Wednesday, December 11, 2019
Home > Featured > “Duta” Kayuagung sudah menghilang  Catatan A.R. Loebis

“Duta” Kayuagung sudah menghilang  Catatan A.R. Loebis

Kecamatan Kayuagung ibukota Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel. (ist)

Kayuagung pernah kondang di mancanegara, karena para “duta” banyak berasal dari daerah itu. Tapi kini berangsur memudar karena para “duta” semakin sedikit, atau bahkan sudah tidak ada lagi. Masyarakat dan para tokoh masyarakat di Kayungagung, juga menginginkan predikat “duta” itu pudar, demi harkat orang Kayuagung, baik dari sisi sosial apalagi dari sisi agama.

Pada awal 1960-an, istilah “duta” Kayuagung itu mencuat, karena banyak para penjahat di luar negeri yang berasal dari kampung kecamatan di Ogan Komering Ilir (OKI), yang letaknya di bagian tenggara kota Palembang. Entah mengapa pula mereka disebut dengan istilah duta.

Ketika saya dan keluarga berangkat dari Pelembang ke Kayuagung, waktu tempuh hanya sekitar satu jam, –  karena kami mendapat ijin khusus melalui jalan tol yang belum diresmikan. Kalau melalui jalan biasa, menurut cerita orang setempat, bisa ditempuh sampai dua jam.

Para “duta” yang sudah berhenti beroperasi, ada yang menjadi guru, membuka toko, berdagang bahkan ada yang dipilih menjadi kepala desa.  Profesi “duta” menjadi amat unik, karena mereka dihormati di kampungnya dan “pekerjaan” itu diikuti keluarga lainnya antargenerasi.

Menurut cerita yang beredar, ada seorang “duta” yang dalam waktu dua minggu membawa uang sebanyak satu milyar rupiah. Yang lain ratusan juga rupiah. Mereka mendirikan rumah baru, membeli kendaraan, buka usaha dan membantu orang lain.  Ada juga yang membantu mendirikan rumah ibadah. Bahkan ada juga yang diselamati masyarakat dan keluarga ketika ia dan grupnya akan berangkat atau pulang dari luar negeri.

Pada awalnya mereka beraksi di beberapa negara Eropa, lama kelamaan beralih ke kawasan Asia dan lebih dekat lagi di negara Asia Tenggara. Ini karena mereka semakin susah masuk ke negara besar itu.  Mereka umumnya berangkat secara ilegal ada juga legal, dan tentu saja ada yang membantu dan mendidik mereka.

“Setahu saya para duta itu bila pulang membangun rumah dan menolong saudara dan tetangga mereka. Mereka juga membangun rumah ibadah. Rasa sosial mereka amat tinggi,” kata Aa, warga kota Palembang yang tujuh tahun bekerja di Kayuagung

Apa yang dilakukan mereka?

Ada yang menjadi agen asuransi kemudian melarikan uang, ada yang melakukan hipnotis, menukarkan tas yang sama dengan milik orang. Pokoknya macam-macamlah. Mereka umumnya tidak melakukan tindak kekerasan, (sripo, 2011).

Mantan “duta” generasi pertama, H Tarmuzi Yusuf alias Tarmos, mengatakan, masih ada juga duta saat ini tapi tidak seramai masa lalu. Program pembangunan dan terbukanya lapangan kerja di Kabupaten OKI, ditambah lagi ketatnya pengawasan aparat di negara tujuan, membuat para pemuda Kayuagung meninggalkan pekerjaan itu. (sripo, 2011)

Tarmos mengatakan hal itu pada 2011 – ketika usianya 67 tahun dan ia memprediksi  para “duta” itu akan punah pada 2020.

Mengapa hal ini jadi model ketika itu sehingga cukup menggemparkan?

Mulyadi dalam tesis S2 bidang sosiologi UGM, (2006) menuliskan:

Tindakan “mengambil” yang dilakukan para duta Kayuagung di luar negeri merupakan cara protes, resistensi, dan negosiasi mereka atas perkembangan kapitalisme di sektor perdagangan di kawasan Sumatera Selatan dan Asia Tenggara.  

Orientasi tindakan mereka di luar negeri sepenuhnya terkait dengan tujuan-nilai kehormatan (harga diri; rasa malu; gengsi; status sosial) yang dilatari akumulasi uang dan hasrat mengkonsumsi.  

Moralitas dan kebaikan mereka dianggap sebagai privasi, sedang mencuri di luar negeri sebagai pilihan pekerjaan. Kontradiksi nilai atau ambiguitas tindakan mereka setara dengan kontradiksi nilai dalam dunia modernitas.  

Di sinilah realitas duta Kayuagung mengalami reproduksi sebab masyarakat Kayuagung dan perkembangan dunia modernitas sendiri telah menyediakan konstruksi makna dan mimpi-mimpi tentang kesenangan hidup. 

Kalau ini dianggap merupakan cerita lama, maka yang pasti pernah ada “duta sosial” dari Indonesia, termasuk yang ditakuti di mancanegara. Mereka layaknya seperti triad di Hongkong dan China, Yakuza di Jepang, Yardies di Inggris, mafia di Albania, Meksiko, Rusia dan beberapa negara Erop, Cosa Nostra di Italia.

Aku lagi berkunjung ke Kayuagung di Sumatera Selatan. (dok/arl)

Bedanya, para mafia internasional itu memiliki semacam organisasi, bersatu, sehingga menguasai berbagai kartel kehidupan, sedangkan para “duta” bekerja sendiri-sendiri atau grup, tidak ada pimpinan dan organisasinya.

Masyarakat dan berbagai tokoh serta pemerintahan Kayuagung menginginkan predikat “duta” yang berkonotasi kejahaatan itu terkikis habis dari Kayuagung. Tapi ini sudah melegenda sebagai torehan sejarah dan akan diingat terus dari generasi ke generasi.

Tapi perjalanan sejarah pun berproses terus. Kata “duta” akan tetap ada, tapi Kayuagung sudah semakin maju, masyarakat semakin bangga akan kampung kelahiran mereka dan bersama-sama membangunnya.  Semoga para “duta” pun sudah menghilang.

Bagi saya dan keluarga, ada hal paling kami idamkan, setiap bertemu wong Kayuagung, mereka mengingatkan, “Sudah mencicipi pindang burung?”, sebagai salah satu makanan khas daerah itu. Tentu saja setelah pindang ikan yang maknyos itu.

Hingga kini bila membayangkannya, liur nyaris meleleh, karena waktu sempit ketika itu sehingga kami tak sempat menikmatinya. (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru