Monday, November 11, 2019
Home > Cerita > Dia melangkah Pergi  Cerpen : Andi Dasmawati

Dia melangkah Pergi  Cerpen : Andi Dasmawati

Ilustrasi - Ia melangkah pergi. (nonapelangi.blogspot.com)

Koridor panjang dengan dinding berlapis wallpaper berwarna krem dan coklat menggaungkan kesunyian. Matahari telah lama tenggelam. Alin menekan lift menuju lantai dasar.

Kantor tempatnya bekerja memang seperti tidak pernah tidur. Satpam berseragam biru gelap berjaga sepanjang waktu, selama masih ada pegawai yang bekerja di gedung. Pekerja di sini tidak perlu takut akan malam. Tak perlu gentar dari siluet hitam yang samar-samar melintas secepat kilat.

Jakarta mulai basah. Hujan semalam membuat rerumputan dan embun berpesta riang. Kemarau memang terlalu panjang hingga mengeringkan segala macam bunga dan dedaunan kecil nan ringkih. Di sela berbagai pekerjaan yang bertumpuk, terkadang  Alin memiliki sisa waktu untuk menyirami tanaman di sekitar rumahnya.  Itupun dengan menghemat air seperti pesan ibunya saat kemarau tiba.

Gadis putih berparas sangat manis itu tiba-tiba mengingat penelitian sahabatnya saat masih menjadi anak kampus dulu. Katanya, bila sumber air tidak dikelola dengan baik, dalam sepuluh tahun ke depan sumber kehidupan itu akan punah. Alin bergidik sendiri,  “sehari saja air di rumah tidak mengalir, stressnya sampai ke ujung kaki.” Apalagi kalau sampai hilang sama sekali, kata batinnya sambil bergumam.  Mobil yang menjemputnya sudah tiba, dia membuka pintu kendaraan itu dan duduk bersandar.

Sendirian di jok belakang, ingatannya bermain tak tentu arah. Percakapan tadi siang dengan sahabatnya memenuhi kepalanya.  Namanya juga ibu-ibu muda masa kini, topik pembicaraan  tidak jauh-jauh dari make-up, pekerjaan, dan keluarga.

“Bawa blush-on nggak? Aku lupa.” Alin mengangkat pandangannya melewati deretan komputer di meja yang berjajar rapi.  Suaranya dikeraskan. Berharap Aya yang lagi asik dengan ponsel mendengar perkataannya.

“Nggak. Aku tinggal di mobil semua perlengkapan make-up.  Repot bawanya.” Aya tertawa sambil memandang Alin.  Ia sedang sibuk menyapukan mascara pada bulu matanya.

“Ya sudah. Pakai parfume aja biar semerbak mewangi,” ujar Alin tersenyum.

Meja kerjanya memang ikut-ikutan bersuasana manis seperti pemiliknya. Nuansa merah jambu bertebaran. Boneka, kotak tissue, tempat pulpen, dan hampir semuanya.  Kecuali tentu saja, kertas-kertas kerja yang tetap setia berwarna putih.

Alin orang yang menyenangkan.  Pembawaannya gembira, religious karena hampir tidak pernah absen beribadah, dan penuh warna. Ia akan menyapa semua orang dengan ramah. Senyumnya selalu tampak meski dari jauh. Tulus, langsung dari dalam hati. Saat pertama kali Aya diterima bekerja di tempat yang sama, Alin datang menyapanya di ruang tunggu kantor.  Kursi empuk berwarna cokelat pudar ikut mendengarkan percakapan mereka.

“Menunggu siapa, Mbak?” sapa Alin mendekati Aya dan menjulurkan tangan untuk bersalaman. Setelan merah muda membalutnya dengan anggun.

“Orang dari SDM.  Saya ditempatkan di sana,” jawab Aya.  Percakapan itu terhenti di situ.  Masih kaku, masih baru kenal.  Tapi suasana jadi cair,  keduanya berpisah setelah saling senyum. Mereka akhirnya kemudian berteman baik.

**

Di balik sikap cerianya, setelah berteman lama barulah Aya mengetahui rahasia kehidupan Alin.  Tak pernah tergambar di wajah Alin, cerita hidupnya berbanding terbalik dari semua ekspresinya. Masa lalu percintaannya terpatri di Pulau Dewata. Bali dengan segala keindahannya. Semilir angin laut, debur ombak, harum bunga kamboja yang terselip di antara helai rambut, dan jejeran kembang kertas di sepanjang jalan beraspal mulus.

Pernikahannya yang diawali dengan penuh harapan bahagia, akhirnya kandas. Lelaki gagah yang menyuntingnya, ternyata ringan tangan. Meski romantis dan penuh permintaan maaf setelah memukulinya, hati Alin membeku. Memar di sekujur tubuh, lebam di mata, tak lagi mampu ditutupi. Lalu pada suatu hari, lewat tengah malam, Alin memutuskan untuk bersikap. Enough is enough. Sudah cukup dia menderita.

Dia memililih untuk berlari menjauh. Meninggalkan rumah kenangan, membawa kedua anaknya yang masih belum genap berusia 5 tahun,  menuju stasiun bus. Dia tidak berpikir kemana, tapi yang jelas harus lepas dari singa yang setiap saat siap menerkamnya. Dia bertolak menuju Surabaya.

Tangisnya pecah di antara derai hujan. Anaknya tertidur pulas. Koper hitam tergeletak di ujung kaki. Inikah pernikahan yang dulu menjanjikan bahagia? Alin mencintai lelaki itu. Telah diberikannya seluruh hati untuk menepati ikrar suci perkawinan.  Dewa memang tak sepenuhnya salah. Lelaki itu penuh romantisme. Perawakannya tinggi besar. Tipikal lelaki pelindung yang dirindukan banyak wanita. Tapi itu hanya penampakan luarnya. Emosinya sangat mudah tersulut. Bahkan untuk hal-hal paling tidak penting di dunia.

Alin mengingat peristiwa yangmembuatnya tidak lagi mampu memberi maaf. Sebuah kejadian yang semula hanya sederhana.

“Belikan martabak di ujung jalan, ya,” kata Dewa meletakkan lembaran rupiah di meja makan.

“Maunya yang rasa apa,” kata Alin. Dia lalu bergegas menyambar pashmina lebar dan mengalungkannya di leher.

“Rasa keju cokelat,” jawab Dewa melanjutkan pekerjaannya. Menyapu-nyapukan kuas di  atas kanvas. Dia sedang melukis sebuah wajah, pesanan pelanggan. Senyum Monalisa di sketsa itu terlihat getir.

Malam itu tanpa disangka, hujan turun menghiasi malam. Jalanan gelap, petir, sunyi membaur satu. Setelah menggenggam plastik makanan pesanan suaminya, Alin memilih berteduh agar tidak basah kuyup. Dia tidak membawa payung. Cucuran tangis langit makin deras. Kaki Alin mulai menggigil kedinginan. Air memang telah meluber ke jalan raya. Tidak tinggi tapi cukup untuk menghalanginya berjalan pulang.

Alin menghabiskan waktu melebihi ekspektasi Dewa. Martabak manis itu tidak lagi menggugah rasa lapar. Derik pagar terdengar aneh. Dewa telah menunggu dengan wajah merah padam. Alin bergidik. Nalurinya membisikkan untuk diam. Lidahnya sudah terlanjur kelu.

“Lama amat? Ke mana aja?” Dewa menyambutnya dengan tamparan keras. Kepala Alin berdengung. “

“Alin mampir berteduh. Hujan deras,” jawab Alin. Air matanya tak menetes. Sudah biasa meski belum kebal.

“Alasan saja kamu!” Dewa meraihnya kemudian membenturkan kepala Alin ke dinding.

Jarum jam serasa berhenti berdetak. Emosi lelaki itu tak lagi bisa  dikontrol. Teriakannya menggema ke seantero ruang. Hasilnya tidak segera terlihat. Lebam masih bersembunyi, kesedihan belum mampu menggantikan rasa takut.

***

Sikap Dewa seperti itu bukan pertama. Sudah berkali-kali Alin mengalaminya, namun dia menerima semua perlakuan suaminya itu. Ketaatan pada agama yang dianutnya, pesan almarhum ibunya untuk selalu menaati suami, membuat Alin kuat.

Ia kadang berpikir di antara rasa sakit yang mendera. “Mungkin ini cobaan biar aku semakin kuat.” Dia mencoba memakluminya, tapi kian lama dia merasa ada yang ganjil, tidak wajar untuk sebuah ikatan perkawinan yang didasari cinta. Atas kemauan mereka berdua.

Keikhlasan ternyata tak pernah mudah. Kesabaran yang menjadi modal kekuatan Alin mulai luruh.

Ia memiliki karir,  dan bila memandang kaca meja rias, bayangnya memantulkan sosok menawan.  Perawakannya yang mungil membuat umurnya mundur bertahun-tahun.  Di usia dua puluh tujuh tahun, Alin bagai gadis muda nan energik. Lelaki tak akan memalingkan wajah saat ia melintas. Berpikir seperti itu, Alin mulai menangis.

Keputusannya untuk berpisah, dan akhirnya tiba di rumah keluarganya di Jakarta. Mencari pekerjaan, memulai dari bawah, tetapi tidak terlalu sulit karena ijazah sarjana yang semula dia simpan karena menjadi ibu rumah tangga, bisa membawanya menjadi pegawai. Dia memulai lagi hidup baru, bersama dua anak yang meski sulit diberi pengertian tokh akhirnya faham pilihan ibunya.

Setiap sore ketika hari mulai gelap, malam datang, ingatan lama kembali mengurungnya, menggerogoti semangatnya. Membuat hatinya kadang pedih. Mengapa setiap kebaikan yang kuberikan berbuah penderitaan, air susu dibalas air tuba? Apa salahku? Akh, buat apa dipikirkan, kata hati yang lain. Tapi perdebatan batin inilah yang membuatnya hingga kini belum berani berumah tangga lagi.

**

Kopi di gelas telah kehilangan kehangatan. Sinar terang dari lampu gedung perkantoran di sepanjang Jalan Sudirman, lampu-lampu jalan dan reklame menerobos gelap malam.

Warung kopi gaya Amerika agak sepi mungkin karena maghrib. Mungkin karena ada hati terluka. Alin melangkah ke luar dan menatap langit. Belahan jiwa, di mana dirimu? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru