Friday, July 03, 2020
Home > Berita > Deblot Sundoro dan Peristiwa Tebingtinggi 13 Desember 1945

Deblot Sundoro dan Peristiwa Tebingtinggi 13 Desember 1945

Foto copy Surat Keterangan keresidenan Semarang bahwa Deblot Sundoro merupakan salah satu korban Tentara Jepang saat peristiwa berdarah 13 Desember 1945 di Tebingtinggi. (aulia)

MIMBAR-RAKYAT.com (Tebingtinggi) – Selain kota Surabaya yang terkenal dengan peristiwa 10 November, kota Tebingtinggi juga memiliki peristiwa sejarah besar, yakni tanggal 13 Desember 1945, dimana ribuan jiwa melayang menjadi korban kekejian tentara Jepang.

Salah satu korbannya adalah RM Deblot Sundoro, etua Perguruan Taman Siswa Tebingtinggi yang ke empat dan juga penerima mandat dari pemerintah pusat untuk menjadi ketua komite Nasional untuk Wilayah Tebingtinggi (ibukota keresidenan Deli Serdang).

Komite nasional adalah cikal bakal dari DPRD saat ini, dan Deblot Sundoro ketika  itu mengendalikan Tebingtinggi bersama dengan R.M. Munar Sastrohamidjoyo saat itu menjadi Bupati Keresidenan Deli Serdang.

Pada waktu itu  pemerintahan di Indonesia masa transisi kemerdekaan, walaupun Indonesia telah merdeka tetapi Jepang menggangap mereka hanya menyerah kepada Sekutu bukan kepada Indonesia.

Peristiwa 13 Desember 1945 diawali dari 10 Desember 1945, dengan adanya Walikota Medan Estate Imamura yang mau pulang ke Negeri Jepang melalui pelabuhan Teluk nibung (Tanjung Balai) menggunakan kereta api.

Imamura saat itu dikawal pasukan Jepang dengan mengunakan persenjataan lengkap, tetapi  ketika tiba di stasiun kereta api Tebingtinggi, pasukan Jepang dibajak oleh kelompok pemuda  untuk meminta senjata tentara Jepang, tetapi Jepang tidak mau menyerahkan  senjata dan terjadi negosiasi,

Tetapi karena kelompok pemuda tersebut tidak memiliki pemimpin ataupun komando (pasukan liar) maka negosiasi tidak berjalan dengan baik, sehingga Imamura diculik, tapi saat itu tidak diketahui siapa yang menculiknya secara pasti, karena disitu banyak sekali kelompok pemuda.

Ki Muhammad Ardi  (alm) menuturkan kisah sejarah Deblot Sundoro, sebelum ia meninggal dunia.  (aulia)
Ki Drs. Muhammad Ardi (alm) menuturkan kisah sejarah Deblot Sundoro, sebelum ia meninggal dunia. (aulia)

Karena hilangnya Imamura tersebut, maka 13 Desember 1945 pasukan Jepang mencari keberadaan Imamura dengan mengerahkan tank baja serta senjata  lengkap dan membunuh sekitar 2000 jiwa warga sipil  Tebingtinggi dan sekitarnya.

Tetapi dikarenakan tidak ada komando atau pimpinan pasukan kelompok Pemuda tersebut, maka kompetai (Polisi Militer Jepang) mendatangi dan menjemput paksa Deblot Sundoro yang masa itu sebagai pemegang mandat Ketua Komite untuk keresidenan Deli Serdang.

Setelah beberapa waktu kemudian didapati jenazah Deblot Sundoro di belakang Gereja Advent Tebingtinggi dan saat ditemukan kepala dan badannya telah terpisah. Yang mengenali jenazah beliau saat itu adalah Residen Deli Serdang R.M. Munar Sastrohamidjoyo dan Istri Deblod Sundoro yakni Ibu Feni Sundoro.

Mereka mengenali jenazah beliau karena ketika dijemput kompetai, Deblot Sundoro menggunakan pakaian khas bangsawan Jawa (surjan) dan tali pinggang.

Kebenaran arsip

Lalu Deblot Sundoro dimakamkan di belakang gereja advent tersebut. Untuk memperkuat bahwa Deblot Sundoro korban Keganasan Jepang, terdapat arsip dari Residen Semarang No/S.R.5/1/2 yang saat itu menjadi Residen Deli serdang R.M Munar Sastrohamidjoyo, tertanggal 25 maret 1963.

Arsip itu membenarkan Deblot Sundoro merupakan salah satu korban Jepang saat peristiwa berdarah 13 Desember 1945 di Tebingtinggi.

Berdasarkan surat keterangan dari Residen Semarang yang ditandatangani RM Munar Sastrohamidjoyo itu maka jenazah Deblot Sundoro dipindahkan dan  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tebingtinggi, sedangkan jenazah Imamura sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadaannya.

Keterangan tentang sejarah singkat peristiwa berdarah 13 Desember 1945 di Tebingtinggi ini diterangkan langsung oleh Ketua Perguruan Taman Siswa Tebingtinggi almarhum Ki Drs. Muhammad Ardi di kantornya, beberapa waktu yang lalu sebelum beliau meninggal dunia.

Ki Ardi menanggapi kejadian itu dengan  mengatakan, Pemerintah Jepang harus bertanggung jawab atas kejadian itu.

”Saya pernah meminta ke perwakilan pemerintahan Jepang untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Jepang, salah satu tanggung jawab atas kejadian ini bisa melalui pembuatan gedung pertemuan serba guna yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum dengan nama gedungnya Imamura-Deblot Sundoro.

”Ini agar masyarakat mengetahui kejadian berdarah yang mengakibatkan  pejabat Negara  Jepang dan Indonesia itu gugur, tetapi sampai saat ini belum ada realisasi dari pemerintahan jepang” Kata Ki Ardi.

”Selanjutnya gedung ini juga bisa menyimbolkan telah berdamai dan bersaudaranya  Jepang dan Indonesia atas pesitiwa 13 Desember 1945,” katany.

Apabila gedung ini dapat dibangun atas bantuan pemerintah Jepang, maka akan terlihat sejarah bahwa kejadian 13 Desember bukan hanya peristiwa  kota Tebingtinggi, tetapi peristiwa nasional, jelas Muhammad Ardi.

Sedangkan pesan untuk Pemerintah Indonesia, khusunya kota Tebingtinggi, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, Ki Muhammad Ardi menjelaskan, memang di kota Tebingtinggi sudah ada Jalan Deblot Sundoro, Taman Deblot Sundoro, sebagai salah satu cara untuk mengenang Deblot Sundoro.

Tetapi kurang publikasi sehingga banyak warga Indonesia yang tidak tahu akan kejadian yang menyebabkan gugurnya Deblot Sundoro.

”Selain dengan publikasi, apabila terealisasi pembangunan Gedung Imamura-Deblot Sundoro, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengetahui peristiwa sejarah berdarah Tebingtinggi itu,” katanya.

”Saya memohon Kepada Pemerintah kota Tebingtinggi, Deli Serdang, Serdang Bedagai agar mengawal dan membantu untuk memintakan  dan memediasi  kepada Pemerintah Jepang agar terealisasi pembangunan Gedung Imamura-Deblot  Sundoro di Tebingtinggi,” pesan Ki Muhammad Ardi.

Saat itu Ki Ardi juga menegaskan supaya Jepang dan Indonesia menutup dalam-dalam peristiwa berdarah itu agar di kemudian hari tidak ada dendam, tetapi menutup bukan berarti melupakan sejarah.

”Bila terealisasi  pembangunan gedung Imamura-Deblot Sundoro tersebut, maka akan menjadi pengingat sejarah bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat Jepang untuk kemudian hari,” tegas Ki Ardi.

Ki Aardi juga memintakan kepada Kabupaten Serdang Bedagai serta Kabupaten Deli Serdang juga memperingati hari 13 Desember, karena peristiwa 13 Desember, bukan warga Tebingtinggi saja yang menjadi korban melainkan warga sekitar Kota Tebingtingg.

”Karena saat itu Tebingtinggi merupakan Ibukota Keresidenan Deli  Serdang, sedangkan Kabupaten Serdang Bedagai saat itu masih tergabung di Keresidenan Deli Serdang.  (Aulia Zulkarnain Lubis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru