kami. Saya sudah dengar ada warga baru di sini,” kata Ngkong. Suaranya berat. Kalau busananya rapih dan kumis serta jenggotnya ditata bersih, pasti ia kelihatan berwibawa.

“Ngkong sehat aja ya.  Tinggal sama siapa Ngkong di sini.”

“Dengan dua cucu saya. Sudah pada besar, kerja. Anak saya tiga orang sudah pada punya rumah sendiri, keluar dari wilayah ini.”

Ngomong pun ngalor-ngidul dan akhirnya, “Sudah berapa lama Ngkong tinggal di sini. Eh, kok nama gang ini Mayit kenapa Ngkong.”

“Saya lahir di sini, sama dengan hampir semua warga yang tinggal di sini, merupakan keturunan orang sini. Pendatang mungkin tidak lebih dari sepuluh rumah.  Kenapa namanya Gang Mayit?”

“Ya Ngkong, saya pengen tahu asal muasal nama itu.”

Ngkong menarik nafas panjang. Menggeser kursi kayu yang didudukinya. Meluruskan kedua kakinya dan sesaat bersender ke kursi.  Ia meraih rokok di meja, meletakkan satu batang di sela bibirnya, menyulut dan menghisap dalam, menahan sesaat dan mengeluarkannya berbarengan dari mulut dan hidungnya.

Melihat sikapnya itu, malah aku yang tidak sadar menarik nafas panjang. Ada apa ya. Aku menunggu kata-kata keluar dari mulutnya.  Ah, Ngkong sepertinya sedang berusaha mengumpulkan ingatannya.  Ia terkadang menunduk, sesaat kemudian menengadah ke langit-langit rumah.

“Kenapa kau tanyakan itu, nak.”

“Aku hanya ingin tahu Ngkong.”

“Penyewa sebelumnya di rumahmu pun menanyatakan hal itu. Padahal pengontrak sebelumnya lagi sudah gonta-ganti puluhan kali tinggal di situ, tapi satu pun tidak ada yang menanyakan tentang gang ini,” jawab Ngkong Lilik, sembari menawarkan padaku ingin minum apa.

“Ngkong hanya pernah mendengar cerita lama nak.  Jaman dulu, bila kita pulang ke rumah lebih dari jam sepuluh, selalu ada lemparan pasir ke arah kita.  Ngkong pun pernah merasakannya. Kuduk kita tiba-tiba dingin seperti disentuh es,” kata Ngkong Lilik.

“Ngkong juga pernah mendengar suara kuda meringkik dan suara telapaknya.  Pagi-pagi orang pun cerita mendengar hal sama,” ujar orang tua itu, yang kelihatan masih awet kendati rokoknya ngebul terus.

Seperti halnya Ngkong Lilik, Abah Sani pun bercerita tentang ringkikan kuda itu, serta bumbu lain, tentang jagoan muda yang kebal senjata tajam dan ditakuti di kawasan itu.

Ketika keesokan malamnya aku bertamu ke rumah Abah Sani, ia bertutur si anak muda jagoan itu mati ditikam tentara Jepang. “Kata orang badannya tembus pisau, karena ia lupa membawa jimat kebalnya,” kata si Abah.

“Makanya pada waktu tertentu ia datang mencari jimatnya,” kata Abah, yang juga menjelaskan itu cerita lama sekali. Ia pun mendengar dari kakek neneknya.

Kedua orang tua itu amat menarik ceritanya, atau mungkin cara mereka menceritakan “dongeng” yang mereka ketahui dan pernah didengar mereka.

“Dulu ayah Abah mengatakan bahkan pernah melihat jagoan muda itu. Tapi ketika disapanya pemuda itu menghilang,” kata Abah.

Tidak terasa waktu sudah masuk sepertiga malam dan aku pamit pulang kepada Abah Sani, yang badannya sudah mulai membungkuk, tapi tetap sigap dan juga  seperti tak berhenti menghembuskan asap rokoknya.

***

“Assalamu’alaikum warokhmatulloh,” aku mencolokkan kunci, membuka pintu rumah dan masuk ke dalam kamar.

Ina menggeliat dan memandangku dari kepala hingga kaki. Pandangannya agak aneh, mulutnya setengah menganga, leher seperti tersekat seperti ingin mengeluarkan kata-kata.

“Abang baru pulang?”

“Ya kenapa Ina. Abang dari rumah Abah Sani.”

“Yang benar Bang. Yang barusan tidur di sebelah Ina siapa? Dia memeluk Ina dari belakang..”

Ina mendadak tak sadarkan diri dan keesokan harinya minta pindah.

***

Jakarta, 2016.

(dimuat dalam kumpulan cerpen HPN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru