Sunday, November 17, 2019
Home > Cerita > Di Simpang Jalan, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Di Simpang Jalan, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

“Maaf jika saya mengganggu. Sekali lagi maaf. Tapi saya tidak sabar melihat anda duduk diam dari waktu kewaktudengan wajah sedih begitu. Pulau Maratua begitu indah, penuh pesona. Kenapa tidak anda nikmati?”

Saya coba mengangkat wajah, malas, berusaha meneyilidiki apa maunya perempuan ini?

“Saya perhatikan beberapa hari ini anda menghabiskan waktu di bangku panjang ini, tanpa berkata-kata. Hanya memandang ke laut lepas. Padahal di sana banyak yang bisa dinikmati. Pemandangan bawah laut yang indah. Ada kumpulan kura-kura hijau yang langka, ikan berbagai jenis. Apa sih yang anda pikirkan.”

Perempuan dengan logat melayu ini sepertinya semakin berani. Siapa dia? Apa maunya? Apa urusan saya dengan dia, toh saya tak mengganggunya. Saya mau bengong kek, mau memandang laut kek, gak ada urusan.

“Ya, tak ada urusan dengan saya. Tapi saya kasihan melihat anda membuang-membuang umur dengan bengong. Banyak yang bisa dikerjakan,  menikmati keindahan Pulau Maratua. Sayang kan anda datang jauh-jauh.”  Dia seolah-oleh bisa membaca kata batin saya. Padahal saya bicara dalam hati, tanpa kata.

“Ayo turut saya. Mari kita gabung dengan teman-teman,” ajaknya.

Sebetulnya saya tidak sengaja datang ke Pulau Maratua yang masuk dalam gugus Kepulauan Derawan, di Kalimantan Timur ini. Bagi banyak orang mungkin Pulau Maratua yang katanya memiliki keindahan hamparan laut biru, serta pemandangan bawah laut yang memukau, merupakan suatu hikmah. Tapi bagi saya tidak.

Telah tiga hari saya berada di Pulau Maratua, saya hanya duduk menyendiri di sebuah bangku panjang di teras penginapan. Paling saya jalan sekejap di pantai dengan pasir putihnya. Saya  datang diajak sejumlah teman yang ingin berlibur ke pulau terluar Indonesia yang berada di perairan Sulawesi, berdekatan dengan perbatasan Malaysia ini.

Pulau Maratua dikatakan masih perawan, belum banyak dikunjungi, dan cocok bagi yang ingin berbulan madu atau sekadar menikmati keindahan laut tanpa ingar-bingar. Atau mampu mengobati duka lara, hati yang luka, menyembuhkan kesedihan mendalam.

“Dari pada bersedih gak karuan di Jakarta, lebih baik ikut kami ke Pulau Maratua. Saya yakin Maratua akan mampu mengubah mu, kembali hadir sebagai manusia baru, laki-laki gagah berani yang tak pernah kenal menyerah,” kata Bobby sahabat saya.

Karena desakan sejumlah teman lainnya, jadilah saya ikut ke Pulau Maratua. Saya dan teman-teman melakukan peprjalanan panjang. Kami menuju Balikpapan. Dari sana melanjutkan perjalanan menuju Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Kami menginap semalam di Tanjung Redeb dan paginya  dengan menggunakan speedboat bertolak ke  Pulau Maratua.

Perjalanan dari Tanjung Redep ke Pulau Maratua memakan waktu tiga jam. Saat melintasi Sungai Segah yang amat luas, yang di pinggirnya terdapat hangar-hanggar kapal pengangkut kayu dan batu bara, perjalanan terasa masih nyaman, karena gelombang tak begitu terasa. Tetapi begitu memasuki laut lepas, badan sering dihempaskan boat yang memecah gelombang, mengundang mabuk laut. Membuat hati dan pikiran saya yang sudah remuk dan kacau makin tidak karuan.

***

“Kenapa anda bercerai? Berani-beraninya punya istri dua, tapi tidak mampu menguasainya. Laki-laki macam apa anda ini?”

Wah, dari mana lagi perempuan ini tahu masalah saya?

Saya tersinggung. Tapi, bicaranya yang blak-blakan, ceplas ceplos lama-lama saya pikir percuma didebat. Dia bicara sekenanya, tanpa berpikir menyinggung lawan bicara atau tidak. Setidaknya seperti dia bicara pada saya saat ini.

Mobil yang dikendarinya tiba-tiba berbelok tajam ke kanan. Masuk jalan lebih kecil, perkebunan kelapa.

“Mau ke mana kita?,” tanya saya.

“Tenang saja. Pokoknya duduk manis saja,” katanya.

Ternyata kami menuju Maratua Paradise Resort. Resort ini terlihat wah, selain memiliki dermaga sendiri, bangunan dengan tiang-tiang penyangga yang kokoh posisinya langsung berhadapan dengan laut lepas. Selain ada yang berdiri di darat, sejumlah kamar ada di  bibir laut.

Saya dan wanita asal Ipoh, Malaysia beranama Adelia ini berjalan menyusuri jembatan papan yang menghubungkan pantai dengan kamar dan ruang-ruang yang ada di resort. Tiba-tiba saja beberapa orang bertepuk tangan. Ada apa? Rupanya mereka adalah teman-teman saya yang berkumpul di bawah-bawah payung di depan restoran.

“Akhirnya orang paling menderita di dunia menyerah juga. Mau ke luar dari sarangnya. Hebat, hebat anda Adel,” kata sahabatku Bobby.

Adel berbelok ke kanan, menuju sebuah kamar. Saya langsung terus menghampiri teman-teman, yang telah siap dengan masker dan snorkel. Salah seorang teman, Adib, menyerahkan alat yang sama pada saya.

“Kita hari ini akan melakukan snorkeling,” kata Bobby.

Adel pun datang. Dia telah berganti kostum, mengenakan baju renang khusus, bercelana panjang, baju berlengan panjang, di balut kain batik. Penampilan Adel begitu kontras dengan beberapa gadis atau perempuan dengan pakaian renang minim, berbikini yang menonjolkan lekuk dan mulusnya kulit mereka. Saya mulai kagum pada Adel, yang menjaga aurat sebagaimana mestinya. Bukannya pamer tubuh seperti kebanyakan perempuan yang merasa dandanan dan pakaian mereka modern.

“Kita akan melakukan skin daiving atau selam permukaan dekat-dekat sini saja. Kita dapat menyaksikan keindahan laut dari atas permukaan,” kata Adelia.

“Khusus untuk Abdillah Farid Abqari,” nanti saat skin daiving jangan jauh-jauh dari saya. Anda masih labil, nanti terjadi apa-apa,” kata Adel sambil menunjuk ke arah saya.

Apa maksudnya? Mau mempermalukan saya atau ada maksud lain. Memanggil nama saya pake nama lengkap lagi. Tau dari mana dia nama saya?

“Memang saya anak-anak,” kata saya. Belum lagi selesai perkataan, dia kembali berkata…

“Nggak ada yang tahu kan, nama kawan kita ini punya arti khusus. Abdillah Farid Abqari dalam masyarakat TimurTengah artinya Hamba Allah yang istimewa dan pintar.” Ucapannya langsung disambut tepuk tangan teman-teman.

Pulau Maratua ternyata benar-benar eksotis. Biru dan jernihnya air laut membuat kami dapat melihat jelas ribuan ikan dan terumbu karang tanpa halangan.

“Maratua bagai paradise. Pecahan sorga yang jatuh di wilayah ini. Para penyelam dimanjakan, menikmati pemandang bawah laut. Senja di Maratua pun memberikan efek luar biasa,  hening ditingkahi deburan ombak. Kesempatan menyaksikan sunset memunculkan sensasi wah dan wah,” kata Adel.

“Besok pagi kita ke Pulau Kakaban. Danau yang bertabur ubur-ubur tanpa sengat yang hanya bisa kalian temui di dua tempat di dunia. Di Pulau Kakaban, di Indonesia, atau di Pulau Palau, gugus Kepulauan Mikronesia, Samudra Pasifik,” kata Adel lagi.

***

Adelia adalah seorang pemandu wisata yang handal dalam tugasnya. Dia mampu menjelaskan semua seluk beluk tentang tempat-tempat wisata. Dia cerdas, mampu membawa diri, tidak norak, tidak hanya mengumbar senyum untuk menarik mangsa, namun berkepala kosong. Adelia wanita sempurna. Tidak sibuk mencari perhatian, namun keanggunannya menjadi perhatian.

“Andai saja…,”

Belum selesai lamunan saya Adel mencolek saya…

“Nah, nah.. Ngelamun lagi kan. Gak usah pikirkan masa lalu. Tataplah masa depan penuh keyakinan. Buktikan anda masih ada, masih berguna…,” katanya. Teman-teman lain menanggapinya dengan senyum-seyum.

Pertemuan saya dengan Adelia sudah dua bulan berlalu. Wajahnya kerap terlintas dalam pikiran. Seperti saat ini ketika saya berada di sekitar Air Terjun di Lembah Anai, wilayah yang berada menjelang Padang Panjang, jika kita datang dari arah Padang. Salah satu wisata di Sumatera Barat yang oleh masyarakat Minang disebut sebagai Air Mancur itu sepertinya mendekatkan ingatan saya pada Adel.

“Dimana kau Adel? Masihkah kau ingat saya?”

Beberapa hari terakhir saya memang senang berkunjung ke Air Terjun Lembah Anai. Selain duduk-duduk di atas batu, di dasar air terjun, saya juga senang berada di rel kereta api yang melintas di pinggang tebing Air Terjun. Saya tertarik berada di tempat itu, karena saya kerap melihat gambar rel yang melingkar meliwati Air Mancur, yang dipanjang di kalender.

Saya juga sudah menikmati Ngarai Sianok, di Bukit Tinggi, tempat yang ketika masih kecil pernah saya datangi. Saya juga sudah berkunjung ke “Tembok China” di Bukit Tinggi, tempat wisata yang dirancang mirip Tembok China di China sana. Saya pun sudah pergi ke Kelok Sembilan.

Kelok Sembilan adalah jalan berkelok-kelok, dengan tikungan patah-patah. Berada di ruas Jorong Aie Putiah, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limopuluah Koto, Sumatera Barat. Kini jalan yang telah dibangun bertingkat, berbentuk jembatan layang,  30 km sebelah timur Kota Payakumbuah menuju Riau itu, menjadi salah satu pusat wisata. Di atas jembatan layang   pelancong kerap berfoto ria, selain menikmati keindahan alam sekitar.

Saya teringat ucapan Adelia; “Alam itu untuk dinikmati, bukannya dirusak karena nafsu keserakahan.”

“Seperti halnya wanita. Kecantikan dan keindahannya adalah untuk dinikmati, bukannya membuat anda sakit hati karena kelakuannya,” katanya lagi. Saya tidak tahu ke mana arah pembicaraannya, mungkin menyindir.

Ya, dimana Adelia saat ini. Saya yakin, jika dia sempat  berkunjung ke Kelok Sembilan, Air Terjun di Lembah Anai, Ngarai Sianok, Pantai Gandoria dan Pulau Angso Duo di Pariaman, atau Pantai Malin Kundang di Muaro, Padang,  juga Danau Maninjau, pasti dia tak putus-putusnya berdecak kagum. Saya yakin, dia akan berucap beautiful berulang-ulang, seperti kerap terlontar dari mulutnya ketika mengagumi kekayaan dan keindahan alam raya.

Tanpa saya sadari Adelia kini menjadi penghuni baru dalam hati dan pikiran saya, menggantikan dua wanita, mantan istri, yang memutuskan minta cerai. Kerinduan, ingin ketemu lagi, ingin berjalan  bergandengan, kerap muncul. Apakah saya jatuh cinta? Itulah yang saya takutkan. Setelah gagal menjalani kehidupan berkeluarga dengan dua istri, saya tak ingin mengalami kekecewaan lagi. Saya takut.

Tapi Adelia begitu lembut. Lain dari wanita lain yang pernah saya kenal.

“Suatu saat kita jumpa lagi. Abang, eh anda masih ingin ketemu Adel kan?,” katanya ketika kami hari terakhir berwisata di Pulau Kakaban, tak jauh dari Pulau Maratua, sebelum esoknya saya dan teman-teman kembali ke Jakarta.

Berjalan berdampingan dengan Adelia meninggalkan kesan mendalam di hati saya. Saya menyesal kenapa saya tak mengenal Adel sejak hari pertama berada di Pulau Maratua. Saya sama sekali tidak merasa lelah ketika kami menuju Danau Kakaban, meski begitu turun di hanggar kami harus menapaki tangga cukup panjang, kemudian menurun, sebelum akhirnya sampai di Danau Kakaban yang memukau tersebut.

Pulau Kakaban dengan luas 774,2 hektar ini  masih perawan. Salah satu pulau dari 31 pulau di gugusan Kepulauan Derawan, Kaltim itu, dalam hal luas berada di posisi ke empat setelah Pulau Derawan, Maratua, dan Sangalaki. Untuk menuju Pulau Kakaban, dari Pulau Maratua kami menumpang speedboat.

Suatu hal yang istimewa menjadi daya tarik Kakaban adalah keberadaan ubur-ubur tanpa sengat. Di dunia hanya dapat ditemui di dua tempat,  di Danau Kakaban atau di Pulau Palau, Kepulauan Mikronesia, Samudra Pasifik. Dalam hal jumlah, Kakaban memiliki lebih banyak ubur-ubur.

***

“Dimana Adelia saat ini?,” hati ini terus bertanya-tanya. Saya merasa sedang berada di simpang jalan. Satu jalan yang telah saya lalui dan telah berakhir dengan kesedihan, perpisahan, dan satu jalan baru terbentang,  mengikuti langkah Adelia.

Keingintahuan dan rasa takut kerap bergejolak dalam dada. Saya takut bila benar-benar jatuh cinta lagi. Kehancuran rumah tangga dengan dua istri meninggalkan trauma. Sakit hati, rindu, dan benci bercampur jadi satu. Usaha melupakan semua derita tak kunjung berhasil.

Kedua istri memutuskan minta cerai, dengan alasan hubungan kami tidak harmonis lagi. Kami telah berbulan-bulan tidak tidur sekamar, pisah ranjang. Anak-anak, 3 dari istri pertama yang asal Cirebon, Jawa Barat, dan 2 dari istri kedua yang asal Padang, Sumatera Barat, tak peduli. Mereka menyerahkan pada kami, terus atau cerai.

Anak-anak yang sudah duduk di bangku SMU, SLTP, menyatakan tak ingin terlibat dengan masalah kami.

Telapak kaki, betis, lutut, dan paha yang bengkak bak penyakit biri-biri. Menjadi alasan bagi istri pertama untuk tidak mau lagi berhubungan suami istri.

“Sakit. Saya sudah tua. Tidak nafsu lagi,” katanya.

Saya pun tidak begitu tertarik, karena terowongan yang kerap kami lalui selama ini tidak lagi menimbulkan sensasi, dikotori ceceran tanah kapur. Dua gunung kapur tempat favorit kami menikmati alam pun telah longsor,  hampir rata dengan alam sekitar. Mungkin karena kami sudah sama-sama berumur, usia kami hanya terpaut beberapa bulan saja.

Wajah dan tubuhnya memang sudah banyak dihiasi garis-garis ketuaan, bahkan keriput di mana-mana. Wajah telah dihiasai gurat-gurat kulit yang tak lagi kencang. Perut sudah berlipat-lipat. Bila hendak berangkat kerja, bedak dibuat tebal, wajah dipoles sedemikian rupa, agar garis-garis ketuaan bisa ditutupi.

Sementara istri kedua, meski usianya 7 tahun di bawah usia saya, selalu memberi alasan kecapean setelah seharian mengawasi restoran. Alasannya, dia kerja keras untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak, karena suami tak lagi memiliki pendapatan cukup.

Kedua istri tak ingin meneruskan bahtera rumah tangga. Baik istri pertama yang pegawai swasta dan memiliki usaha rumahan pabrik tahu dan tempe, mapun istri kedua yang telah memiliki usaha restoran Padang. Usaha kedua istri itu awalnya dibangun dengan modal dari saya. Tapi setelah sukses, keduanya tak mengakui dalam usaha itu ada peran saya.

Saya tak pernah membayangkan perpecahan, perpisahan, perceraian saya dengan kedua istri akan terjadi. Tak pernah terbetik sedikitpun. Apalagi awal saya memutuskan beristri dua, kedua istri saya dapat menerimanya.

“Bagi laki-laki Padang, jika belum memiliki istri asal kampung sendiri, dia dianggap belum sempurna. Belum lengkap,” kata saya kepada istri pertama yang asal Cirebon suatu waktu.

Semula dia tidak dapat menerima alasan itu. Tapi ketika dia bertanya kepada paman saya yang datang dari Padang, dia sepertinya mulai dapat memahaminya.

“Bagi laki-laki Minangkabau, beristrikan bukan orang Minang dianggap belum sempurna. Lagi pula, untuk orang Minang, apalagi asal Pariaman, beristri lebih dari satu  merupakan hal biasa dan kebannggan,” kata paman saya.

“Di Pariaman itu ada laki-laki terhormat dengan gelar kelas satu, darah biru kalau di Jawa. Sutan, Sidi, dan Bagindo. Nah mereka itu jadi rebutan bagi wanita-wanita di lingkuangannya, karena dianggap merupakan bibit unggul,” katanya lagi.

Kepada saya paman juga sering mengatakan; “Sebagai laki-laki terhormat, laki-laki Pariaman, harusnya kau memiliki istri lebih dari satu. Mungkin dua, tiga, atau empat. Apalagi kau memiliki kemampuan, memiliki usaha yang mapan. Itu kebanggaan,” ujarnya.

Yang pasti sejak kehadiran paman, istri pertama  saya mulai memberi angin. Dan tak sampai setahun kemudian, ketika saya pulang kampung, seseorang memperkenalkan saya dengan seorang gadis. Tanpa pikir panjang, saya pun menerima tawaran menikahi gadis itu sebagai istri kedua.

***

Tiba-tiba saya ingat sesuatu di dalam dompet. Saya merogoh kantong belakang celana bagian kiri. Saya tarik dompet, lalu membuka resleting di salah satu sisinya. Saya mengeluarkan dua cincin, cincin kawin yang dikembalikan oleh istri pertama dan kedua.

Menurut petugas di pengadilan agama, ketika kami dinyatakan resmi cerai, sang istri harus mengembalikan mahar. Istri pertama saya yang mengajukan khuluk atau gugatan cerai ke pengadilan agama diharuskan mengembalikan  mahar. Saya setujui cukup cincin saja yang dikembalikan, sementara mahar berbentuk uang dan lainnya saya hibahkan. Hal sama terjadi saat istri kedua menggungat cerai tak lama berselang.

Sebetulnya saja masih ingin memertahankan keutuhan rumahtangga, karena dalam Sabda Rasullulah disebutkan; “Wanita manapun yang meminta cerai dari suaminya tanpa ada alasan (yg dibenarkan), haram mencium bau surga.” (HR Ahmad). Namun apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur.

Jadilah saya sebatang kara, tinggal di rumah kost, di sebuah gang di kawasan Mampang,  Kebayoran Baru. Saya sudah bertekad, ini hanya untuk sementara. Saya akan pulang kampung, memulai hidup dan usaha baru. Tapi kenapa akhir-akhir ini saya selalu ingat Adelia? Apakah ini akan menjadi bencana baru?

Saat saya berada di atas sebuah batu besar di Air Terjun Lembah Anai, saya melirik kekedua cincin kawin yang ada di telapak tangan. Saya memandang air yang mengucur deras menghujam ke lubuk yang jernih. Saya kemudian mengayunkan tangan, melempar kedua cincin itu. Tampak berkilau sekelabat, lalu menghilang ke lubuk yang dalam.

“Selamat tinggal semua. Lupakan masa lalu, tatap dan tegapkan langkah meniti masa depan,” kata saya. Saya kemudian mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi, tak peduli ada ada memandang heran.

“Saya harus menjadi orang baru,” kata saya, lalu membusungkan dada dan balik kanan. Tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada sosok, seorang wanita yang sudah sangat saya kenal, Adelia. Di belakangnya berdiri Murniati, keponakan saya. Ada juga Lazuardi, sopir keluaurga Mande Masitoh, ibu Murniati, seorang lagi tidak saya kenal, perempuan berkebaya mirip Adelia.

Adelia tersenyum. Senyum yang amat manis yang pernah saya lihat.

Saya teringat ucapan paman; “Laki-laki itu tak boleh hanya terpaut pada satu atau dua wanita. Jangan pernah mengemis pada seorang wanita, karena wanita itu berasal dari salah satu tulang rusuk laki-laki. Hilang satu akan muncul seribu.”

“Apa Adelia mau dimadu?,” pikirku. Ah pikiran ini koq masih ingat tentang poligami.

Adelia tampak tersenyum. Lalu menyorongkan tangannya, siap membantu saya turun dari batu besar tempat saya berada .

“Kita jumpa lagi,” katanya.

“Apakah masih ingat dua mantan istrimu,” katanya menggoda.***

 

Bekasi, November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru