Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Cerita Bale-Bale > Delusi Ekonometrika Oleh M Yudhie Haryono *)

Delusi Ekonometrika Oleh M Yudhie Haryono *)

Prof M Yudhie Haryono, M.Si, Ph.D. (tabloidinfoku.bs)

Teman-teman semua. Kini, izinkan saya bercerita apa yang sudah kalian tahu tapi terlupa. Tentang filosofi angka. Hal purba yang kita abaikan karena alpa dan terbatasnya nalar ingatan. Juga karena banjir dan delusi ekonometrika. Ilmu yang mencabut nyawa filsafat dari ekonomi.

Ekonometrika adalah ilmu yang membahas pengukuran hubungan ekonomi yang mencakup teori ekonomi, matematika, dan statistika dalam satu kesatuan sistem yang bulat, menjadi ilmu yang berdiri sendiri.

Singkatnya, ekonometrika adalah anak dari percampuran ekonomi, statistik dan matematika. Karena itu, fungsi utama ekonometrika digunakan sebagai alat analisis ekonomi yang bertujuan untuk menguji kebenaran teorama-teorama teori ekonomi yang berupa hubungan antarvariabel ekonomi dengan data empirik.

Teorama-teorama yang bersifat apriori pada ilmu ekonomi dinyatakan terlebih dahulu dalam bentuk matematik sehingga dapat dilakukan pengujian terhadapnya. Bentuk matematik teorama ekonomi ini disebut model.

Pembuatan model ekonometri, pembuatan prediksi (peramalan atau forecasting) dan pembuatan berbagai keputusan alternatif yang bersifat kuantitatif adalah hasil ekonometrika yang dapat mempermudah para pengambil keputusan untuk menentukan pilihan.

Dalam ekonometrika ada analisis regresi yang digunakan untuk mengetahui kaitan antara satu variabel dengan variabel lain. Berdasarkan data yang digunakan, ekonometrika dibagi menjadi tiga analisis, yaitu analisis runtun waktu (time series), antar-wilayah (cross section), dan analisis data panel.

Analisis runtun waktu menjelaskan mengenai perilaku suatu variabel sepanjang beberapa waktu berturut-turut. Analisis antar-wilayah menjelaskan antara beberapa daerah dalam satu waktu tertentu (snapshot). Sementara itu analisis data panel menggabungkan antara data runtun waktu dengan data antar-wilayah.

Tetapi, “dosa” utama ekonometrika terhadap manusia adalah membuat orang memuja dan mengejar angka. Padahal, angka tiada habisnya. Ia bagai usaha menggarami lautan. Dus, ajaran angka ini “menghancurkan” kebijaksanaan dan filosofi kehidupan. Akibatnya kering makna. Padahal, hidup tak sekedar memburu angka, harta dan tahta. Tidak percaya? Mari kita lihat.

Pagi ini, kita bicara soal konstanta plus (+) dan konstanta minus (-). Dalam sejarahnya, tanda plus dimaknai
kebenaran (benar). Sedang tanda minus dimaknai kesalahan (salah). Selanjutnya adalah, mari kita jawab pertanyaan2 berikut ini.

1) Mengapa plus dikali plus hasilnya plus?
2) Mengapa minus dikali plus atau sebaliknya plus dikali minus hasilnya minus?
3) Mengapa minus dikali minus hasilnya plus?

Begini jawabannya. Karena plus (+) adalah konstanta benar. Sedang minus (-) adalah konstanta salah. Sehingga:
1) Mengatakan benar terhadap yang benar adalah tindakan benar. Rumus matematikanya (+ x + = +).
2) Mengatakan benar terhadap yang salah, atau sebaliknya mengatakan salah terhadap yang benar adalah tindakan salah. Rumus matematikanya (+ x – = –) dan (– x + = –).
3) Mengatakan salah terhadap yang salah adalah tindakan benar. Rumus matematikanya (– x – = +).

Jadi, kebenaran dan kesalahan itu konstan (tetap), tidak berubah kapan pun dan di manapun serta oleh siapapun plus dlm kondisi apapun. Kita bisa memanipulasinya, tapi Tuhan Sang Pencipta, alam raya dan orang jenius tahu mengenai hal itu.

Mereka tak bisa dibohongi. Singkatnya, pelajaran angka (sebelum ditunggangi kaum neoliberalis) ternyata sarat makna dan bisa kita ambil sebagai pelajaran kehidupan, bagi yang mau belajar kearifan, kejujuran dan revolusi.

***

(Profesor M Yudhie Haryono adalah guru besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Direktur Eksekutif Nusantara Centre)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru