Wednesday, July 17, 2019
Home > Berita > Diusir di Myanmar, Tak Diinginkan di Bangladesh

Diusir di Myanmar, Tak Diinginkan di Bangladesh

Kondisi kamp penampungan darurat di Cox Bazar, Leda, di bagian timur Bangladesh, dekat perbatasan dengan Myanmar.(Foto: Al Jazeera)

Kondisi kamp penampungan darurat di Cox Bazar, Leda, di bagian timur Bangladesh, dekat perbatasan dengan Myanmar.(Foto: Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Cox Bazar) – “Saya meraih anak-anak saya dan berlari sekencang saya mampu menuju hutan, dan menunggu di sana bersama beberapa ratus orang.” Itulah yang dialami Ambia Khatun ketika meninggalkan rumahnya yang dibakar pada dini hari 23 November tahun lalu.

Ditemui di pengungsian, di Cox Bazar, Bangladesh, baru-baru ini, Ambia Khatun masih terlihat trauma. Khatun berujar sambil berlinang air mata. Dia tidak tahu nasib suaminya, apakah mati atau masih hidup. Suaminya ketika itu tidak bisa keluar rumah karena tentara Myanmar mulai menembak.

Wanita berusaha 37 tahun ini berasal dari desa Kearipara di kota Maungdaw Myanmar bagian barat. Dia melarikan diri bersama dengan keluarga Rohingya lainnya, meninggalkan suaminya ketika deretan rumah dibakar tentara. Khatun mengatakan tidak pernah membayangkan keluarganya bisa hancur dengan cara itu.

Kini, dia bersama 2.500 keluarga Rohingya lainnya berlindung di sebuah kamp darurat di Cox Bazar, Leda di timur Bangladesh, dekat perbatasan dengan Myanmar. Al Jazeera menemui para pengungsi Rohingya itu di kamp penampungan di desa Leda, pekan lalu.

Program Pangan Dunia dan LSM lokal lainnya menyediakan makanan dan bantuan medis darurat. Kamp di Leda terlihat sempit. Fasilitas terlihat kotor dan tidak memiliki fasilitas memadai. Anak-anak berkeliaran di sekitar penampungan yang terbuat dari pondok bambu. Tidak memiliki akses pendidikan, perawatan medis dan sanitasi.

Mereka terusir dari Myanmar, dan terkesan tidak diterima di Bangladesh. Bangladesh telah menolak mendaftarkan Muslim Rohingya sebagai pengungsi. Padahal hampir 65.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak Oktober tahun lalu, ketika tentara Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap minoritas Muslim di Myanmar, setelah serangan mematikan di sebuah pos militer.

Myanmar beralasan mereka bertindak terhadap pelaku serangan, tapi kelompok hak asasi mengatakan militer telah menjalankan kampanye sistematis kekerasan terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine barat.

Ziaur Rahman, seorang Rohingya penarik becak, mengatakan banyak orang yang tinggal di kamp-kamp tidak memiliki uang. Rahman mengatakan kepada Al Jazeera, dia menyumbang uang untuk membantu mereka bertahan hidup. Sejumlah pengungsi yang mampu menyewa rumah penduduk setempat.
***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru