Monday, November 12, 2018
Home > Berita > “Debu di atas Debu” 10 bahasa dibaca dan diluncurkan di Aula Terapung UI

“Debu di atas Debu” 10 bahasa dibaca dan diluncurkan di Aula Terapung UI

Taufik Ismail dan bukunya. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – “Debu di Atas Debu” karya Taufik Ismail yang sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa, dibacakan bergantian oleh pada mahasiswa sekaligus menandai peluncuran buku hebat itu di Aula Terapung  Perpustakaan UI Depok.

Acara padat sepanjang sekitar tiga jam itu, diisi dengan diskusi sastra, pembacaan dan musikalisasi puisi, sementara Taufik Ismail membacakan beberapa karyanya dengan suara lantang, mendayu, terkadang mendesah, di tengah suasana hening pada acara yang disaksikan pada mahasiswa, dosen dan beberapa tokoh sastra pada Selasa siang itu.

Penyair bergelar  dokter hewan, yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 25 Juni 1935 (kini 83 tahun) itu, memilih sebanyak 263 judul puisi dalam Debu di Atas Debu, merupakan karyanya dalam 60 tahun, diawali dengan Doa Dalam Lagu yang ditulisnya pada 1953.

Kumpulan puisi itu ditutup dengan Masih Adakah Kiranya Harapan? Ditulis pada 2005-2011. Debu di Atas Debu sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa, di antaranya Inggris, Arab, Jepang, Korea, Persia, Rusia, Bosnia, Prancis, Belanda, Jawa, dan lainnya.

Taufik Ismail bersama para mahasiswa yang membacakan karyanya dalam 10 bahasa. (arl)

Debu di Atas Debu yang diterbitkan Balai Pustaka – yang masih akan diterjemahkan ke beberapa bahasa lain termasuk Turki – dibacakan bergantian dalam 10 bahasa oleh 10 mahasiswa FIB UI pada peluncuran Selasa, disambut antusian oleh para pengunjung yang tidak beranjak hingga acara usai.

“Luar biasa, saya amat gembira berada di sini petang ini. Saya juga amat terkesan dengan pembacaan puisi saya oleh para mahasiswa. Mereka begitu menghayatinya dengan bahasa masing-masing. Terima kasih..terima kasih,” ungkap Taufik Ismail pada acara yang dihadiri beberapa tokoh itu, di antaranya sosiolog Dr Imam B Prasodjo dan sastrawan Maman S Mahayana.

Taufik Ismail membacakan karyanya di Aula Terapung Perpustakaan UI di Depok, Selasa. (arl)

Dalam sambutan buku itu, Taufik Ismail menyatakan, salah satu impian kolektif penyait di mana pun, adalah keinginan dikenalnya karya mereka dalam bahasa lain, agar lebih banyak orang manca negara yang membaca karya mereka.

“Dengan dialihbahasakannya puisi , seolah-olah puisi itu bepergian ke negara-negara di benua lain, menyeberang samudera di atas air, melewati awan di atas udara, masuk ke took buku asing, terbentang di meja rumah pribadi sepanjang empat musim dan halaman-halamannya dibaca di perpustakaan di benua yang jauh,” kata Taufik.

Presiden Direktur Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, menyatakan pada mimbar-rakyat.com, bahwa setiap buku terjemahan itu masih dicetak sebanyak 500 eksemplar. “Masih belum dijual di toko buku, mohon bersabar,” katanya.

Pada acara peluncuran Debu di Atas Debu itu, diluncurkan pula karya terjemahan Taufik Ismai – berupa alih bahasa puisi karya 160 penyair Amerika yang diberi judul Rerumputan dan Dedaunan, yang terbengkalai penerbitannya selama lebih dari 20 tahun.

“Karya penyair Amerika itu sebagian harus dibayar dan harganya amat mahal. Tidak ada penerbit yang bersedia membayarnya. Baru setelah ada bantuan dari beberapa pihak dapat diterbitkan. Itu tidak dijual. Itu merupakan pekerjaan karya,” kata Taufik.

Maman Mahayana ketika mengomentari buku setetebal lebih dari 800 halaman itu, menyatakan karya terjemahan Tufik itu amat bermanfaat dan perlu dibaca.

“Membaca Rerumputan dan Dedaunan, kita merasa seolah sedang membaca karya Taufik. Ia menerjemahkannya dengan hati.  Bahasa terjemahan puisi ini seperti karya sendiri..terasa gurih..kenyes..kenyes gitu,” kata Maman, disambut meriah para mahasiswa.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru