Tuesday, November 12, 2019
Home > Editorial > Fenomena Vicky

Fenomena Vicky

Infotainment haram menurut MUI. (tempo)

Vicky Prasetyo bermula dikenal dan dijuluki “kontroversi hati”. Ini lantaran ia tampil dilayar tv dengan sejumlah istilah asing yang amat asing. Kemudian dikenal sebagai narapidana kasus penipuan. Batal menjadi suami Zaskia Gotik, pria ini kadung terkenal,  meski bukan karena prestasi.

Peristiwa negatif banyak melatarbelakangi langkahnya.  Stasiun tv tertentu memanfaatkan menjadi host, dan menjelmalah ia menjadi komedian.

Pekan ini mantan narapidana ini menghebohkan dunia hiburan dengan rencana pernikahannya dengan Engel Elga mantan artis, mantan isteri siri pemusik besar, mantan isteri pejabat tinggi.

Sensasi ini, apa boleh buat, disukai. Maka tak heran ada stasiun tv yang ingin menyiarkan live pernikahan yang rencananya dilangsungkan 7 Februari 2018. Semua peristiwa ini dengan gamblang berseliweran di media sosial, media online maupun mainstream.

Bukan pernikahan itu yang menjadi soal. Tetapi selera masyarakat terhadap idola tanpa melihat apa prestasinya dan bagaimana latar  belakangnya. Selera masyarakat telah terbentuk.

Selera publik seperti tengah dituntun menuju nilai tanpa keluhuran.  Bermedia sosial menjadikan kita  teramat mudah mengesampingkan keadaban dan kesantunan. Sehingga untuk mempahlawankan/ mengidolakan seseorang tidak perlu mempertimbangkan keadaban maupun kesantunan. Yang penting, sensasional.

Perilaku yang tidak mengindahkan etik saat berkomunikasi  membuat kita  merasa diri bebas di dunia maya.

Antara fitnah dan fakta, benar dan salah, baik dan buruk melebur nenjadi satu. Sehingga ketika putih dibilang  merah, tak ada lagi yang keberatan . Seperti ketika pecundang dibilang pahlawan.

Ini akibat dari informasi yang bias yang melahirkan sesat logika dan berujung pada buruk selera.

Kepada siapa keadaan ini hendak dipersalahkan? Siapa yang harus menjawabnya. Kita semua mengalaminya. Kita adalah produk media sosial yang mewariskan polusi sosial yang cukup mengkhawatirkan. Kita juga pelaku. Baik sebagai individu maupun institusi.

Deretan kasus mulai dari buli , persekusi, hoaks, hingga pembunuhan karakter seseorang adalah jamak. Berita atau video viral tanpa budaya akurasi dan konfirmasi sumber berita, berkelebatan.  Semua serba cepat, berlomba menjadi nomor satu, berebut perhatian demi rating.

Yang bisa kita lakukan adalah saling mengingatkan untuk selalu melakukan konfirmasi sebelum meneruskan informasi,  saring sebelum sharing.Fenomena Vicky hanya salah satu contoh akibat menebar berita tanpa saringan ketat.

Paling tidak,  dengan ini kita berupaya menjaga kejernihan berpikir, supaya bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Minimal bisa membedakan mana pecundang mana pahlawan.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru