Tuesday, December 10, 2019
Home > Cerita > Ekspresi dan Refleksi Catatan Hendry Ch. Bangun

Ekspresi dan Refleksi Catatan Hendry Ch. Bangun

Ilustrasi - Ekspresi dan Refleksi. (mimbar-rakyat)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Hari-hari ini kita menyaksikan manusia Indonesia semakin sering mengekspresikan diri. Sebelum makan, makanan di meja dipotret langsung ditampilkan ke berbagai media sosial entah itu instagram, Facebook, twitter atau yang lainnya.

Mungkin tidak bermaksud sombong, hanya ingin mengatakan inilah menu makan siang / malam saya. Menunggu kereta api, pesawat, bikin status. Atau mungkin protes karena terlambat. Membaca atau melihat tokoh mengatakan sesuatu yang tidak berkenan di hati, langsung memberikan komentar.

Melihat gambar, video, kutipan, petuah agama, tulisan tentang kesehatan di grup Whattsapp, langsung diteruskan atau ditanggapi. Sepanjang hari sejak bangun tidur sampai hendak tidur lagi, telpon pintar menjadi alat untuk mengekspresikan diri.

Tidaklah heran kalau Jakarta, atau Indonesia secara keseluruhan kerap disebut sebagai “Ibu Kota Dunia” untuk media sosial.

Ya, karena Indonesia terkenal paling cerewet di media sosial. Isyu apa saja ditanggapi. Apa yang ramai diperbincangkan orang Indonesia langsung menjadi ngetop di dunia. Ini membanggakan meskipun juga memprihatinkan karena seolah-olah orang Indonesia pekerjaanya hanya memperbarui status atau mengomentari apa saja yang sedang menjadi tren atau viral.

Tentu saja kita berharap kecerewetan ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi dalam bentuk yang lebih produktif.  Misalnya mengubah kebiasaan bercerita di Facebook atau Instagram menjadi menyampaikan ide-ide baru, yang inovatif, sesuatu yang berharga sehingga bermanfaat bagi masyarakat ataupun bangsa Indonesia.

Atau juga menciptakan bisnis digital, daring, sehingga memberikan pendapatan, penghasilan, artinya ponsel pintar tidak lagi sekadar cost, tetapi menjadi benefit. Pulsa yang hilang, terganti dengan uang yang mengalir masuk. Atau selain materi, kita bisa memperkaya relegiusitas, memperdalam kekuatan batin, karena di waktu selang mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran dengan cepat dan mudah melalui Youtube.

Namun yang kita saksikan justru, malah media sosial tadi, menjadi alat yang disalahgunakan oleh sekelompok orang yang memproduksi ujaran kebencian, tuduhan tanpa dasar, serta berita bohong (hoax). Hajar kanan, hajar kiri, serang sana serang sini, untuk menjelekkan satu pihak dan sebaliknya menguntungkan pihak lain.

Ada saja yang ditangkap polisi karena menghasilkan ujaran kebencian, konten negatif, dengan memanipuasi fakta, mengubah apa yang benar menjadi sesuatu yang menyudutkan, memojokkan, menghina. Terakhir seorang ibu rumah tangga berinisial Rin (37 tahun), warga Perumahan Baranangsiang Indah, Ciparay, Bandung, ditangkap Subdit Cyber Polda Metro Jaya karena mengedit sebuah iklan luar ruang (billboard).

Apa boleh buat ponsel cerdas ternyata seperti pisau bermata dua. Bijak menggunakannya kita bisa mendapat keuntungan, hal positif, sedang kalau sembarangan, maka yang datang adalah malapetaka.

***

Seiring dengan mudahnya mengekspresikan pemikiran, gagasan, sikap, pendirian, semakin sedikit yang melakukan refleksi diri.

Di tiap sudut kantor, tempat publik seperti restoran, mal, ruang tunggu, mungkin hanya 1-5 persen orang yang terlihat merenung atau melamun. Semua sibuk dengan perangkat teknologi yang digenggamnya. Bahkan sering ada foto, sekelompok orang yang sedang bersama, malah sibuk dengan ponsel masing-masing.

Padahal merenung, refleksi diri sangatlah penting. Saat lepas dari kegiatan rutin, kesibukan fisik, kita bisa memikirkan kembali tentang diri dan kehidupan yang kita jalani. Misalnya saja bertanya dalam hati, untuk apa sih saya hidup. Apa sih yang sudah saya kerjakan sampai usia saya sekarang ini.

Apakah saya memberi efek positif, kontribusi bagi keluarga? Apakah saya memberi manfaat bagi tetangga, sanak saudara, lingkungan.? Berapa sih tabungan akhirat yang sudah kumpulkan? Apakah selama ini saya membantu anak yatim piatu, orang-orang yang membutuhkan uluran tangan? Berapa kali saya menyakiti orang? Bagaimana ibadah saya, sudah rutin atau bolong-bolong. Apakah saya munafik, belagak alim tetapi di luar itu suka mengerjakan hal yang dilarang agama?

Dengan bertanya seperti itu maka sedikit banyak kita mengevalusi diri dan berusaha untuk lebih baik di hari-hari ke depan. Kita jadi mikir dalam bertindak. Kita jadi tidak lagi sekadar memandang orang dengan kacamata negatif, tidak lagi sekadar menunjuk hidung orang dan merasa benar sendiri.

Tidak lagi asyik mencari kesalahan orang. Kita juga lalu akan mencari cara agar berbuat baik, menyisihkan uang untuk orang yang memerlukan bantuan, yang selama ini kita lihat dengan sebelah mata. Tidak lagi melanggar aturan yang ada dengan berbagai alasan: ingin cepat, merasa penting, merasa berhak melakukannya.

Dan tentunya menciptakan kesadaran diri bahwa berbuat baik dan benar adalah kebutuhan kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Dengan bermuat baik, aroma positif, sikap baik, akan tertanam dan kemudian muncul dari berbagai sikap kita. Mudah tersenyum, mudah menghargai pencapaian orang lain sebagaimana pun kecilnya dan sebaliknya mudah melihat kekurangan sendiri. Tidak iri hari dan benci melihat sukses orang.

Kalau tiap-tiap individu kita disiplin, maka itu akan membentuk gelombang yang membuat disiplin muncul pula di masyarakat. Efeknya akan baik buat bangsa ini yang permisif dengan pelanggaran, permisif dengan korupsi dan tindakan negatif lainnya, hanya karena pelakunya kita kenal, atau saudara kita, atau sekelompok dengan kita.

Menjelang akhir tahun, refleksi jadi jauh lebih penting. Kita bisa mencatat pencapaian yang diraih sejak awal tahun sampai sekarang. Lalu kita pasang target lagi, mencatatnya untuk melihat progresnya dari waktu ke waktu.

Tentu dengan membuat langkah-langkah agar target itu bisa dicapai. Tanpa perencanaan target tidak akan pernah tercapai. Lalu realisasinya juga ditetapkan dengan jelas: kapan, di mana, berapa. Misalnya untuk bisa baca Al Quran yang harus kursus bahasa Arab. Untuk memperbanyak tabungan akhirat ya rutin menyumbang ke panti atau masjid yang dikunjungi. Agar tidak mabuk media sosial, ya batasi jam membuka ponsel. Agar bisa reflektif, ya banyak baca buku.

Mudah-mudahan kita masih bisa berpikir, refleksi, dan tidak terseret dengan semakin cerewetnya dunia, makin derasnya arus informasi yang kebanyakan berisi sampah.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru